pagi hari menyingsing , aku langsung berangkat kerja begitu pula jaya dan yang lainnya. sedangkan hanya beberapa orang saja dirumah. mio juga berangkat untuk kuliah. kami berdua seperti biasanya berangkat bersama dengan motor kesayangan kami.
"mio nanti kakak jemput mio agak sore, kamu nanti bisa belanja pakaianmu dulu. pakai aja uang di atm kakak, tapi jangan berlebih ya secukupnya aja."
"ya kak, nanti mio belikan baju untuk kakak juga ya, tenang aja mio pilih yang cakep pokoknya".
"ya, kamu pilihkan yang bagus ya"
"siap kak"
"ya udah hati hati dikampusnya, banyak buaya, heheh"
"kakak buaya yang paling ganas kalo gitu, mmmnn"
"dadah adek manis"
"kakak ahh"
aku kembali kearah kantorku. selama diperjalanan aku kembali mengingat saat aku dihantui semalam. sangatlah menyeramkan. ini mungkin pertama kalinya aku dihantui seperti itu.
"eh alip, gimana keadaanmu, dan tinggal dimana kamu sekarang" pak brama bos ku memang sangat perhatian padaku.
"kami tinggal di rumah no 35, pak"
"eh, rumah angker itu"
"ya pak"
pak brama memang memiliki sedikit ikatan darah dengan orang tua mio. tapi karena perceraian kedua keluarga menjadi saling membenci. tapi pak brama berbeda. dialah yang memberi aku pekerjaan agar aku bisa menghidupi mio.
"alip sayang, apa yang bisa tante bantu"
dia adalah mbak ani seniorku dan juga seperti kakak bagiku disini.
"nggak masalah kok mbak ani, kami sudah dapat tempat tinggal baru kok".
"kalo ada yang perlu, bilang aja ke mbak ani ya, jangan sungkan".
"ya mbak, alip ngerti"
aku kembali bekerja dan aku pulang kerja jam 4 sore, sebelum ke tempat mio kuliah aku juga membeli beberapa alat tidur untuk kami, dan beberapa makanan juga.
"kakak"
"mio, banyak amat, kamu beli apa aja?"
"dah nanti dibuka dirumah aja ya kak"
"ya lah, yaudah cepet naik, mau hujan sepertinya"
"ya kak".
diperjalanan kami sedikit kehujanan, dan sampai di rumah baju kami jadi sedikit basah.
"aduh basah kak"
"dah cepat mandi sana biar kakak yang beresin sisanya".
"barengan aja kak"
"eh kamu ngajak mandi bareng maksudnya?"
"eh kakak ni, ya nggak lah. maksudnya kita beresin ini dulu bareng kak"
"siapa tau kalo kamu khilaf"
"mana mungkin"
kami antar barang belanjaan kami dikamar mio karena dia tinggal sendiri.
"dah sana mandi, nanti sakit lo"
"kakak jadi mau ikut nggak"
"ayukk"
"ehh, stop. kakak yang untung, dah tunggu disitu aja, m***m"
"ehhh"
aku buka semua barang belanjaan mio ternyata mio memilih jaket biru warna kesukaanku. dan beberapa baju dan celana juga untukku. aku juga melihat mio membeli baju untuknya sendiri. normal seperti gadis gadis lainnya.
beberapa menit kemudian mio selesai mandi dan sudah memakai pakaian barunya.
"gimana kak cocok kan"
"ya cantik kok"
"makasih"
"o ya mio, kamu kayak nya suka warna biru juga ya?"
"kok kakak tau mio suka warna biru juga"
"ini" sambil menunjukkan bra berwarna biru di barang belanjaannya.
"eh, kakak udah liat apa aja sih, kembalikan"
"eh kenapa"
"malu kali kak, dah ah kakak keluar sana" mio tampak cemberut beneran.
"ya lah" aku langsung meninggalkan kamar mio.
aku kembali kekamarku, dan membereskan pakaian baruku juga. kemudian aku beranjak ke taman. disana ada gadis belia. kudekati dia.
"kakak yang disana tadi malam lihat hantu nggak?" pertanyaan itu langsung membuatku kaget.
"enggak, emangnya kenapa" jawabku dengan mencoba tenang.
"semalam aku melihat perempuan dikamar kakak dan mengetuk pintu. terus kakak kekamar sebelah dan perempuan itu tiba tiba hilang, habis itu kakak balik kekamar lagi dan perempuan itu muncul lagi."
"rahasiakan ini dari adekku ya"
"jadi bener kakak semalam lihat hantu?"
"ya"
"jadi gimana sensasinya kak, serem gak, takut nggak, apa jangan jangan kakak kencing berdiri ya, heh gimana kak"
"eh kamu kok kayak suka banget sama hal seperti ini ya."
"ya kak horror itu asik kak"
"heh, asik ya"
aku ajak gadis itu duduk dikursi pojok taman.
"nama kakak alip, nama mu siapa dek?"
"laila kak, umur 14 tahun pencinta horror, dan kalau besar nanti mau jadi paranormal"
"cita cita kok gitu sih, nggak mau jadi dokter apa guru gitu yang lebih realistis."
"aku punya alasan kenapa harus jadi paranormal"
"apa emangnya?"
"ini rahasia lo"
"ya aman rahasia adek sama kakak mah"
"jadi sebenarnya aku mau melihat orang tua ku yang sudah meninggal. dari kecil aku sudah ditinggalkan mereka, mereka meninggal. dan kalau aku jadi paranormal nanti aku bisa memanggil roh mereka kan."
