Aula serbaguna di Lantai 2 disulap dalam waktu empat jam. Meja panjang ditutup kain hitam berlogo Astra, dilapisi tiga mikrofon. Di belakang, spanduk biru bertuliskan "ASTRA TALENT AGENCY — KLARIFIKASI RESMI". Kursi-kursi lipat berjajar penuh; wartawan berdesakan sampai ke pintu, kamera tripod menjulang di barisan belakang seperti hutan logam.
Renata duduk di tengah, mengenakan jas hitam termahalnya, rambut tersanggul rapi, wajah dipoles sempurna. Di sisinya, Pak Hendra dengan map tebal. Nadine duduk dua kursi dari Renata — bukan karena dipersilakan, tapi karena ia menariknya sendiri ke sana sebelum acara dimulai, dan Renata tak punya cara menyingkirkannya tanpa membuat keributan di depan kamera.
"Selamat sore," Renata membuka, suaranya halus, terlatih. "Terima kasih atas perhatian rekan media. Kami ingin meluruskan informasi yang beredar. Dokumen yang viral semalam adalah dokumen internal yang dikeluarkan dari konteks. Astra adalah agensi yang selama ini membina talenta muda Indonesia dengan penuh tanggung jawab. Tuduhan eksploitasi adalah tuduhan keliru dari pihak yang tidak memahami struktur pembiayaan industri kami."
Lampu blitz menyambar. Seorang wartawan berdiri. "Bu Renata, benarkah ada potongan komisi sampai empat puluh persen?"
"Empat puluh persen itu mencakup seluruh layanan — pelatihan, promosi, jaringan klien," jawab Renata lancar. "Di industri ini itu wajar."
"Lalu utang investasi yang berbunga?"
"Itu fasilitas, bukan jebakan. Setiap model menandatangani kontrak dengan sadar."
Renata berbalik sedikit, hendak melanjutkan, tapi mikrofon ketiga sudah hidup.
"Boleh saya bicara?" Suara Nadine pelan, tapi karena ruangan hening menahan napas, semua orang mendengarnya. Kamera berderak berputar ke arahnya serentak.
Renata membeku setengah detik. "Nadine—"
"Saya menandatangani kontrak itu dengan sadar," kata Nadine, matanya lurus ke barisan kamera, bukan ke Renata. "Itu betul. Saya tujuh belas tahun, baru turun dari bus empat belas jam, membawa uang lima ratus ribu rupiah seluruh tabungan keluarga saya. Saya minta membaca kontraknya. Saya diberi waktu dua menit dan disuruh percaya. Itu yang disebut 'dengan sadar'."
Ruangan senyap. Bahkan kamera seolah berhenti bergetar.
"Saya bukan pihak yang tidak mengerti bisnis," lanjutnya, suaranya tetap rata, membumi, tanpa air mata yang sengaja dipertontonkan. "Saya mengerti betul. Saya mengerti bahwa setelah dua tahun bekerja, teman saya baru impas. Saya mengerti bahwa setelah saya tampil di sampul majalah, di atas kertas saya masih berutang pada agensi yang memakai wajah saya. Itu bukan pembinaan. Itu bukan investasi. Itu sistem yang dibuat supaya kami tidak pernah bisa pergi."
Seorang reporter perempuan di barisan depan menunduk, mencatat cepat. Yang lain mengangkat ponsel, menyiarkan langsung.
Pak Hendra mencondongkan badan ke mikrofon. "Saudari ini sedang dalam sengketa kontrak dan—"
"Saya tidak menjual wajah saya pada Lúmin Paris," potong Nadine, dan untuk pertama kalinya suaranya naik sedikit, bukan oleh marah tapi oleh kepastian. "Mereka minta saya memutihkan kulit, mengubah hidung, menghapus tulang pipi yang saya warisi dari ibu saya, dan mengarang cerita bahwa saya bukan anak nelayan. Tawaran miliaran. Saya menolak. Karena yang mereka beli bukan saya — yang mereka beli adalah kebohongan tentang siapa saya."
Ia berhenti. Menatap kamera. Menatap, lewat kamera, jutaan orang yang sedang menonton — gadis-gadis desa lain yang menatap billboard merah dan bermimpi.
"Saya cuma minta satu hal. Tolong jangan tanya apakah saya pembuat onar. Tanyalah berapa banyak gadis yang bapaknya menjual sawah, menjual perahu, supaya anaknya bisa dibentuk jadi aset yang menguntungkan orang lain. Tanyalah ke mana uang mereka pergi."
Hening yang panjang. Lalu satu tangan terangkat di belakang. Lalu sepuluh. Lalu tiga puluh, semua serentak, semua bertanya ke arah Nadine, bukan ke Renata.
Renata menatap lurus ke depan, wajahnya masih terpoles, tapi Nadine melihat buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja. Skenario itu sudah hilang dari tangannya. Narasi sudah berpindah pemilik di tengah ruangan, di depan tiga puluh kamera, dalam waktu kurang dari lima menit.
Di luar aula, di lobi, beberapa model muda Astra menonton siaran langsung lewat ponsel mereka. Gadis enam belas tahun yang tadi pagi menangis di tangga kini berdiri, ponselnya menyiarkan wajah Nadine yang tenang. Air matanya masih ada, tapi kali ini bercampur sesuatu yang lain.
Harapan.
Sore itu, tagar nama Nadine — nama yang baru beberapa jam lalu hanya inisial — menempati urutan teratas di seluruh negeri. Dan untuk pertama kalinya, badai tidak menghantamnya. Ia berdiri di mata badai, dan badai itu memilih sisinya.