Hari pertama Pekan Mode Nasional, gedung pameran itu terasa seperti dunia lain. Lantai marmer, lampu sorot, ratusan orang berpakaian rapi berlalu-lalang dengan tanda pengenal tergantung di leher. Akar diberi satu ruang ganti kecil di sudut belakang, jauh dari ruang mewah merek-merek besar, tapi mereka tidak peduli. Mereka di sini. Itu saja sudah keajaiban.
Peragaan Akar dijadwalkan pagi hari kedua, slot pembuka. Malam sebelum tampil, mereka membongkar koper berisi koleksi "Tangan": gamis Bu Sekar yang dibordir tangan, kebaya, batik, semua disetrika rapi dan digantung di rak pinjaman. Kirana, dengan tulisannya yang rapi, menempel label nama di setiap busana agar tidak tertukar saat berganti cepat di belakang panggung.
Pagi tampil, mereka datang pukul lima, jauh sebelum yang lain. Nadine ingin memastikan segalanya sempurna. Tapi begitu membuka pintu ruang ganti, ia tahu ada yang salah.
Bau menyengat memenuhi ruangan. Bau cat. Bukan, bukan cat. Cairan kimia.
"Tidak," bisik Maya, berlari ke rak busana.
Koleksi "Tangan" ternoda. Bukan semua, tapi yang utama: gamis pembuka Bu Sekar, kebaya penutup, dan dua busana sorotan tengah. Cairan kuning kecokelatan menyebar di kain, mengeras, merusak bordir tangan yang dikerjakan berbulan-bulan. Seseorang menyiram pewarna industri ke busana mereka, lalu pergi.
Ruangan itu hening dalam kepanikan. Tika, yang ternyata kembali membantu meski sudah tidak resmi anggota, mulai menangis. "Tiga jam lagi kita tampil. Tiga jam. Tidak ada waktu memesan ganti. Tidak ada penjahit yang—"
"Tenang," kata Nadine, meski jantungnya berdebar keras. Ia memeriksa kerusakan satu per satu, tangannya yang terlatih meraba kain, menilai. Pola ini terlalu familiar. Gaun yang disobek di Astra. Gaun Elegan yang ternoda kopi. Bertahun-tahun lalu, di tangan Vania. Tapi Vania berdiri di sampingnya sekarang, wajahnya pucat oleh kemarahan, bukan rasa bersalah.
"Ini bukan kebetulan," kata Vania, suaranya dingin. "Ruang ini dikunci semalam. Aku yang pegang kuncinya. Siapa pun yang masuk, mereka punya akses ke kunci cadangan. Itu artinya orang dalam acara. Atau orang dalam kita."
Kata terakhir itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan.
Nadine menolak memikirkannya sekarang. "Kita punya tiga jam," katanya, dan dalam suaranya kembali nada yang dulu ia pakai di editorial Metamorfosis, ketika gaun penutup ternoda dan ia harus berimprovisasi dengan kain sutra dan gunting. "Kita tidak akan mundur. Kita perbaiki."
"Perbaiki bagaimana?" tanya Tika putus asa. "Bordirnya hancur, Nadine."
Nadine mengeluarkan peralatan jahit ibunya dari tasnya. Gunting, peniti, jarum, benang. Benda-benda yang selalu ia bawa, warisan dari perempuan yang sudah tiada. "Bordir hancur bisa kita tutupi. Tapi kita tidak akan menutupinya seolah tidak ada." Ia berpikir cepat, otaknya berputar. "Kita potong bagian yang rusak. Kita ganti dengan kain lain, kain berbeda warna, dan kita jahit ulang. Bukan menyembunyikan luka. Memamerkan jahitannya."
Maya mengerti lebih dulu. "Tambal sulam. Patchwork."
"Tepat." Mata Nadine menyala. "Selama ini koleksi kita bercerita tentang tangan manusia. Sekarang kita tunjukkan tangan manusia yang menyembuhkan. Kain yang terluka, lalu dijahit kembali jadi sesuatu yang baru. Bukankah itu cerita Akar sendiri?"
Maya, Kirana, dan dua model yang bisa menjahit langsung bekerja. Mereka membongkar sumbangan kain sisa dari Bu Sekar, memotong bagian rusak, menyulam tambalan dengan benang warna kontras yang justru menonjol, sengaja terlihat. Jahitan itu kasar, jujur, indah dengan caranya sendiri. Madame Sylvia, yang datang dan melihat bencana itu, tidak panik. Ia berdiri di belakang mereka, mengawasi, sesekali memberi saran soal proporsi.
"Tahukah kalian," kata Sylvia pelan sambil mengamati tangan Nadine bergerak cepat, "di Milan, ada desainer yang sengaja merobek lalu menjahit ulang gaunnya, menyebutnya seni. Mereka menamainya kintsugi tekstil. Memamerkan keretakan alih-alih menyembunyikannya." Ia menyeringai tipis. "Kalian melakukan apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup, bukan untuk gaya. Itu lebih jujur."
Tiga jam berlalu seperti tiga menit. Tangan Nadine kram, jarinya tertusuk jarum berkali-kali, tapi ia tidak berhenti. Sepuluh menit sebelum tampil, busana terakhir selesai. Tidak sempurna. Tapi hidup.
Saat lampu panggung menyala dan para model Akar melangkah keluar dengan busana bertambal yang justru memukau, dengan benda kesayangan tergenggam di tangan, ruangan yang penuh wartawan mode dan desainer ternama itu hening. Lalu, satu per satu, tepuk tangan dimulai. Bukan tepuk tangan sopan. Tepuk tangan yang tulus.
Nadine berjalan terakhir, mengenakan kebaya hitam bertambal kain merah di dadanya, tepat di atas jantung. Ia tidak tahu apakah penonton menyadari bahwa enam jam lalu busana ini hampir hancur. Ia tidak peduli. Ia menatap satu titik di kejauhan, titik yang ia bayangkan sebagai ibunya, dan ia tersenyum.
Tapi di balik panggung, setelah tepuk tangan reda, Vania menarik Nadine ke sudut. Wajahnya kelam.
"Aku menemukan ini," bisiknya, menyodorkan sesuatu di telapak tangannya. Sebuah botol kecil pewarna industri, kosong. "Tersembunyi di tempat sampah ruang ganti kita. Dan label harganya..." Ia menunjuk stiker kecil. "Dari toko khusus. Toko yang sama yang memasok Vertikal." Ia menatap Nadine. "Mereka tidak menyabotase kita supaya kita gagal. Mereka tahu kita akan bertahan. Mereka melakukannya supaya kita tahu mereka bisa menyentuh kita kapan saja. Ini peringatan."
Nadine menggenggam botol kosong itu. Sabotase bergaya baru. Bukan untuk menjatuhkan. Untuk menakuti.
"Dan satu hal lagi," kata Vania, suaranya turun jadi bisikan paling lirih. "Kunci cadangan ruang ganti cuma dipegang dua orang. Aku, dan satu anggota kita yang lain." Matanya gelap. "Kita punya tikus di dalam Akar, Nadine."