Nadine kembali ke Jakarta dua minggu kemudian, saat ayahnya cukup kuat untuk ditinggal dalam pengawasan Sari dan para tetangga, dengan janji ia akan menelepon setiap hari dan pulang setiap ada celah.
Markas Akar — gudang sewa di Jakarta Selatan — menyambutnya seperti rumah kedua. Tapi suasananya berbeda. Tegang. Di dinding, Maya dan Vania sudah menempel kertas-kertas, foto-foto, garis-garis benang yang menghubungkan nama dengan nama. Papan investigasi seorang detektif amatir yang taruhannya nyawa.
"Selama kamu di desa, kami tidak diam," kata Vania, menunjuk papan itu. "Kami menggali Vertikal sampai ke akarnya. Dan apa yang kami temukan—" ia menatap Nadine, "—lebih buruk dari dugaan kita."
Maya mengambil alih, menunjuk satu per satu. "Vertikal mengaku agensi independen yang didanai sekelompok investor muda yang peduli pada kesejahteraan model. Itu cerita resminya. Wajahnya bersih. Bahkan mereka pakai bahasa kita — 'kontrak adil', 'transparansi', 'model sebagai mitra, bukan aset'. Mereka mencuri kosakata perlawanan kita dan menjual ulang sebagai produk."
"Aku selalu curiga pada itu," kata Nadine. "Terlalu sempurna. Terlalu pas dengan apa yang orang ingin dengar setelah skandal Astra."
"Curigamu benar." Vania menarik selembar bagan kepemilikan, rumit seperti jaring laba-laba. "Kami menelusuri pendanaan Vertikal. Di permukaan, ada tiga perusahaan investasi yang katanya 'investor muda peduli'. Tapi tiga perusahaan itu sahamnya dimiliki oleh perusahaan lain. Yang dimiliki perusahaan lain lagi. Tujuh lapis perusahaan cangkang, Nadine. Tujuh. Setiap lapisan dibuat untuk menyembunyikan lapisan di atasnya."
Nadine mendekat ke papan, jarinya menelusuri garis-garis benang itu seperti dulu ia menelusuri jahitan kain yang rusak. "Dan semua tujuh lapisan ini... mengarah ke mana?"
"Ke satu titik." Maya menunjuk pusat jaring, sebuah kotak kosong dengan tanda tanya. "Satu yayasan keluarga. Satu nama yang sengaja dikubur dalam tujuh lapis kertas hukum. Kami belum bisa membaca namanya — dokumennya terkunci. Tapi kami menemukan satu hal yang membuat semuanya jatuh ke tempatnya."
Ia menggeser sebuah dokumen tua ke meja. "Ini akta pendirian Astra. Yang lama, dari masa sebelum kamu masuk. Bu Laras menggalinya dari arsip pengadilan setelah sidang dulu." Ia menunjuk satu nama perusahaan investor di bagian bawah, lalu menggeser dokumen Vertikal di sebelahnya, menunjuk salah satu dari tujuh cangkang. "Lihat. Notaris yang sama. Alamat terdaftar yang sama — sebuah ruko kosong di Jakarta Pusat yang ternyata cuma kotak surat. Pola pendirian yang sama persis."
Nadine menatap dua dokumen itu berdampingan, dan dingin merayap dari tulang punggungnya ke ubun-ubun.
"Astra dan Vertikal," bisiknya, "dibuat oleh tangan yang sama. Pola yang sama. Notaris yang sama. Kotak surat yang sama."
"Astra hancur karena kita," kata Vania, suaranya rendah dan pahit. "Kontraknya viral, pengadilan membatalkan klausanya, Renata jatuh. Kita pikir kita menang. Kita pikir kita menumbangkan musuh." Ia menggeleng. "Tapi yang kita tumbangkan cuma satu kepala. Tubuhnya tidak pernah mati. Dia cuma menumbuhkan kepala baru, kali ini berwajah ramah, berbicara bahasa kita sendiri, supaya kita tidak mengenalinya sebagai monster yang sama."
Kirana, yang sejak tadi diam di sudut, akhirnya bicara, suaranya pelan tapi pasti. "Itu sebabnya Vertikal merekrut Renata. Karena Renata sudah tahu rahasianya sejak zaman Astra. Dia tahu siapa yang ada di balik tujuh lapis kertas ini. Dia bagian dari mesin lama, dipasang kembali ke mesin baru."
Ruangan itu hening, hanya suara kipas angin tua berputar.
"Jadi selama ini," kata Nadine pelan, menatap kotak kosong dengan tanda tanya di pusat jaring, "kita tidak melawan Astra. Lalu kita tidak melawan Vertikal. Kita selalu melawan satu orang. Satu orang yang membangun kerajaan dari boneka dan kertas, yang mengganti topeng setiap kali topengnya terbakar." Ia menyentuh kotak kosong itu. "Imperium ini punya satu pemilik. Dan sudah waktunya kita tahu namanya."
Vania menatap papan itu, lalu menatap Nadine. "Bu Laras sudah hampir membuka lapisan terakhir. Satu dokumen lagi. Satu nama." Ia menarik napas. "Besok, kita akan tahu siapa yang sebenarnya kita lawan sejak hari pertama."