"Jika kau adalah bulan, aku ingin menjadi—"
"Kau ingin menjadi langitnya?" Elena memotong ucapan Hugo.
"Tidak, makna itu terlalu luas untukku. Aku ingin menjadi jantungmu saja, jantungnya bulan," kata Hugo seraya menunjuk bulan berwarna kuning yang menggantung di atas pijakan mereka.
Elena menatapnya. "Kenapa? Kenapa kau ingin menjadi jantungku?"
"Karena aku ingin kau berdetak," jawab Hugo manis.
Elena tak paham. Ia kembali menatap langit yang ditaburi bintang. "Kau bilang langit terlalu luas untukmu, kalau begitu kenapa kau tidak menjadi bintang saja untuk menemaniku yang kesepian?"
"Bintang seperti apa yang kau inginkan? Bintang yang paling terang itu? Lantas bagaimana jika sinarku meredup. Bagaimana jika aku mati sebelum kau? Apa kau tidak akan merasa kehilangan?" Hugo menatap gadis di sampingnya. "Elena, untuk menjadi yang paling terang, butuh tenaga yang paling kuat buat menahan panasnya sinar tersebut. Aku tidak ingin pergi secepat itu."
"Nah, kalau begitu kenapa masih mengeyel? Bukankah langit pilihan yang paling tepat? Lagi pula kepada siapa aku pulang jika tidak kepada langit? Kepada siapa aku bisa menyembunyikan lelahku jika bukan kepada langit?"
"Lantas jika kau pergi, aku yang akan merasa kehilanganmu. Toh, kau tidak akan pernah merasa kehilanganku. Apapun, pokoknya aku ingin menjadi jantungnya bulan. Aku ingin kau berdetak karenaku, suatu saat."
Dahulu Elena tak mengerti apa yang membuatnya cukup dekat dengan Hugo. Ah, benar, saat itu barangkali Elena belum mengerti rasanya cemburu, diasingkan, tak didukung. Elena belum mengerti bagaimana rasanya iri hati, untuk apa merada demikian? Yang ia tahu, Elena hanya merasa sedih karena ibunya tak menyayanginya seperti dewa lain yang cukup berbelas kasih pada anaknya. Apa lagi jika melihat Dewa Apollo yang sering berkunjung ke bumi untuk menemui anaknya, Lucca Dionysus. Elena cukup iri, ia pernah beberapa kali bertemu lelaki itu, namun tak sering, sebab Elena merasa cerita Lucca terlalu berat untuk ia dengarkan.
Elena sadar, menjelang Hugo dewasa dan menjadi pribadi baik yang menyenangkan, ia mulai merasa berbeda. Kepribadian Hugo selalu dapat sanjungan dari siapa pun, sementara Elena, cuma dipandang sebagai pengisi semesta saja. Elena kepalang muak ketika seorang dewa memberitahunya sesuatu. "Jadilah Dewi yang anggun dan penurut. Perbaiki sikapmu dan hentikan sesi belajar sihirmu, dengan begitu kau pasti bakal dapat sanjungan seperti Hugo."
Memuakkan, bukan? mengapa semua dewa dewi jadi berlomba-lomba untuk menjadi seperti Hugo? Memang apa menariknya menjadi orang lain untuk mendapat perhatian dan sanjungan? Jika untuk mendapatkan hal tersebut Elena harus merubah sikapnya, Elena melangkah menjauh dari jalan yang mereka pilih. Elena lebih baik menjadi dirinya dan melakukan apapun yang ia sukai. Setidaknya, ketika seseorang menyanjung atau mengomentari sikapnya, Elena tak disamakan dengan yang lain. Contoh saja Dewa Shion yang kemarin-kemarin dapat sanjungan, "Dia baik, ya? dia seperti Hugo Diamond."
Bukankah hal tersebut malah memuakkan? seolah Hugo adalah simbol kebaikan dan orang lain tak mendapat tempat untuk menjadi dirinya sendiri. Elena lebih baik dibenci dengan mengatakan, "Elena Blezinsky memang sensitif sekali, dia pemarah dan pendendam, bicaranya selalu ketus. Bagus deh kalau tidak ada yang meniru perbuatannya."
"Oh, tentu saja. Itu benar. Lagi pula aku marah karena kalian membuatku marah, aku berbicara kasar karena karena kalian yang membuatku begini. Bagus kalau tidak ada yang mencontoh perbuatanku, setidaknya aku menjadi diriku sendiri. Kalian urus saja urusan kalian sendiri, berlomba-lombalah menjadi Hugo. Toh, nantinya Hugo juga yang tetap dipuji." Elena selalu membalas seperti itu dan mereka pergi dengan kenyataan yang menjengkelkan.
