“Ibu, kata Tante Laras, Indonesia itu panas. Tapi kok di sini dingin banget kayak kulkas?”
Kalanya tersenyum tipis mendengar celoteh polos anak laki-laki di sampingnya. Tangannya cekatan membetulkan letak cardigan rajut warna krem yang membungkus tubuh mungil itu, sebelum beralih merapikan tumpukan koper di atas troli bagasi.
“Ini namanya pendingin udara, Mas Andra,” sahut Kalanya lembut. Ia berlutut sejenak, menyamai tinggi badan putranya yang berusia empat tahun itu. “Nanti kalau kita sudah keluar dari bangunan bandara ini, baru terasa panasnya.”
Andra memiringkan kepala. Jemari mungilnya semakin erat meremas boneka figur Lego yang tak lepas dari genggamannya sejak mereka naik pesawat dari Munich. “Panasnya kayak pas kita main di taman musim panas kemarin?”
“Lebih panas dari itu,” jawab Kalanya seraya mengacak pelan rambut hitam Andra yang lebat. “Tapi kan ada es krim kelapa nanti yang udah ditraktir Tante Laras.”
“Asyik! Es krim dua, ya, Bu?” Mata bulat Andra berbinar tajam. Binar mata yang selalu berhasil membuat d**a Kalanya berdenyut oleh rasa haru sekaligus ngilu yang tertahan.
Kalanya berdiri kembali, lalu mendorong troli bagasi membelah kerumunan penumpang di area klaim bagasi Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Suara roda troli yang bergesek pelan di atas lantai marmer berkilat seolah menjadi musik latar bagi perjalanan barunya. Lima tahun. Lima tahun ia menghabiskan waktu di Munich, membangun kembali serpihan hidupnya yang hancur, meniti karier sebagai perawat spesialis bedah di salah satu rumah sakit terkemuka di Jerman, dan membesarkan Andra seorang diri.
Keputusannya untuk pulang bukan diambil dalam semalam. Banyak koleaganya di Munich yang mempertanyakan alasannya melepas posisi nyaman di Eropa. Namun, setiap kali melihat Andra yang mulai kritis bertanya tentang silsilah keluarga dan asal-usulnya, Kalanya tahu ia tidak bisa selamanya berlari. Ia tidak ingin Andra tumbuh menjadi asing dengan tanah kelahirannya sendiri. Anak ini berhak mengenali akarnya.
“Ibu, Tante Laras yang mana?” tanya Andra sambil menunjuk-nunjuk kerumunan orang di balik pembatas kaca pintu keluar.
“Sebentar, Ibu cari dulu,” gumam Kalanya. Matanya menyapu deretan penjemput yang mengacungkan papan nama dan melambaikan tangan.
“Kalanya! Over here!”
Suara nyaring yang sangat familier itu melintasi kebisingan area kedatangan. Seorang wanita bertubuh jenjang dengan stiletto merah dan blazer nude melambaikan tangan heboh dari balik pagar pembatas. Laras. Sahabat terdekatnya sejak masa kuliah keperawatan dulu.
Kalanya mempercepat langkah mendorong troli. Belum sempat troli benar-benar berhenti, Laras sudah menerobos kerumunan kecil dan langsung merengkuh Kalanya dalam pelukan erat.
“Ya Tuhan, Kal! Akhirnya kamu pulang juga!” seru Laras, menepuk-nepuk punggung Kalanya dengan emosional. “Lima tahun, Kal. Lima tahun kamu menelantarkan aku sendirian di Jakarta!”
Kalanya tertawa kecil di bahu sahabatnya, membalas pelukan itu tak kalah erat. “Aku pulang, Ras. Enggak menelantarkan kamu lagi.”
Laras mengurai pelukan, lalu matanya langsung menunduk menatap bocah kecil yang berdiri bingung di samping troli. Seketika wajah tegas khas wanita karier milik Laras meleleh. Ia berlutut di hadapan Andra tanpa peduli celana kain mahalnya menyentuh lantai bandara.
