Alamat di surat itu membawa Nadine ke sebuah rumah petak kecil di pinggiran Jakarta, jauh dari gedung kaca dua belas lantai tempat ia pertama kali menandatangani kontrak yang hampir merampas hidupnya. Cat dinding rumah itu mengelupas, halamannya sempit, hanya cukup untuk satu pohon jambu yang kerdil. Nadine berdiri di depan pagar besi berkarat itu beberapa saat, mengumpulkan keberanian, sebelum mengetuk.
Pintu terbuka, dan ia hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri di sana.
Renata Wijaya tanpa jas hitamnya, tanpa riasan tajam, tanpa sepatu hak yang dulu berdetak di lantai marmer seperti palu hakim. Ia memakai baju rumah sederhana, rambutnya yang dulu selalu disasak rapi kini dibiarkan tergerai dan beruban. Wajahnya lebih tua dari yang Nadine ingat, garis-garisnya lebih dalam. Tapi matanya—mata yang dulu dingin seperti kaca—kini hanya lelah.
"Kau datang," kata Renata. Suaranya juga berbeda. Tidak ada lagi nada memerintah. "Aku tidak yakin kau akan datang."
"Aku juga tidak yakin," kata Nadine jujur.
Renata mempersilakannya masuk. Ruang tamu itu kecil dan rapi, hanya ada dua kursi rotan dan meja kayu. Tidak ada penghargaan industri di dinding, tidak ada foto kampanye mewah. Hanya satu pigura kecil di atas meja: foto seorang gadis remaja, mungkin Renata sendiri, berdiri di runway sederhana dengan senyum yang belum mengeras.
Renata menuangkan teh ke dua cangkir. Tangannya gemetar sedikit. "Aku dulu juga seorang model," katanya, mengikuti arah pandang Nadine ke foto itu. "Kau mungkin tidak pernah tahu. Dua puluh tahun lalu. Aku punya mimpi yang sama persis denganmu." Ia tertawa pendek, pahit. "Lalu Wirakusuma menemukanku. Ia tidak menawariku menjadi boneka secara terang-terangan, tidak seperti yang kami lakukan padamu. Ia lebih halus. Ia mengajariku bahwa satu-satunya cara bertahan di industri ini adalah menjadi seperti dia. Memangsa sebelum dimangsa." Renata duduk, memegang cangkirnya tanpa minum. "Dan aku percaya itu. Aku percaya itu selama dua puluh tahun, sampai kau—gadis nelayan dari Pasir Putih—berdiri di aula itu dan membuktikan bahwa aku salah."
Nadine tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan.
"Aku tidak meminta maafmu," kata Renata akhirnya. "Aku tahu itu tidak akan datang, dan aku tidak pantas menerimanya. Aku mengancam kariermu. Aku menyebut tubuhmu aset. Aku menyuruhmu mengaku dari Bandung, menyuruhmu malu pada desamu sendiri." Suaranya mulai pecah. "Aku melakukan itu pada puluhan gadis sebelum kau. Beberapa dari mereka tidak selamat seperti kau. Ada nama-nama yang kuhapus dari daftar, gadis-gadis yang kupulangkan dengan utang dan rasa malu. Ranjang atas yang kosong di asrama itu—itu salah satu dari mereka."
Nadine teringat ranjang susun kosong di asrama, penghuni sebelumnya yang dicoret karena berat tak turun. Dadanya sesak.
"Lalu kenapa kau bersaksi di sidang?" tanya Nadine pelan. "Kau bisa kabur. Kau bisa diam dan menyelamatkan dirimu sendiri."
Renata menatapnya lama. "Karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku ingin tidur tanpa membenci wajahku sendiri di cermin." Ia mengusap matanya. "Kau pernah bilang ayahmu menyebut sukses yang membuatmu membenci cermin itu sebagai penjara. Aku mendengar itu, dulu, dari laporan asistenku. Aku mentertawakannya saat itu. Filosofi gadis desa, pikirku." Ia menggeleng. "Tapi kata-kata itu tidak pernah pergi. Mereka tinggal di kepalaku selama bertahun-tahun. Aku sudah hidup di penjara itu sepanjang hidupku."
Nadine merasakan sesuatu yang aneh menggerogoti amarah lama di dadanya. Bukan pengampunan—belum. Tapi sebuah pemahaman yang dingin dan jernih: bahwa Renata pun, pada akhirnya, hanyalah boneka lain yang lebih tua, yang sudah terlalu lama lupa caranya menjadi manusia.
"Aku mau membuka kelas menjahit," kata Renata tiba-tiba, suaranya kecil seolah malu pada gagasannya sendiri. "Di lingkungan ini. Untuk ibu-ibu, untuk anak-anak yang putus sekolah. Bukan untuk mengejar apa pun. Cuma untuk memberi, untuk sekali saja dalam hidupku." Ia menatap Nadine. "Ibumu penjahit, kan? Aku ingat dari berkasmu. Aku rasa... aku rasa aku ingin melakukan satu hal yang ibumu lakukan. Hal yang membangun, bukan merampas."
Nadine menelan ludah. Lalu, perlahan, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah gunting jahit tua, gunting milik ibunya, yang selalu ia bawa sebagai jimat. Ia meletakkannya di meja, di antara dua cangkir teh.
"Ini punya ibuku," kata Nadine. "Aku tidak akan memberikannya padamu. Tapi kalau kelas menjahitmu beneran jalan—" ia menarik napas, "—Akar akan menyumbang mesin jahit. Untuk ibu-ibu di sini."
Renata menatap gunting itu, lalu menatap Nadine, dan untuk pertama kalinya selama Nadine mengenalnya, perempuan itu menangis—bukan tangis dramatis seorang antagonis yang kalah, melainkan tangis pelan seseorang yang akhirnya diizinkan pulang ke dalam dirinya sendiri.
"Terima kasih," bisik Renata. "Bukan karena mesin jahit. Karena kau memperlakukanku seperti manusia. Bahkan setelah semua yang kulakukan."
Saat Nadine melangkah keluar dari rumah petak itu, sore sudah menguning. Ia tidak merasa menang. Ia merasa lega—lega yang dalam dan tenang, seperti melepaskan beban yang sudah terlalu lama ia gendong tanpa sadar. Satu benang terakhir dari masa lalu telah ia ikat dengan rapi.
Di sakunya, ponselnya bergetar. Pesan dari Maya: *Nad, ada kabar besar. Datang ke kantor. Ini tentang sekolah model yang dulu kita impikan.*