Undangannya datang dalam amplop tebal berlapis kain sutra abu-abu, diantar kurir bersarung tangan putih. Di dalamnya hanya sebuah kartu: makan malam pribadi, sebuah restoran di lantai paling atas hotel termewah Jakarta, satu nama tertera di bawah — Wirakusuma.
"Jangan datang," kata Maya tegas. "Ini jebakan."
"Justru karena ini jebakan, aku harus datang," jawab Nadine. "Aku mau melihat wajahnya. Selama ini dia cuma bayangan, foto palsu, rekaman suara. Aku mau melihat orang yang menghancurkan Madame Sylvia, yang membakar Renata, dengan mataku sendiri."
Vania bersikeras Nadine memakai alat perekam. Bu Laras mengingatkan agar Nadine tidak menandatangani apa pun. Mereka semua cemas. Tapi Nadine tetap pergi, mengenakan gaun sederhana berwarna tanah — bukan gaun mewah, melainkan kain yang ia jahit sendiri, dengan tepian yang mengingatkannya pada laut Pasir Putih.
Restoran itu kosong. Seluruh lantai dipesan untuk satu meja.
Tuan Wirakusuma jauh lebih tua dari yang Nadine bayangkan. Rambutnya putih sempurna, kulitnya halus terawat, dan ia tersenyum hangat — terlalu hangat — saat Nadine duduk.
"Akhirnya," kata pria itu. "Anak nelayan dari Pasir Putih. Kau tahu, aku sudah mengamatimu sejak kau menolak Lúmin bertahun lalu. Saat itu aku marah. Sekarang aku kagum."
"Anda menyebar foto palsu tentang saya," kata Nadine datar.
Wirakusuma mengangkat tangan, seolah menepis lalat. "Bisnis. Strategi. Jangan kita bicarakan hal-hal kecil." Ia menuangkan anggur yang tidak disentuh Nadine. "Aku panggil kau ke sini bukan untuk perang. Perang itu mahal dan membosankan. Aku punya tawaran."
Ia menggeser sebuah map kulit ke seberang meja.
"Kau memimpin Akar, kolektif kecilmu, dengan susah payah. Sewa gudang. Klien butik gang sempit. Idealisme yang indah, tapi miskin." Ia tersenyum. "Aku tawarkan: jadilah wajah dari imperiumku. Aku akan membuat Akar jadi merek nasional. Setiap model di kolektifmu akan kaya. Kau akan punya panggung dunia, kontrak ratusan miliar, sekolah model atas namamu. Semua impianmu — terwujud."
"Syaratnya?"
"Sederhana." Wirakusuma menatapnya, dan untuk sekejap senyumnya lenyap, memperlihatkan sesuatu yang dingin di baliknya. "Berhenti bicara soal 'kontrak adil', 'eksploitasi', 'reformasi industri'. Berhenti jadi pahlawan. Industri ini butuh wajah cantik, bukan nabi. Telan idealismu — cukup itu. Dan dunia ada di tanganmu."
Nadine menatap map kulit itu. Ia tahu, di dalamnya, ada angka-angka yang bisa mengubah hidup ayahnya, hidup Maya, Vania, Kirana, semua model yang kini berjuang dari klien ke klien. Tawaran ini nyata. Inilah racun yang paling berbahaya — bukan ancaman, tapi kebaikan palsu.
Ia teringat malam bertahun lalu, di aula Astra, saat tim Lúmin menyodorkan kontrak miliaran dengan syarat ia mengubah wajahnya. Saat itu yang diminta adalah kulitnya, hidungnya, tulang pipi ibunya. Sekarang yang diminta lebih dalam — bukan wajahnya, melainkan jiwanya.
"Anda tahu," kata Nadine pelan, "Anda dan Lúmin yang dulu, kalian sama. Dulu mereka minta saya mengubah kulit. Anda minta saya mengubah hati. Keduanya namanya sama: jadi boneka."
Wirakusuma tidak tersinggung. Ia hanya tersenyum lebih lebar. "Semua orang punya harga, Nadine. Aku cuma belum menyebut angka yang tepat. Pulanglah. Pikirkan. Lihat wajah ayahmu yang tua, lihat model-modelmu yang lelah. Lalu kita bicara lagi." Ia menggeser map itu lebih dekat. "Bawa ini. Sebagai oleh-oleh."
Nadine berdiri. Ia tidak menyentuh map kulit itu.
"Saya tidak butuh waktu untuk berpikir, Tuan. Tapi saya akan ambil sesuatu dari meja ini." Ia mengangkat segelas air putih, bukan anggur, dan meminumnya sampai habis. "Air. Karena saya datang dari tempat di mana air laut yang asin pun lebih jujur daripada anggur Anda."
Saat Nadine melangkah keluar dari restoran kosong itu, ponselnya di saku terus merekam. Dan di dadanya, ada satu hal yang Wirakusuma tidak akan pernah bisa beli: kepastian tentang siapa dirinya.