“Oh my God, ini Si Ganteng Andra?” puji Laras gemas. “Ganteng banget, sih! Lebih ganteng dari foto-foto yang dipajang ibumu di w******p!”
Andra mundur setengah langkah, bersembunyi di balik tungkai kaki Kalanya. “Tante Laras?” bisiknya ragu.
“Iya, sayang! Ini Tante Laras yang paling cantik,” ujar Laras percaya diri. Ia mengulurkan tangan. “Boleh pinjam tangannya buat bersalaman?”
Andra melirik Kalanya, meminta persetujuan implisit. Setelah melihat ibunya mengangguk pelan dengan senyum hangat, barulah Andra mengulurkan tangan mungilnya. “Andra, Tante.”
“Pinter banget suaranya,” puji Laras, lalu mendongak menatap Kalanya. “Kal, mukanya benar-benar mirip ... you know who.”
Kalanya mendesah pelan, melemparkan tatapan peringatan halus. “Laras, not here, please.”
Laras langsung menepuk mulutnya sendiri pelan. “Sorry, sorry. Refleks. Yuk, kita ke parkiran dulu. Mobilku udah standby di depan. Kamu pasti capek banget habis penerbangan belasan jam.”
Sebelum melangkah, Laras menyipitkan mata menatap barang bawaan Kalanya yang menggunung. “Bentar deh, Kal. Ini koper empat biji restsletingnya mau jebol begini penetrates baju winter semua?”
“Isi koper yang dua itu cuma mainannya Andra sama buku medis aku, Ras,” sahut Kalanya terkekeh. “Andra enggak mau ditinggal koleksi lego-nya.”
“Astaga, anak sama ibu sama aja obsessifnya,” seloroh Laras sambil menggelengkan kepala.
Mereka bertiga melangkah menuju area parkir premium. Laras dengan sigap membantu mengambil alih salah satu tas kabin Kalanya, sementara Kalanya tetap menggandeng jemari Andra yang sibuk menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Gimana perasaan kamu melangkah di Jakarta lagi?” tanya Laras santai saat mereka berjalan menyusuri koridor ber-AC.
Kalanya menghentikan langkahnya sejenak. Pertanyaan sederhana itu justru menghantam dadanya dengan dorongan kecemasan yang tiba-tiba meluap. Udara Jakarta—bahkan yang sudah tersaring pendingin ruangan bandara—terasa asing sekaligus menyengat kenangan lama.
“Jujur? Rasanya campur aduk,” aku Kalanya pelan. Suaranya agak bergetar. “Ada rasa takut yang aneh, Ras.”
Laras menghentikan langkah, membalikkan badan menatap sahabatnya. “Takut kenapa? Kamu kan pulang bawa prestasi. Posisi perawat bedah senior di Sentra Mulia itu enggak sembarangan, Kal. RS Sentra Mulia sampai rela nunggu kamu finish contract di Munich cuma buat narik kamu ke departemen bedah mereka.”
“Bukan soal pekerjaan,” bisik Kalanya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Andra. “Jakarta ini ... terasa terlalu sempit, Ras. Gimana kalau aku enggak sengaja berpapasan sama dia? Gimana kalau dia lihat Andra?”
Laras menatap Kalanya dengan pandangan lembut penuh simpati. Ia maju satu langkah, meremas pelan bahu Kalanya untuk memberikan ketenangan.
“Kal, dengarkan aku,” kata Laras tegas namun lembut. “Jakarta itu megah, luas banget. Penduduknya belasan juta orang. Kemungkinan kamu ketemu dia secara tiba-tiba di jalanan itu cuma satu banding sejuta.”
“Tapi dunia medis itu sempit, Laras. Kamu tahu itu,” sanggah Kalanya ragu.
“Iya, dunia medis emang sempit. Tapi kamu kan kerja di unit keperawatan bedah spesialis, dan setahuku kamu bakal fokus di tim bedah toraks anak dan dewasa sesuai kualifikasi kamu dari Jerman,” balas Laras meyakinkan. “Lagipula, lima tahun itu waktu yang lama. Dia pasti udah sibuk dengan dunianya sendiri. Dia enggak bakal kepikiran buat nyari tahu soal kamu lagi.”
