Enam tahun yang lalu.
Minggu pagi di sebuah teras rumah yang baru saja dibayar lunas.
Ada dua kursi nyaman dan sebuah meja dengan segelas coklat panas bercampur s**u untuk Argya dan secangkir espresso yang tinggal separuh untuk Nurma. Sebuah kombinasi terbalik bagi sebagian orang tapi begitulah kebiasaan pasangan tersebut akan pilihan sebuah minuman. Nurma selalu butuh sesuatu yang "nendang" dan Argya yang cenderung "kalem". Mereka berdua tak pernah mempermasalahkan hal tersebut dan tampaknya nyaman-nyaman aja dengan pilihan masing-masing. Kehangatan selalu terpancar dari mata mereka. Tak lagi bergejolak. Hanya hangat. Namun tampaknya kekal. Sebuah kisah singkat, padat, dan romantis. Berpacaran beberapa tahun lalu menikah, membeli rumah bersama di salah satu cluster idaman pasangan muda. Sama-sama memiliki karier yang sedang menanjak. Dan belum memiliki momongan. Pacaran setiap hari. Pasangan ideal. Begitu pujian beberapa orang bilang. Sayangnya belum ada momongan, begitu gunjingan beberapa orang lainnya. Dan mereka memilih abai, fokus pada apa yang sudah di miliki. Lalu tiba hari ini, Nurma memutuskan membahasnya duluan.
"Mas, kamu nggak pernah di tanyain ya? Kapan kamu punya momongan? Kerja terus nggak mikirin rumah apa? Nggak pengen pulang kerja ada sambutan suara bocah gitu ya?" Tanya Nurma penasaran dengan pendapat suaminya.
"Ya pernah." Sahut Argya pendek lalu menyeruput coklatnya yang mulai kehilangan kepulan asapnya.
"Gitu doang? Kamu nggak ada perasaan gimana-gimana gitu?" Cecar Nurma. Argya selalu saja irit bicara. Beda dengan dirinya yang kritis, sistematis, analitis, yang berujung dengan sebutan sederhana bernama "cerewet".
"Ya nggak gimana-gimana. Katanya kamu pengen nunda. Ya gapapa di tunda. Yang bakal hamil dan ngelairin kan kamu. Masak aku mau maksa-maksa. Senyamannya kamu aja lah." Sahut Argya memuaskan tanya istrinya dengan jawaban yang sama setiap mendapatkan pertanyaan serupa.
"Iya sih aku pengen nunda, Mas. Tapi Mas Argya nggak masalah kan? Kalo memang Mas Argya pengen gakpapa kog kita punya anak tahun depan. Kita program dari sekarang. Jujur aku tu nggak tahan sama tekanan kanan kiri." Ucap Nurma dengan muka manyun. Nggak siap memiliki anak tetapi nggak kuat dengan gunjingan orang-orang.
"Kalo gitu sih terserah kamu. Suka-suka kamu aja." Jawab Argya seperti biasa. Membosankan bagi Nurma. Nurma sering berharap suaminya sedikit kritis dan berbicara lebih gamblang soal isi hatinya. Bukan jawaban-jawab pendek ataupun kalimat "terserah" yang sering membuat Nurma ambigu dan harus membuatnya memutuskan segala sesuatunya sendiri. Ya, walaupun selama ini Argya nggak pernah protes dengan apapun segala keputusan Nurma.
Nurma menyeruput espresso-nya yang mulai dingin.
"Aku kog kepikiran jadi ibu rumah tangga aja ya, Mas?" Ucap Nurma spontan. Entah mendapat ilham dari mana.
"Maksud kamu?" Tanya Argya memandang Nurma sekilas lalu kembali fokus pada jalan depan rumah. Ada orang jualan sapu lewat
"Ya aku nggak kerja. Aku di rumah aja. Ngurusin segala keperluan kamu dan anak kita. Ngurus rumah juga." Ujar Nurma tampak serius berpikir. Otaknya bekerja sistematis menganalisis segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya jika ia menjadi ibu rumah tangga.
"Apa yang bikin kamu berpikir seperti itu, Sayangku?" Tanya Argya mengambil tangan Nurma dan menggenggamnya. Kening Nurma berkerut, tanda ia berpikir keras. Nurma pernah bilang genggaman tangan Argya mengurangi sekresi hormon kortisol dan membuat ia mampu berpikir lebih santai dan tidak emosional. Jadi Argya berinisiatif sering melakukannya tanpa diminta.
