Elena menunggu. Kabar mengenai Hugo Diamond, dewa kesayangan para Dewa. Sejak semalam keluar dari wilayahnya, hingga kini ia tak mendengar lagi sesuatu, padahal seharusnya sihir pembatas yang ada di pintu masuk wilayah Hugo sudah hilang. Seharusnya wilayah tersebut sudah bisa diakses para Dewa lagi. Elena penasaran, apakah ibunya tidak mencari keberadaan Hugo? Toh, setiap pagi Hugo selalu menyirami tanaman bunganya, semua Dewa seharusnya sudah tahu.
Aneh jika tidak ada yang mencarinya, selama ini semua Dewa selalu mencari Hugo. Padahal Elena sudah tidak sabar menantikan berita kematian lelaki itu. Setelah melihat penampilan dan memastikan dirinya memukau, Elena keluar dari kamarnya dan berniat untuk berjalan-jalan di sekitaran kastil seraya menunggu Zabini, pembawa kabar. Namun yang ia temui malah Calderon, anak Dewa Hades. Lelaki itu di ujung lorong, melambai pada Elena dan menghampiri Elena.
"Elena?" sapanya.
Sesungguhnya, selain dengan Hugo, Elena cukup santai dengan Calderon. Bedanya, jika Hugo sok menjadi pahlawan, Calderon sebaliknya. Dia dewa yang jahil, nakal, cerdik dan tampan, poin terakhir tak akan pernah Elena, karena yang berbicara dengannya harus memiliki visual yang bagus, yang setara dengannya. Elena memang pilih-pilih. Di antara dewa yang lain, Calderon dan Hugo yang tak pernah menjaga image di hadapannya. Terlebih, Calderon juga memiliki mulut setajam belati, sama seperti Elena.
"Ada apa, Deron?" Elena berdiri di hadapannya, sedikit mendongak, dia benar-benar tinggi. Kalau tidak salah, lebih tinggi 5 cm dibanding Hugo.
"Sudah dengar kabar?"
Elena tersenyum dalam benak, namun ia menahan. Elena tetap memasang ekspresi datar dan tak tertarik seperti biasanya. Meski sebenarnya ia tahu kabar apa yang akan dibocorkan oleh Calderon.
"Kabar siapa? kabarmu? belum. Bagaimana kabarmu, Cald Eron?" Elena bersikap sangat natural. Ini adalah basa-basi yang biasa ia gunakan pada Calderon.
"Hei, aku tidak suka namaku jadi Cald Eron seperti itu, digabung saja." Calderon menanggapi, tak menunggu respons balik, ia mendekatkan diri da berbisik pada Elena. "Sunguh kau belum dapat kabar mengenai Hugo?"
Elena menahan reaksinya, ia menatap Calderon dan menggeleng. "Aku tidak peduli. Sedang tidak butuh dia, jadi tidak butuh mendengar kabarnya. Aku heran, mengapa semua penghuni kastil selalu menantikan kabarnya? Aku membenci hal itu, kau tahu. Aku tidak butuh kabarnya. Sekali lagi, aku tidak peduli dengannya, dengan siapapun, Aphrodite, Ares atau Zeus sekali pun."
Menarik napas dalam. Menatap kedua manik merah milik Elena, Calderon lantas mengembangkan senyumnya. "Aku pikir Zabini sudah membawakan berita ini untukmu. Hugo hilang."
Elena menjerit dalam hati. Dia menang. Dan hanya dia yang tahu di mana tubuh tak bernyawa itu berada. Rautnya masih datar, sama seperti halnya mendengar kabar jika seekor rusa telah melahirkan. Elena benar-benar menampilkan raut tak tertarik.
"Lantas apa? semua Dewa sedang mencarinya? Bagaimana jika dia ke hutan dan berbur?" Elena berdecak. "Aku heran, mereka terlalu berlebihan. Biar kutebak, Aphrodite pasti sedang menangis tersedu sedan seperti orang kehilangan kewarasan, bukan?"
"Kau benar-benar tak mencemaskan saudara tirimu, ya?"
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak peduli dengan kabar apapun kecuali kabar itu ada pengaruhnya untukku. Bahkan jika kau melahirkan seorang anak iblis pun, aku tidak peduli. Tidak ingin mencampuri urusan para dewa, terlalu melelahkan dan membuang-buang waktu."
Calderon mengangguk-angguk setuju. Ia mengikuti Elena menyusuri lorong kastil seraya terus mengobrol dengannya. "Kau benar, Elena. Mereka terlalu berlebihan dan banyak drama. Mereka bilang menjunjung tinggi persaudaraan, itu sebabnya mereka harus peduli, tetapi menuruttku mereka hanya peduli pada Hugo Diamond."
"Kau iri?" Elena menatap Calderon. Raut lelaki itu jelas menyimpan kedengkian.
"Tentu saja. Mereka terlalu pilih kasih. Bagusnya Hugo apa, sih? Kenapa mereka tidak sekalian menyembahnya saja?"
"Hei, dunia ini berada dalam kuasa Zeus. Kau menyembah selain padanya, kau akan dilemparkan ke bumi. Syukur-syukur kalau cuma begitu, kalau lehermu ditebas dan dijadikan sup menu utama makan malam, bagaimana?"
