Gedung dengar pendapat itu dingin dan besar, berdinding marmer abu-abu yang memantulkan langkah kaki. Nadine duduk di kursi saksi, mengenakan blus putih sederhana dan rambut hitamnya disanggul rapi. Tidak ada riasan tebal, tidak ada gaun desainer. Maya yang memilihkan pakaian itu tadi pagi. "Mereka harus melihat manusia," kata Maya, "bukan model."
Ruangan penuh. Di barisan depan duduk para anggota komisi, lalu wartawan, lalu deretan model yang datang memenuhi balkon pengunjung sampai mereka harus berdiri berdesakan. Di sisi seberang ruangan, di balik meja panjang dari kayu mengkilap, duduk Tuan Wirakusuma.
Nadine baru pertama kali melihatnya langsung. Pria itu berusia sekitar enam puluh, rambut perak disisir ke belakang, jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna. Wajahnya tenang, bahkan ramah, seperti seorang kakek yang dermawan. Tapi matanya — Nadine mengenali tatapan itu. Tatapan orang yang melihat manusia sebagai angka di neraca. Tatapan yang sama dengan Renata, hanya saja lebih dingin, lebih dalam, karena Wirakusuma adalah sumbernya, bukan cermin.
Ketua komisi mengetuk palu. "Sidang dengar pendapat publik tentang praktik kontrak dalam industri model dibuka. Kami memanggil saksi pertama: Saudari Nadine."
Nadine berdiri. Lututnya gemetar sedikit, tapi suaranya tidak.
"Nama saya Nadine," katanya ke mikrofon. "Nama lahir saya Nadine Pratiwi. Saya anak nelayan dari Desa Pasir Putih. Dua tahun lalu saya datang ke Jakarta dengan uang lima ratus ribu rupiah dari ayah saya dan koper bekas peninggalan ibu saya yang sudah meninggal."
Ruangan hening. Bahkan wartawan berhenti mengetik.
"Saya menandatangani kontrak dengan Astra Talent Agency tanpa benar-benar memahaminya. Saya kira saya akan jadi model. Yang saya tidak tahu, sejak hari pertama saya sudah dibuat berutang. Potongan pelatihan tiga puluh persen. Akomodasi dua puluh persen. Komisi agensi empat puluh persen. Lalu utang 'investasi' yang berbunga, denda untuk sepatu hilang yang sebenarnya disabotase, denda untuk berat badan, denda untuk hal-hal yang bahkan tidak saya mengerti." Ia mengangkat map. "Setelah satu tahun bekerja keras, secara di atas kertas, saya masih berutang pada agensi yang mempekerjakan saya."
Seorang anggota komisi mencondongkan badan. "Saudari, apakah Anda menganggap ini kasus terisolasi?"
"Tidak, Pak." Nadine membalik halaman map. "Bu Laras dan tim kami menerima lebih dari tiga ratus aduan dalam dua minggu, dari dua belas kota. Polanya sama. Angkanya sama. Klausanya hampir kata per kata sama. Seolah dicetak dari satu cetakan." Ia mengangkat wajah, dan untuk sesaat matanya bertemu mata Wirakusuma di seberang ruangan. "Pertanyaannya, Pak, siapa yang membuat cetakan itu."
Pengacara Wirakusuma berdiri cepat. "Keberatan. Saksi berspekulasi. Astra, Vertikal, dan agensi-agensi lain adalah badan hukum terpisah dengan pemilik berbeda. Tidak ada bukti keterkaitan."
"Pengacara benar," kata ketua komisi. "Saudari Nadine, batasi kesaksian pada pengalaman Anda sendiri."
Nadine mengangguk pelan. Ia tahu permainan ini. Ia tahu Wirakusuma bersembunyi di balik tumpukan badan hukum, boneka di atas boneka, sehingga jika satu jatuh yang lain tetap berdiri. Tapi ia juga tahu satu hal yang tidak diketahui pengacara itu: bahwa hari ini, di gedung ini, ada orang-orang yang siap menarik benang yang menghubungkan semua boneka itu.
"Baik, Pak," kata Nadine. "Saya batasi pada pengalaman saya. Tapi izinkan saya mengatakan satu hal." Ia menatap deretan model di balkon, wajah-wajah muda yang menatapnya penuh harap. "Saya tidak datang ke sidang ini untuk diri saya sendiri. Saya sudah bebas. Pengadilan sudah menghapus utang saya. Saya datang untuk mereka." Ia menunjuk balkon. "Anak-anak yang masih dijerat hari ini, di menit ini, sementara kita bicara. Untuk setiap menit kita menunda, ada gadis enam belas tahun yang ditimbang seperti daging di pasar dan diberitahu tubuhnya bukan miliknya."
Wirakusuma, di seberang, tersenyum tipis. Senyum yang sopan dan mematikan. Ia mengangkat tangannya, dan ketua komisi mempersilakannya bicara.
"Yang Mulia anggota komisi," kata Wirakusuma. Suaranya halus, hangat, seperti beludru. "Saya menghormati semangat anak muda ini. Sungguh. Tapi industri mode adalah industri keras di seluruh dunia. Pelatihan mahal. Investasi berisiko. Tidak semua model berhasil. Apa yang Saudari sebut eksploitasi, sebagian orang menyebutnya profesionalisme. Kita harus hati-hati agar tidak menghancurkan industri yang memberi nafkah ribuan orang hanya karena beberapa keluhan emosional."
Beberapa anggota komisi mengangguk. Nadine merasakan tanah seolah bergeser di bawah kakinya. Pria ini pandai. Ia membuat kekejaman terdengar seperti akal sehat.
Lalu pintu di belakang ruangan terbuka.
Semua kepala menoleh. Seorang perempuan berdiri di ambang, mengenakan mantel gelap, wajahnya tirus dan pucat, tapi tegak. Nadine menahan napas. Ia mengenali sosok itu.
Renata Wijaya.