Penerbangan pulang terasa lebih panjang dari empat belas jam mana pun dalam hidup Nadine.
Ia duduk di kursi yang lebih nyaman dari apa pun yang pernah ia tahu — Claire memesankan kelas tercepat — tapi kenyamanan itu terasa seperti ejekan. Setiap jam yang terbuang di udara adalah satu jam ia tidak ada di sisi ayahnya. Maya duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya. Vania dan Kirana menyusul penerbangan berikutnya untuk mengurus kepulangan barang-barang Akar dan koleksi pameran.
"Aku terus memikirkannya," kata Nadine pelan, menatap awan di luar jendela, awan yang sama yang beberapa hari lalu ia kagumi seperti anak kecil. "Setiap kali aku menelepon dari telepon umum, Bapak selalu bilang dia baik-baik saja. Selalu. 'Ikan banyak, Nak. Laut tenang. Jangan khawatir.' Aku percaya saja. Aku terlalu sibuk dengan duniaku, dengan Akar, dengan perang melawan dalang itu, dengan Paris. Aku lupa menanyakan kabarnya dengan benar."
"Kamu mengirim uang setiap bulan," kata Maya. "Kamu menelepon. Kamu tidak melupakannya, Nadine."
"Mengirim uang bukan hadir." Nadine menutup matanya. "Aku punya seluruh dunia di tanganku, dan aku tidak ada di satu tempat yang seharusnya."
Maya tidak menjawab. Ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata, hanya bisa ditemani.
Di tengah penerbangan, saat lampu kabin diredupkan dan sebagian besar penumpang tidur, Nadine mengeluarkan kotak kayu kecil yang selalu ia bawa. Foto ibunya. Perempuan dengan tulang pipi yang sama, tersenyum di depan mesin jahit tua. Ia menatap foto itu lama-lama.
"Bu," bisiknya, terlalu pelan untuk didengar Maya. "Aku tahu Ibu menjaga Bapak. Tolong jaga dia sampai aku sampai. Jangan ambil dia dulu. Aku belum pulang. Aku belum sempat menunjukkan semuanya pada Bapak. Aku belum sempat bilang dia benar — soal hati yang tidak boleh berubah, soal pantai yang tidak boleh hilang."
Ia teringat kata-kata ayahnya, tepat sebelum ia terbang ke Paris pertama kali. Sejauh apa pun perahu pergi, ia selalu tahu jalan pulang ke pantainya. Jangan pernah hilangkan pantaimu, Nadine.
Ia tidak pernah menyangka secepat ini ia harus pulang. Dan ia tidak pernah menyangka pulang bisa terasa seberat ini.
Ponselnya, yang ia nyalakan begitu pesawat transit di bandara Asia, langsung dibanjiri pesan. Maya membantunya menyaring. Sebagian adalah ucapan selamat atas debut Paris — wartawan, agensi lain, bahkan beberapa nama yang dulu mencibirnya. Foto-foto dirinya di runway sudah menyebar ke seluruh dunia, tagar namanya menanjak. Di mata jutaan orang, Nadine sedang berada di puncak yang tak terbayangkan.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa perempuan di foto itu sedang duduk meringkuk di kursi pesawat, menggenggam ponsel berisi nomor sebuah rumah sakit kabupaten yang catnya mengelupas.
"Lucu, ya," kata Nadine, menatap salah satu foto dirinya di layar — gaun hitam Lúmin, selendang Bu Sekar, dagu terangkat. "Di foto ini aku terlihat seperti orang yang punya segalanya. Padahal aku tidak pernah merasa sekecil ini seumur hidupku."
"Itu karena yang penting tidak pernah ada di foto," kata Maya pelan. "Foto cuma menyimpan yang bisa dilihat. Yang membuatmu kuat — ayahmu, ibumu, desamu — tidak pernah masuk kamera. Itu yang membuatmu beda dari boneka, Nadine. Boneka cuma punya yang di foto."
Nadine mematikan layar ponselnya, dan untuk sisa penerbangan, ia tidak membukanya lagi.
Saat pesawat mendarat di Jakarta, Nadine tidak singgah ke markas Akar. Tidak ke kontrakan, tidak ke mana pun. Ia langsung menyewa mobil bersama Maya, menempuh perjalanan darat berjam-jam ke kabupaten tempat ayahnya dirawat — jalan yang melewati Jakarta, melewati kota-kota, lalu pelan-pelan berubah menjadi jalan beraspal sempit, lalu jalan tanah merah yang ia kenal seumur hidupnya.
Bau itu datang sebelum laut terlihat. Bau ikan asin, garam, lumpur pasang surut. Bau yang di Paris ia rindukan tanpa tahu namanya. Bau rumah.
Rumah sakit kabupaten itu kecil dan tua, catnya mengelupas, kipas angin berputar lelah di langit-langit. Sangat jauh dari lobi marmer Lúmin. Nadine berlari menyusuri lorong, masih mengenakan pakaian perjalanan yang lusuh, rambutnya kusut, tidak ada satu pun yang mengenalinya sebagai wajah yang malam itu membuat Paris berdiri.
Di depan sebuah pintu bangsal, Sari menunggunya. Gadis desa itu — kini perempuan dewasa — langsung memeluk Nadine, dan keduanya menangis di lorong rumah sakit.
"Dia masih di sini," bisik Sari. "Dia masih bertahan, Nadine. Dia menunggumu. Aku tahu dia menunggumu, walau dia melarang aku menelepon."
Nadine melepaskan diri, menyeka air mata, dan dengan jantung yang nyaris berhenti, mendorong pintu bangsal itu.