Apa yang dimulai di ruang dengar pendapat itu tidak berhenti di sana. Bukti yang diserahkan Renata, Sylvia, dan Bu Laras menyalakan sesuatu yang tidak bisa dipadamkan lagi. Dalam beberapa hari, penyidik membuka berkas. Dalam beberapa minggu, mereka menarik benang yang selama puluhan tahun disembunyikan Wirakusuma di balik perusahaan cangkang, nama pinjaman, dan rekening berlapis.
Nadine menyaksikan keruntuhan itu bukan dari kursi penonton, melainkan dari ruang-ruang penyidikan, dari meja Bu Laras yang dipenuhi map, dari berita yang tak henti mengalir di layar ponsel para model yang berkumpul di posko Akar setiap malam.
"Astra," baca Maya keras-keras dari laptopnya, malam itu, suaranya tercekat antara tak percaya dan lega. "Vertikal. Agensi di Bandung, Surabaya, Medan, Makassar — sembilan agensi. Semua terhubung ke satu jaringan kepemilikan. Semua mengarah ke Wirakusuma." Ia mengangkat wajah. "Sembilan, Nadine. Selama ini sembilan."
Renata, yang kini hadir tiap malam di posko meski masih duduk agak terpisah, menutup matanya. "Aku hanya tahu Astra," bisiknya. "Aku tidak pernah membayangkan ada sembilan."
Para penyidik menemukan apa yang dicari. Aliran dana yang mengalir dari potongan gaji ribuan model — empat puluh persen demi empat puluh persen, utang fiktif demi utang fiktif — terkumpul jadi sungai uang yang bermuara di rekening-rekening Wirakusuma. Mereka menemukan instruksi tertulisnya, kontrak-kontrak yang ditandatangani dengan tangan Renata tapi dirancang oleh tangannya. Mereka mencocokkan rekaman tua Sylvia dengan suara Wirakusuma masa kini. Setiap potongan bukti yang sebelumnya tercerai sekarang saling mengunci, seperti jahitan yang akhirnya bertaut jadi pola utuh.
Wirakusuma mengerahkan seluruh kekuatannya. Tim pengacara terbaik. Kampanye hitam yang mencoba menggambarkan Nadine sebagai gadis ambisius yang memutarbalikkan fakta demi ketenaran. Tekanan pada saksi, pada media, pada siapa pun yang bisa ia jangkau. Tapi sesuatu sudah berubah di negeri ini. Gerakan para model sudah terlalu besar untuk dibungkam. Tiga ratus aduan jadi ribuan. Tagar jadi demonstrasi. Para model yang dulu menunduk — karena Madame Sylvia pernah berkata menunduk berarti kalah — kini berjalan dengan dagu terangkat, pandangan ke satu titik, ke arah keadilan.
Pagi itu Nadine sedang di posko ketika berita masuk. Maya hampir menjatuhkan ponselnya.
"Nadine," katanya. "Mereka menahannya."
Layar menunjukkan rekaman: Tuan Wirakusuma, rambut perak yang biasanya disisir sempurna kini berantakan, dituntun keluar dari gedung kantornya yang megah oleh para penyidik. Untuk pertama kalinya Nadine melihat pria itu tanpa kendali. Tanpa senyum beludru. Hanya seorang tua yang dikepung kamera, menutupi wajah dengan map, dibawa ke mobil yang menunggu.
Posko Akar meledak. Sebagian berteriak, sebagian menangis, sebagian hanya berpelukan dalam diam. Vania menangis di bahu Kirana. Bu Laras menutup matanya dan menarik napas seolah baru bisa bernapas setelah bertahun-tahun. Madame Sylvia berdiri di jendela, memandang ke luar, dan air mata mengalir pelan di pipinya yang berkerut — tiga puluh tahun penantian, akhirnya tuntas.
Nadine tidak berteriak. Ia berjalan ke sudut ruangan, ke tempat Renata duduk sendirian, memandangi layar dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kau berhasil menjatuhkannya," kata Renata pelan, tidak menatap Nadine.
"Kita," kata Nadine. Ia duduk di sebelahnya. "Kau yang berani bicara saat tidak ada yang lain berani. Tanpa kesaksianmu, dia masih di balik bonekanya."
Renata akhirnya menoleh. Matanya basah. "Aku menghancurkan begitu banyak gadis untuk dia, Nadine. Bertahun-tahun. Penjara di depanku, mungkin. Aku tidak meminta dimaafkan."
"Aku tahu," kata Nadine. Ia memandang layar, ke mobil yang membawa pergi pria yang selama tiga puluh tahun memperlakukan ribuan manusia sebagai aset. "Tapi gadis tujuh belas tahun di gang itu — yang gemetar memegang slip dua ratus juta — dia bisa tidur tenang malam ini. Dan itu, sebagian, karena kau."
Mereka duduk diam, menyaksikan sang raja tumbang di layar kecil, dikelilingi orang-orang yang dulu ia injak dan kini berdiri tegak.
Di luar, hari cerah. Jaringan sembilan agensi gelap itu dibongkar satu per satu dalam minggu-minggu berikutnya, kontrak-kontraknya dinyatakan batal, ribuan model dibebaskan dari utang yang tak pernah nyata. Imperium yang dibangun di atas ketakutan akhirnya runtuh oleh keberanian.
Tapi Nadine tahu, sambil memandang wajah-wajah lelah dan menang di sekelilingnya, bahwa menjatuhkan satu orang bukanlah akhir. Sistem yang melahirkannya masih ada. Dan kalau mereka berhenti di sini, suatu hari raja lain akan tumbuh.
Perang ini belum benar-benar selesai. Masih ada satu hal yang harus mereka ubah — bukan orangnya, tapi aturannya sendiri.