"laila, begini ya. orang tua kamu itu sudah tenang. misalkan bisa pun nggak baik kamu mengganggu mereka lagi"
"kakak nggak akan mengerti perasaanku, ditinggalkan mereka bahkan aku belum bisa mengingat wajah mereka. hanya foto yang tersisa dari mereka."
"ya udah, kalau begitu sudah bisa apa aja kamu sekarang?"
"aku belum bisa apa apa kak, cuma Bisa melihat hantu saja, itu pun dengan tidak langsung."
"lemah, hahaha, kakak aja udah pernah lihat hantu secara langsung lo" ku ejek dia.
"hmmh, paling kakak ketakutan juga kan?"
"laila semalem itu serem banget lo, kalau kamu palingan langsung pingsan"
"eh, jangan remehin aku ya, laila pecinta horror dan akan jadi paranormal nggak akan takut sama hantu."
kami menjadi semakin akrab berkat kejadian semalam, kutau juga dia tinggal bersama neneknya.
"kak, dah godain cewek lagi ya, masih kecil kak, p*****l ya" mio datang.
"siapa mbak mbak sewot ini kak" kata laila.
" eh sewot, aku ini adeknya kakakku ini."
"oh adeknya to, kukira pacarnya"
"pac..., nggak lah"
"kalo pacar, dah putusin aja kak kalo punya pacar kayak gini" kata laila mengejek.
"eh, bocil FF, mending kamu minum s**u dulu sana, biar cepat tumbuh itu dada."
"sudah sudah ya berantemnya" leraiku.
"berisik kakak diem aja" dengan kompak mereka katakan itu padaku.
"ya diem diem".
kubiarkan mereka berdebat sampai akhirnya mereka capek sendiri.
malam hari telah tiba, kali ini listrik sudah menyala, suasana menjadi lebih hidup. lampu lampu ditaman juga sudah dipasang, jadinya taman itu menjadi sangat indah.
mio tiba tiba maju ditengah tengah taman dan mengucapkan kata kata yang sangat familiar dengan ku.
"kak alip apa kakak sayang mio, apa kakak cinta mio, apa kakak mau menikah dengan mio" sontak itu menjadi heboh semua orang. anton malah merekam aksi mio menyatakan cintanya padaku.
"terima aja alip" kata beni.
"kamu mio kan" tanyaku.
ahhkkk
ada suara dari arah belakang kami.
"ahhkkk kakak ada laba laba, adek takut" mio langsung mendatangiku. kusingkirkan jaring laba laba rambutnya.
semua orang hanya bisa bengong melihat semua ini. sebelumnya cuma aku yang merasakan. dan malam ini semua orang menyaksikan keanehan ini.
"mio kamu nggak papa" dan langsung kupeluk dia.
"kak kenapa"
"nggak papa"
anton langsung mengecek video rekamannya, dan yang ada bukannya mio yang berada di video itu melainkan perempuan misterius yang sama yang kuliat dimalam sebelumnya.
"siapa dia" beni berbisik ke anton.
"kita perlu cari tau"
"kasian mio dan alip, sepertinya hantu ini mengincar mereka"
beberapa orang takut dengan kejadian ini, dan 4 orang langsung pindah saat itu juga.
"mio yuk kuantar kekamarmu, udah malam kan, sudah waktunya istirahat."
"ya kak, kakak bisa temani adek dikamar sebentar kan?"
"ya kutemani"
sesampainya dikamar mio langsung menutup pintunya dan memelukku.
"kak ada yang ingin mio sampaikan"
"katakan aja,apa itu"
"apa kakak nggak bosen dengan hubungan kita ini kak, kita bukan lah saudara sedarah. orang tua kita juga berbeda. apakah kakak tidak.."
"cukup mio, kakak sudah tau maksudmu, kamu ingin tanya ini kan, apa kakak cinta mio, apa kakak sayang mio, dan satu lagi apa kakak ingin menikah dengan mio, itu kan yang mau kamu tanyakan"
"eh itu, kak..."
"jawabannya kamu pasti sudah tau kan."
aku memeluk erat mio.
"tentu aku merasakan hal yang sama dengan mu mio. aku mencintaimu bukan sebagai adik melainkan sebagai pasangan. sangat munafik kalau aku bilang kamu kuanggap seperti adikku sendiri."
"sungguh kak"
"mmmn, tapi untuk sekarang biarkan kakak berakting seolah kamu itu adikku ya."
"mengapa kak?"
"setidaknya sampai kamu lulus kuliah, kakak tak mau mengganggu kuliahmu dengan hubungan percintaan seperti ini. setelah kamu lulus, kita sudahi akting ini"
"ya kak, adek mio siap menunggu sampai lulus nanti" mio langsung memelukku dengan erat.
kubalik memeluknya dan kulihat didepanku ada perempuan misterius itu menatapku tersenyum. dan kemudian menghilang. aku menyimpulkan bahwa perempuan itu hanyalah ilusi yang dibuat dari perasaan mio yang memendam cintanya. dan saat perasaannya lepas maka hilanglah ilusi itu.
"dah tidur sana, kelepasan nanti kakakmu ini"
"ya kak, hehhe"
aku kembali kekamarku dan tidur. jaya juga terlihat sudah tertidur pulas. malam itu tidurku sangat nyenyak sekali.