Perempuan itu menunggu di sudut paling gelap sebuah kedai kopi tua di Jakarta Kota, memesan teh tawar dan tidak menyentuhnya.
Nadine mengenalinya begitu masuk. Dewi. Asisten pribadi Renata yang dulu jadi mata-mata, yang melaporkan percakapan Nadine tentang "melawan" ke Renata — sebelum akhirnya membelot dan bersaksi di pihak para model saat sidang Astra. Sudah lama Nadine tak melihatnya.
"Saya tahu apa yang Anda pikirkan," kata Dewi sebelum Nadine sempat duduk. "Anda pikir saya sudah selesai membantu. Bahwa saya sudah menyerahkan semuanya dulu."
"Bukankah begitu?"
"Saya pernah jadi alat." Ia menggeser ponsel lamanya ke tengah meja. "Sama seperti Bu Renata. Sama seperti banyak orang. Dan ada hal yang dulu tidak berani saya serahkan — yang lebih besar dari Astra."
Nadine terdiam. Saat sidang dulu, Dewi memberi bukti tentang Renata dan Astra. Tapi rupanya ada lapisan yang ia simpan.
"Saya menyimpan ini selama bertahun-tahun," kata Dewi, menyentuh ponsel itu. "Rekaman. Selama jadi asisten Bu Renata, saya yang mengatur jadwalnya, mendengarkan teleponnya, menyiapkan dokumennya. Saya tahu hal-hal yang Bu Renata sendiri lebih suka lupa." Ia menatap Nadine. "Saya tahu siapa yang sebenarnya memiliki Astra."
Nadine merasakan jantungnya berdegup. Selama berbulan-bulan, mereka memburu bayangan di atas Renata. Investor misterius berinisial. Sosok yang lebih tinggi.
"Kenapa Anda baru menyerahkan ini sekarang?"
"Karena dulu saya masih takut," jawab Dewi jujur. "Waktu sidang Astra, saya berani bersaksi soal Renata. Tapi rekaman ini menyentuh orang yang jauh lebih besar — orang yang mengancam lewat anak saya. Saya tidak berani mempertaruhkan dia. Wirakusuma — lewat perantaranya — pernah memberi saya uang untuk diam, lalu untuk membocorkan strategi pembelaan kalian dulu. Saya melakukannya. Saya tidak akan berpura-pura mulia." Ia menelan ludah. "Tapi anak saya kini aman, jauh, tak lagi bisa mereka jadikan tuas. Dan tiba-tiba saya tidak punya alasan lagi untuk takut. Saya cuma punya rasa malu yang harus saya bayar."
Ia memutar salah satu rekaman. Suara Renata, bertahun lalu, terdengar lelah dan tertekan, bicara di telepon: "...saya sudah lakukan semuanya seperti perintah Tuan. Tapi kalau ini meledak, nama saya yang muncul, bukan nama Tuan. Anda berdiri di balik tirai dan saya yang dibakar..."
Lalu suara di seberang, tenang, dingin, suara pria tua yang biasa dituruti: "Itu sebabnya kau dibayar mahal, Renata. Tirai harganya nyawa-nyawa kecil seperti kau."
Dewi menghentikan rekaman. "Itu suara Tuan Wirakusuma. Ada belasan rekaman lain. Struktur kepemilikan — Astra, lalu Vertikal, lewat tujuh perusahaan cangkang yang semuanya bermuara ke satu yayasan keluarga. Saya punya catatannya. Saya yang menyalin dokumen-dokumennya dulu."
Nadine menatap perempuan di hadapannya. Dulu ia membenci Dewi sebagai mata-mata, sebelum tahu betapa dalam ia sendiri terjerat. Sekarang ia melihat seseorang yang sama-sama terjerat sistem, sama seperti dirinya, sama seperti Renata, sama seperti Vania — hanya berbeda titik di mana mereka memilih berhenti membungkuk.
"Kenapa Anda percaya pada saya?" tanya Nadine.
"Karena Anda satu-satunya orang yang saya lihat bilang tidak pada Astra dan tidak hancur," jawab Dewi. "Anda yang dulu membuat saya berani berhenti membungkuk. Sekarang saya ingin menyelesaikannya. Walau terlambat."
Nadine mengeluarkan ponselnya dan menelepon Bu Laras, pengacara pembela buruh yang sudah mendampingi mereka sejak skandal Astra meledak. "Bu Laras, saya punya saksi. Dan rekaman. Saya butuh Anda di sini sekarang, untuk memastikan semuanya sah secara hukum."
Dewi menggeser ponsel lamanya lebih dekat ke tangan Nadine, gerakan menyerahkan, gerakan melepas beban.
"Ada satu hal lagi yang harus Anda tahu," kata Dewi pelan. "Wirakusuma tidak hanya mau menghancurkan Anda. Dia mau merekrut Anda. Dia bilang pada Bu Renata, orang sekeras kepala Anda lebih berguna dibeli daripada dikubur. Hati-hati, Nadine. Serangan berikutnya bukan foto palsu. Tapi tawaran yang manis."