Kalanya menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. “Aku cuma mau hidup tenang sama Andra, Ras. Aku enggak mau ada drama masa lalu yang ganggu tumbuh kembang dia.”
“Dan kamu bakal dapet ketenangan itu,” puji Laras mantap. “Kamu wanita mandiri, perawat profesional lulusan Jerman. Kamu bukan Kalanya yang lima tahun lalu yang cuma bisa diam pas dipojokkan. You are stronger now. Paham?”
Kalanya mengangguk pelan, berusaha mengukir senyum. “Paham, Suster Laras.”
“Nah, gitu dong! Yuk, ah. Kasihan anak ganteng ini udah pengen es krim,” seloroh Laras melirik Andra yang mulai mengantuk.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalan tol menuju pusat kota Jakarta. Sore baru saja runtuh, menggantikan langit biru dengan rona jingga keemasan yang berpadu dengan kerlip lampu-lampu jalanan. Di kursi belakang, Andra sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar di pangkuan Kalanya, masih memeluk erat boneka Lego miliknya.
Kalanya mengelus rambut halus putranya, menatap wajah polos itu dalam diam. Setiap ukiran wajah Andra adalah cerminan dari pria yang pernah mengisi seluruh hidupnya. Hidung mancungnya, bentuk bibirnya, hingga kelopak matanya. Sungguh ironis bagaimana ia melarikan diri ribuan kilometer hanya untuk melihat wajah pria itu setiap hari pada diri anaknya.
Taksi perlahan keluar dari pintu tol, melintasi kawasan bisnis yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Kemacetan khas Jakarta mulai menyapa, membuat laju kendaraan melambat signifikan di arteri utama.
“Kemacetan Jakarta enggak berubah, ya?” celetuk Laras dari kursi depan, menoleh sebentar ke belakang.
“Malah makin parah sepertinya,” sahut Kalanya ringkas, melemparkan pandangan keluar jendela.
“Biasa, jam pulang kantor. Tapi tenang aja, habis ini kita langsung makan malam. Aku udah reservasi tempat makan yang enak banget,” timpal Laras antusias.
“Andra keburu pingsan kelaparan ini kalau kemacetannya masih merayap gini,” balas Kalanya terkekeh pelan.
“Dikit lagi nyampe, kok. Kebetulan rute kita emang lewat jalur protokol rumah sakit baru kamu.”
Mata Kalanya menyapu deretan papan reklame digital raksasa yang menjulang tinggi di sisi jalan protokol. Lampu-lampu LED-nya menyala terang, memamerkan berbagai promosi produk hingga iklan layanan masyarakat. Namun, detak jantung Kalanya mendadak berhenti ketika matanya menangkap satu papan reklame digital berukuran raksasa milik Rumah Sakit Sentra Mulia—tempat di mana ia akan mulai bekerja lusa.
Layar digital itu menampilkan kampanye terbaru rumah sakit, “Pusat Unggulan Bedah Jantung dan Pembuluh Darah Terpadu.”
Gambar-gambar dokter spesialis berjas putih bersih berganti setiap beberapa detik. Kalanya berniat mengalihkan pandangan, sampai slide berikutnya muncul dan terkunci di layar.
Di sana, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan balutan jas dokter putih yang melekat sempurna di bahu tegapnya. Pria itu menatap lurus ke arah kamera dengan ekspresi dingin, tegas, dan tajam tanpa ada sedikit pun pendar keramahan. Di bawah foto tersebut, tertera tulisan tebal bernuansa emas,
dr. Bhaskara Nalendra Danudirdja, Sp.BTKV
Kepala Departemen Bedah Toraks Kardiovaskular Utama
Darah Kalanya seolah berhenti mengalir seketika. Tangannya kaku di atas kepala Andra, matanya terpaku pada layar papan reklame yang perlahan menghilang berganti iklan lain saat kendaraan kembali melaju.
Jakarta ternyata tidak seluas yang diucapkan Laras. Dan takdir baru saja menyapanya dengan cara yang paling dingin.