Imajiner tersebut terputus kala Elena mendengar suara gaungan singa yang mencoba mendekatnya. Elena bersembunyi di balik pohon Ek dengan panahnya yang mengarah pada salah satu singa yang sudah terlihat berada di wilayahnya. Elena tak peduli nasib Calderon, toh sejak awal lelaki itu sudah sangat percaya diri. Juga, mungkin sebelum para hewan buas itu menerkamnya, Calderon sudah mampu memanahnya. Toh, dia memang jago memanah, seharusnya bekal tersebut cukup untuk menjaga nyawanya agar tak mati secepat ini.
Namun, entah bagaimana nasibnya jika justru Calderon sudah dikepung oleh para hewan buas itu. Elena lantas menarik panah sihirnya dan menebas kepala singa tersebut hingga berubah menjadi abu dan terbang begitu saja. Elena kembali berjalan dan menuju sungai di tengah hutan, ia melihat seokor kuda dan rusa yang sedang meminum air sungai.
Elena menyiapkan panahnya untuk memanah, ia siap membidik ketika titiknya sudah pas. Namun tatkala Elena menarik anak panah dan hendak melepasnya, anak panah tersebut malah lenyap laiknya terkena sihir. Elena mematung, suara langkah seseorang mendekat dan berhenti di belakangnya. Elena berusaha berdiri tegap dan tak tampak terkejut ketika sesuatu sepertu benda tajam menusuk belakang kepalanya. Ia sembunyikan perasaannya yang minim kala aroma bunga lilith menyerbak sewaktu angin berhembus sangat kencang.
Elena mengernyih. "Oh well, Dewi Aphrodite," ujarnya. "Hai, Ibuku. Lama tak dengar kabar mengenai dirimu."
"Elena, tak peduli aku melahirkanmu, nyawa dibalas nyawa." Suara tersebut terdengar sedingin salju dan sekejam seorang ibu yang hendak menusuk kepala ananya menggunakan pedangnya.
Elena tertawa. "Tukarkan saja dengan nyawamu jika kau ingin melihatnya hidup lagi. Membunuhku juga tak ada artinya, kau tak akan mendapat untung dan malah mendapat rugi."
Benda tajam tersebut terdorong semakin dalam, namun tak mampu menembus kepala Elena. "Aku tahu bagaimana jalan pikiranmu, kau membocorkan perselingkuhanku dengan Hugo kepada suamiku?"
Tawa Elena rasanya semakin renyah, ia seperti gadis yang baru saja menyaksikan pertunjukan badut. "Bodoh sekali kalau kau percaya aku tak akan membocorkannya. Kau tahu? aku selalu punya lebih dari dua senjata untuk bertahan hidup."
"Kau cemburu, Elena? Kau mencintai Hugo Diamond, bukan?" suaranya geram.
"Hei, hei, hei, sejak kapan konsep cinta tersemat dalam hidupku? Duh, kau ini memang ibu yang buruk, ya? Bagaimana mungkin kau tak mengetahui perasaan anakmu?"
"Lantas apa kau mengetahui bagaimana perasaanku?"
"Tentu saja, kau sangat mencintai Hugo yang katamu terlalu sempurna itu, bukan? Lagi pula jika aku cemburu karena mencintai Hugo, bukankah seharusnya kaulah yang aku lenyapkan?"
"Terkutuk kau, Elena!" pekiknya, membuat beberapa dewa berdatangan karena memang mereka sedang mencari keberadaan Elena dan Aphrodite.
"Well, well, well, sebelum mereka melihat kita, bukankah lebih bagus jika kau membunuh dan melenyapkanku?" Elena memutar tubuh dan menatap ujung pedang yang berada tepat di kedua matanya.
Ia melihat mata Aphrodite memerah dan berembun. Urat-urat matanya jelas menunjukkan kebencian, dendam, serta amarah yang membeludak. Aphrodite menarik kembali pedangnya, wanita itu mengangkat pedang dan langit menggelegar suram.
"Ya, kau tak perlu repot-repot mencari cara untuk mati karena aku akan membantumu, Elena. Dengan restu para dewa aku akan menebas lehermu dengan rasa sakit yang sama seperti yang kau berikan padaku juga Hugo."
Elena menatap wanita itu dengan datar tanpa perasaan takut, meski sebenarnya tubuhnya sudah merasakan ngilu berkat sambaran petir yang sengaja mengenai dirinya, Elena tak menunjukkan dirinya goyah. Jadi di sana, ketila Aphrodite dan amarah sudah menguasainya, Elena sudah menyiapkan tubuhnya. Tepat ketika wanita itu mengayunkan pedang dan hendak menebass lehernya, tepat ketika pedang sudah menggesek permukaan kulit leher dan tak mampu menembusnya. Sebab di sana, pedang milik Dewa Ares tengah menahannya.
"Restu Dewa siapa yang kau bicarakan?" Ares membuat pedang Aphrodite terpelanting jatuh. "Dewa Zeus menunggu kalian."
To be continued...