"Sial, mengerikan!"
"Aku akan mengincar otakmu, tetapi sepertinya memakan bola matamu cukup menarik, ya? Aku bosan makan daging hewan."
Calderon tak lagi membalas topik tersebut. Mereka kini sudah berada di luar kastil. "Kau mau kemana sih?"
"Aku ingin berburu, aku bosan di kamar dan bercermin. Aku tidak tega melihat bulan dan matahari iri dengan kecantikanku jika aku terus bercermin," ujar Elena dengan sangat elegan dan percaya diri.
"Wah, kau ini benar-benar, ya. Omong-omong, Dewi Aphrodite benar-benar menuruni kecantikannya padamu, ya?"
"Hei, aku lebih cantik dari pada dia." Elena menghentikan langkah, berbalik guna menatap Calderon yang berjalan di belakangnya. "Buka matamu baik-baik, perhatikan setiap inchi tubuhku mulai dari ujung rambut sampai ujung kakiku." Elena menunjuk dirinya. "Lihat, bulu mataku yang lentik, mata menawanku yang berpendar cantik dan berwarna merah. Rambut abu-abuku yang halus, lurus, wangi dan panjang. Hidungku mancung dengan cantik, bibir yang seksi, rahang serta daguku yang menahan. Leherku yang jenjang, buah dadaku yang lebih indah. Pinggulku yang ramping serta bokongku yang aduhai indah sekali, bukan? Bisakah kau perhatikan lebih baik lagi, Calderon? Manusia pun tidak ada yang seindah diriku."
Calderon melongo. Ya, meski si Elena Blezinsky ini benar-benar gadis yang narsis dan mengutamakan penampilan serta visual, tingkat kepercayaanya sudah melebihi para Dewa-Dewi, namun yang ia katakan adalah fakta. Semua yang ada pada diri Elena benar-benar menarik. "Y-ya, kau benar, sih. Tuhan benar-benar menciptakanmu sedetail itu, ya?"
Elena kembali berjalan dengan tegap, layaknya seorang gadis mandiri dan pemberani. "Tentu saja, seharusnya sejarah mengatakan Dewi tercantik di sini adalah Elena Blezinsky. Namun ya mau bagaimana, aku tetap menghormari Aphrodite, ibuku. Meski kecantikanku tak diakui secara umum, aku tetap tak ingin mengubah sejarah dan menjadi anak durhaka."
"Ya, ya, terserah, deh. Omong-omong aku ikut berburu denganmu."
Elena mengangguk, namun ia memiliki sebuah ide begitu sampai di tengah hutan. "Calderon," panggil Elena.
"Ya, kenapa?"
"Ayo bermain sesuati, kita buat perburuan kali ini jadi lebih seru." Elena mengernyih. Senyuman itu jelas membuat Calderon bergidik ngeri, sebab bermain dengan Elena sama saja menguji takdirr kemarian. Semua ide yang Elena cetuskan selalu di luar akal sehat. Gadis itu mana pernah bermain aman? Taruhannya nyawa, kau tahu? namun menolak pun sama saja seperti kau menyerahkan nyawa. Jadi mengapa tidak dicoba dulu sebelum menyerah, bukan? Seperti yang sudah banyak para dewa dan dewi tahu, Elena itu, Dewi yang cerdik namun gila.
"A-apa lagi?" Calderon menelan saliva berat, menatap cemas.
"Hei, tidak usah takut. Kali ini buat hadiahnya jadi menarik. Bila aku kalah, kau bisa memerintahku semaumu selama satu malam, jadi pikirkan baik-baik jika kau menang nanti. Begitu juga sebaliknya."
Calderron berpikir sejenak. Menarik. Melawan rasa cemasnya, ia berusaha menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Baik, apa saja, bukan? Aku harap kau tidak ingkar jika aku yang menang."
"Tentu saja, apapun, semaumu." Elena menarik senyum meyakinkan.
"Bahkan jika aku ingin b******a denganmu semalam penuh, kau sanggup melayaninya?"
Elena terbahak dalam benak. "Tentu saja. Toh, itu bukan hal pertama bagiku." Elena sudah tahu sejak lama Calderon juga mendambakan b******a denganya.
Iris Calderon bernafsu. "Baik, ayo lakukan. Apa permainan perburuan kita kali ini?"
"Mudah saja, yang paling banyak hasil perburuannya, dia yang menang."
"Kau yakin?" Calderon terbahak, semangat serta kepercayaan diri tengah membelenggunya. " Apa kau akan baik-baik saja? Bukankah sudah jelas aku yang akan memenangkannya? Kau kan cerdik, buat susah sedikit, dong."
"Tentu saja ada peraturannya." Elena mengernyih senang, ia ingin merayakan kematian Hugo dengan cara yang menyenangkan pula. “Aku akan melepaskan 33 singa dan macan yang kelaparan. Dengan sedikit kekuatan magisku, aku akan membuat mereka kerasukan lalu aku akan mengurung kita di hutan selama setengah hari. Yang mati duluan, dia yang kalah. Namun jika sampai batas waktu yang ditentukan belum ada yang mati, mari kita berperang untuk menentukan pemenangnya."
Sudah kukatakan, bukan? Elena itu gila.
To be continued...