Mereka mengerjakannya di malam hari, ketika asrama yang setengah lumpuh itu paling sunyi. Ruang latihan jadi markas. Maya menempel kertas-kertas di dinding cermin — kertas yang selama ini dipakai melihat postur, kini dipakai melihat kebenaran. Setiap nama yang mereka kumpulkan ditulis dengan spidol, dilengkapi tahun masuk, potongan, denda, dan satu kolom yang paling menyakitkan: keluar karena apa.
"Rina," kata Maya, menempel kertas pertama. "Masuk tiga tahun lalu, dari Garut. Dicoret karena beratnya tidak turun di bawah lima puluh tiga. Sekarang jualan online di kampung. Aku sudah hubungi. Dia takut, tapi mau cerita."
"Dewi," lanjut Vania, mengejutkan semua orang karena ia datang membawa daftarnya sendiri — kontak-kontak dari masa tiga tahunnya di Astra, lebih banyak dari yang dikira siapa pun. "Patah pergelangan kaki saat latihan, tetap disuruh jalan, tidak diobati. Sekarang kakinya tidak bisa untuk hak tinggi lagi. Astra menagih utang 'pelatihan' yang katanya belum lunas, padahal dia yang dirugikan."
Satu per satu kertas memenuhi dinding cermin sampai bayangan mereka sendiri tertutup oleh nama-nama itu. Lima belas. Lalu delapan belas. Lalu dua puluh tiga. Sebagian masih di asrama, masih takut-takut keluar dari kamar. Sebagian sudah lama pergi, tersebar ke berbagai kota, membawa luka yang tak pernah didiagnosis.
Tapi tidak semua mau.
"Aku tidak bisa," kata seorang model di telepon, suaranya bergetar lewat pengeras suara. Namanya Putri, salah satu yang paling lama dipotong gajinya. "Kalau aku bersaksi, agensi lain tidak akan mau pakai aku lagi. Aku sudah dua puluh tiga tahun, sudah hampir tua untuk industri ini. Ini satu-satunya keahlianku."
"Putri," kata Nadine pelan ke arah telepon, "kalau diam, kamu cuma menyelamatkan diri sendiri sebentar. Tapi gadis-gadis di bawah kita akan masuk ke lubang yang sama."
Hening lama di seberang. "Aku tahu," kata Putri akhirnya. "Tapi aku capek jadi pahlawan, Nadine. Aku cuma mau makan." Telepon ditutup.
Vania menatap layar ponsel yang gelap. "Dia tidak salah," katanya pelan, dan ada nada baru dalam suaranya — bukan sinis, tapi pahit yang memahami. "Tidak semua orang sanggup membayar harga keberanian."
Nadine duduk di lantai, menatap dinding penuh nama. Beberapa kolom "mau bersaksi" terisi. Banyak yang kosong, atau bertuliskan "ragu", "takut", "tidak bisa dihubungi". Daftar korban ternyata jauh lebih panjang dari daftar saksi. Itu kebenaran yang paling menyakitkan tentang ketidakadilan: korbannya selalu lebih banyak daripada yang berani menyebut dirinya korban.
Bu Laras, yang ikut bergadang malam itu, melihat ekspresi Nadine dan duduk di sampingnya. "Kau kecewa karena banyak yang menolak."
"Iya," aku Nadine.
"Dengar," kata Bu Laras. "Dalam dua belas tahun saya tidak pernah punya kasus dengan saksi seratus persen. Tidak pernah. Yang berani bicara selalu sedikit. Yang takut selalu banyak. Tapi tahu apa yang saya pelajari?" Ia menunjuk satu nama di dinding, lalu nama di sebelahnya. "Satu saksi yang berani memberi keberanian pada yang ragu di sebelahnya. Yang ragu itu memberi keberanian pada yang takut. Keberanian itu menular, Nak, pelan tapi menular. Kau tidak perlu seratus orang hari ini. Kau perlu cukup orang yang berani lebih dulu."
Nadine menatap dinding lagi. Kali ini ia tidak melihat kolom-kolom kosong. Ia melihat lima belas nama yang sudah menulis "ya". Lima belas gadis yang, beberapa minggu lalu, akan menunduk dan diam selamanya.
Maya menempel satu kertas terakhir malam itu. Di kertas itu tidak ada nama. Hanya tulisan: RANJANG ATAS — KAMAR 3 — PENGHUNI SEBELUM NADINE. TIDAK DIKETAHUI NAMANYA.
"Aku mau cari tahu siapa dia," kata Maya pelan. "Yang tidur di ranjang yang sekarang kosong. Dia juga korban. Cuma karena kita tidak tahu namanya, bukan berarti dia tidak ada."
Nadine mengangguk. Ranjang kosong itu, yang sejak hari pertama menghantuinya seperti peringatan, kini menjadi simbol. Bukan ancaman lagi, melainkan janji: ia akan mencari nama setiap orang yang dihapus.
Malam itu, ketika lampu ruang latihan akhirnya dimatikan, dinding cermin di belakang mereka tetap penuh nama-nama dalam gelap. Dua puluh tiga lembar kertas. Dua puluh tiga manusia yang selama ini hanya angka di buku besar Astra.
Besok, jumlahnya harus bertambah.