"Ya gimana. Jujur aja aku stress, Mas. Tiap hari marah-marah sama kamu. Gegara udah bangun pagi masih aja kerjaan rumah nggak kelar-kelar. Pontang panting nyetrika baju kamu sama baju aku. Masak. Kerja. Pulang kerja rumah masih kotor manggil-manggil minta di bersihin. Belum mau masak aja aku udah capek terus beli. Trus capek tidur deh. Eh udah pagi lagi. Ngulang lagi." Jelas Nurma sedikit emosional.
"Aku nggak masalah kog dengan hal itu." Ucap Argya tenang setengah bosan. Istrinya kumat bawelnya. Dan pasti akan bicara panjang lebar setelah ini.
"Aku tu pengen lo, Mas. Setiap hari kamu makan masakan aku. Kamu berangkat kerja dengan hepi nggak uring-uringan sama aku. Terus pulang kerja aku nyambut kamu dari depan pintu. Kayanya seru jadi ibu rumah tangga seutuhnya." Ucap Nurma memaparkan bayangannya.
Sebenarnya ia bosan setiap hari berkejaran dengan waktu. Bangun pagi-pagi sekali. Tergesa-gesa. Banyak pikiran. Belum kalo ada deadline atau meeting di luar kota. Stress kerjaan. Belum kalau ada lemburan . Pulang kerja sering Nurma isi dengan berkeluh kesah pada Argya. Ketika ia emosi, Pelampiasannya selalu saja suaminya. Ya memang Argya nggak pernah protes. Tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Di rumah aja kayanya lebih enak. Begitu batin Nurma berkata. Mungkin ini saat yang tepat bagi Nurma untuk mengabdikan dirinya untuk suaminya.
"Kamu yakin?" Ujar Argya setengah tak percaya dengan pemaparan Nurma barusan.
"Yakin, Mas. Aku stress juga kerja terus. Pengen deh rehat dulu sebulan dua bulan terus cari kerjaan lain atau buka usaha aja. Tapi kayanya aku bakalan susah mau ngajuin resign. Kecuali kalau...." Ucap Nurma menggantung perkataan yang akan keluar dari mulutnya.
"Kecuali kalau apa...??" Tanya Argya lempeng. Coklat di gelasnya sudah tandas tanpa sisa.
"Kecuali kalau aku hamil, Mas. Pasti bakal mudah proses resign ku." Ujar Nurma pasti. Seolah ia sudah menimbang berbagai kemungkinan.
"Kamu yakin? Kamu nggak bakal gajian loh." Ujar Argya memastikan keputusan istrinya.
"Kan ada gaji dari kamu. Aku pernah baca quotes, Mas. Suami kerja, Istri kerja hasil 100 persen. Suami kerja, Istri di rumah aja hasil juga 100 persen. Aku yakin dengan ketetapan Alloh. Pasti aku bakal lebih di ridhoi dan lebih nggak emosian lagi kalo aku di rumah, Mas. Aku capek sering marah-marah nggak jelas ke kamu terus." Ujar Nurma menyesali tindakannya selama ini tapi ya masih tetap sering mengulanginya lagi dan lagi walaupun Argya selalu sabar menghadapi tingkah polahnya.
"Kalo gitu terserah kamu. Kamu mau resign silahkan. Kamu mau kita punya anak tahun depan juga silahkan. Kalo kamu oke, yakin mau begitu. Aku dukung apapun keputusan kamu." Ujar Argya melepas genggaman tangannya dan menggaruk punggungnya yang berasa gatal.
"Kalau gitu mulai besok aku setop minum pil KB nya ya, Mas." Ujar Nurma lalu bangkit dari duduknya dan membantu Argya menggaruk punggung.
"Agak kanan, yak situ garuk agak keras." Pinta Argya sambil menggeser duduknya. Garukan Nurma memang ampuh untuk mengusir gatal dari punggungnya ketimbang garukannya sendiri.
Nurma sendiri senang masih bisa melakukan hal-hal kecil menyenangkan bersama suaminya. Suaminya yang sabar dan nerima apa adanya Nurma dan segala kekurangannya. Dalam hati, Nurma menyakinkan diri bahwa ia harus segera resign dan mengabdikan diri menjadi istri yang berbakti untuk Argya, suami tercintanya.