Dari dulu, setiap pulang sekolah Quin pasti akan pulang dengan segera untuk dapat membantu orangtua nya di restoran. Seperti saat ini, setelah pulang dari kampus dia meletakkan tasnya dan langsung membantu melayani pelanggan yang terus berdatangan untuk makan siang.
Quin menerima dan mengantarkan pesanan kesana kemari dengan lincah dan penuh semangat. Quin melayani dengan penuh senyum meski rasa lelah sudah menggerogotinya.
"Quin, istirahatlah. Biar mommy dan karyawan yang lain saja melayani pesanan itu," ucap mommy Quin mengusap keringat di kening Quin. Quin tersenyum dan menggeleng.
"Quin masih kuat, Mom~" cicit Quin pelan. Mommy Quin hanya mencubit pelan hidung Quin karena dia tahu Quin tidak akan istirahat sampai pelanggan sudah sedikit menipis.
Dengan tema taman yang diusulkan Quin membuat restoran ini menjadi lumayan banyak diminati berbagai kalangan, baik yang tua ataupun yang muda. Restoran ini memang mempunyai tempat yang sangat indah untuk sekedar bersantai atau menikmati hidangan. Tidak hanya tempatnya saja yang indah, makanan yang dihidangkan pun sangat nikmat. Alasan lainnya karena ingin melihat Quin. Kecantikannya memikat semua orang.
Sedari tadi pelanggan terus berdatangan hingga sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan penuhlah sudah semua meja di restoran ini. Quin tidak bisa untuk tidak tersenyum lagi. Meskipun mereka lelah, tapi terbayarkan dengan ramainya pengunjung yang menikmati restaurant ini.
"Quin," panggil mommy menghampiri Quin yang baru saja beristirahat di belakang.
"Mommy~" Mommy Quin mengambil duduk di sebelah Quin.
"Bagaimana tadi kuliahnya?" Mommy Quin baru sempat bertanya sebab mulai tadi siang restoran sedikit repot.
Quin mengacungkan jempolnya dengan antusias. "Baik Mom. Dosen, senior dan teman Quin juga sangat baik." Mommy Quin bersyukur tidak ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya ini. Satu hal yang mommy Quin takutkan, bully. Mommy Quin takut Quin dibully oleh sekitarnya karena dia bukan dari keluarga kaya dan juga Quin merupakan gadis beasiswa.
"Kau tidak berbohong kan, sayang?" tanya Mommy Quin lagi memastikan. Quin menggeleng berulang kali dengan jarinya terangkat membentuk huruf V.
Mommy Quin mengangguk. "Naiklah dan istirahat, sayang. Besok kau akan kuliah lagi. Mom dan karyawan yang akan mengerjakan sisanya," perintah mommy Quin sembari mengelus rambut anaknya. Quin mengangguk.
"Kalau ingin tidur, tidurlah terlebih dulu heum?" lanjut Mommy Quin yang diangguki lagi.
"Good Nite Mommy~" ucap Quin mencium pipi Mommynya.
"Good Nite too baby." Kemudiannya Quin menjumpai daddynya mengucapkan selamat malam dan langsung ke atas membersihkan tubuhnya lalu mengambil posisi nyaman di tempat tidurnya. Quin berbaring menyamping memeluk boneka beruangnya yang diberi nama Brown sambil memainkan ponselnya. Dilihatnya banyak sekali notifikasi-notifikasi entah itu notifikasi permintaan pertemanan ataupun notifikasi chat. Quin tersenyum senang karena diterima baik di kelas juga teman-temannya yang baik kepadanya. Namun tiba-tiba pikiran Quin tertuju pada senior pria yang tadi dilihatnya di parkiran.
Quin refleks berbaring lurus memandang langit-langit kamarnya. "Dia pasti sangat kaya sampai para pria berjas formal itu menunduk sopan dan membukakan pintu untuknya. Apa dia sombong? Tapi sepertinya dia baik. Siapa namanya? Sudah kaya, tampan pula. Apakah menyenangkan?" Pikiran Quin melayang-layang entah kemana sekitar pria itu hingga kantuk menghampirinya.
( >ωωEngagement merupakan aktivitas sehari-hari Raja Keenan dan Ratu Victoria sebagai pemimpin rakyat dan negara. Engagement yang dilakukan seperti hadir di berbagai pertemuan, seperti acara makan malam, melakukan perjalanan ke luar negeri, memberikan penghargaan, dan sesi pembukaan parlemen. Meski keluarga kerajaan diwajibkan selalu netral dalam urusan politik sehingga tidak memiliki hak pilih, namun raja lah yang menandatangani legislasi menandakan persetujuan sebelum menjadi hukum yang valid.
Raja dan ratu melakukan 340 pertemuan pada tahun ini. Engagement itu tidak dilakukan sendiri oleh raja dan ratu. Anggota kerajaan lain juga bertugas membantu dan menjadi perwakilan pemimpin mereka termasuk Pangeran Xavielle. Sampai saat ini, Pangeran Xavielle sudah menghadiri 40 pertemuan yang dihadiri bersama.
Selain membantu raja dan ratu melakukan engagement, Pangeran Xavielle juga melakukan pekerjaan paruh waktu di luar istana sebagai analisis bisnis sebuah perusahaan untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang cacat dalam suatu sistem. Pekerjaan ini juga meliputi defenisi tujuan perusahaan, bagaimana tujuan itu bisa terhubung ke tujuan lain dan bagaimana program untuk mencapai tujuan itu.
Berkat kepandaian Pangeran Xavielle, perusahaan kecil itu semakin lama semakin melambung tinggi. Namun, Pangeran Xavielle tidak datang ke kantor itu setiap hari. Dia hanya datang sekali seminggu atau sekali sebulan.
Sebelumnya, Pangeran Xavielle juga pernah menjalani pendidikan Akademi Militer Kerajaan Sandhurst. Satu tahun kemudian, Pangeran Xavielle lulus dari akademi tersebut dengan pangkat perwira kemudian dilantik sebagai seorang perwira angkatan darat yang kemudian ditugaskan di luar negeri. Setelahnya Xavielle kembali dan melanjutkan pendidikannya di jurusan hukum ini.
Pangeran Xavielle juga banyak menaruh perhatian pada sesama dan lingkungan sekitar. Pangeran Xavielle memulai aktivitas sosialnya setelah dirinya melihat secara langsung penderita areteri coroner dan HIV/AIDS. Karena tingginya kepedulian Pangeran Xavielle terhadap sesama, Pangeran Xavielle kemudian bekerja di rumah sakit selama 3 bulan.
Setelah melakukan engagement tadi, seluruh keluarga akan datang untuk evening tea/tea time di dekat perapian dengan busana outdoor. Mereka duduk saling berbincang ringan diselingi candaan sambil menikmati tea with sandwiches.
"Bagaimana kuliah kalian?" tanya Pangeran Carlos tertuju pada anak-anaknya.
"Seperti biasa Dad, tidak ada yang menarik," jawab Xavielle.
"Aku? Sepertinya menarik dengan banyaknya gadis cantik dan- Aww!" ucapan Louis terpotong dengan pekikannya akibat sentikan sang Mommy di keningnya. Xavielle terkikik mendengar pekikan adiknya.
"Pekikanmu seperti seorang gadis," ejek Xavielle. Louis mendelik.
"Belajar yang benar! Apa hanya gadis-gadis saja yang ada dipikiranmu?" omel Mommy.
"Kuliahku lancar Mom! Gadis-gadis itu sebagai penyemangatku!" bela Louis.
"Penyemangat! Penyemangat apanya!" omel Mommynya lagi mengambil langkah untuk kembali menyentik Louis sebelum Louis beralih pindah ke samping sang grandma.
"Grandma! Lihat Mommy! Dia garang sekali!" adu Louis manja. Yang lain hanya geleng-geleng kepala.
"Mommymu benar. Kau harus belajar dengan benar. Lagian kau juga tidak boleh memilih sembarang wanita. Kau harus melihat pendirian, pendidikan dan latar belakangnya." Mommynya mengangkat kepalanya angkuh karena dibela membuat Louis tak berkutik. Grandmanya bahkan tidak membelanya.
"Baiklah Grandma~" ucap Louis mengalah dan berpindah ke samping sang kakak dan merangkul pundaknya.
"Bagaimana denganmu Xavielle? Apa kau tidak bertemu dengan gadis yang menarik perhatianmu?" goda Louis pada Xavielle. Yang lain mengalihkan fokusnya pada dua bersaudara itu sedikit tertarik dengan jawaban Xavielle.
Xavielle hanya acuh dan kembali meminum tehnya. Louis yang gemas dengan kakaknya ini menyenggol-nyenggol lengannya menggoda.
"Ayolah~ pasti ada kan? Iya kan?" Xavielle hanya diam sampai akhirnya dia membuka suara.
"Ada," jawabnya singkat membuat Louis kesenangan sedangkan para orangtua itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Benarkah? Bagimana ciri-cirinya? Apa dia cantik? Sexy? Apa yang kau rasakan? Apa kau jatuh cinta padanya? Apa jantungmu berdebar-debar?" cerocos Louis. Xavielle hanya memutar malas bola matanya.
"Fokuslah pada kuliahmu!" Xavielle kembali menyentikkan jarinya di kening Louis. Membuat yang lain tertawa.
( >ωωevening tea sudah berakhir dan mereka akan kembali ke kamar bertukar pakaian untuk makan malam nanti. Xavielle melemparkan tubuhnya di ranjang king size itu dengan satu tangan menyanggah kepala belakangnya. Pikirannya kembali pada pertanyaan Louis.
'Bagaimana denganmu Xavielle? Apa kau tidak bertemu dengan gadis yang menarik perhatianmu?' goda Louis pada Xavielle.
Xavielle tersenyum tipis. "Ya, gadis itu sangat menarik sepertinya," monolog Xavielle membayangkan wajah cantik dan tingkah gadis itu.
"Quin~ Quin~ Quin~" gumam Xavielle membuatnya tertawa kecil. "Gara-gara dia aku seperti orang sinting tertawa sendiri!" gerutunya.
Jam menunjukkan pukul 8. Keluarga kerajaan akan melakukan makan malam bersama. Seluruh perlengkapan makan terbaik dikeluarkan. Menu makan mereka sangat simpel, fillet daging sapi yang dihidangkan dengan jamur, krim dan dilengkapi dengan whisky.
Dan di akhir makan malam, seorang pemain bagpipe akan mengelilingi meja. Setelahnya masing-masing akan kembali ke kamar mereka.
Xavielle sudah berbaring nyaman di ranjangnya. Lagi dan lagi, gadis bernama Quin itu, gadis yang baru ditemuinya hari ini, gadis yang tidak dikenalnya, gadis yang menarik perhatiannya, gadis yang berani mengusiknya dengan terus menari-nari di pikirannya. Xavielle mengacak rambutnya frustasi.
Pertanyaan Louis kembali terngiang. 'Bagimana ciri-cirinya?'
"Aku memang tidak menyangkal dia sangat cantik dan menggemaskan dengan eye smilenya itu. Tingkahnya yang lucu dan polos?" gumam Xavielle. "Argh! Apa yang terjadi padaku?! Kenapa dia terus berada dipikiranku? Aku bisa gila kalau begini! Sudahlah!" ucapnya frustasi dan mencoba memejamkan matanya untuk langsung menjumpai mimpinya.