Tim Lúmin Paris tiba di Jakarta dengan pesawat pagi, dan kali ini tidak ada koper berisi simulasi wajah yang diubah, tidak ada usulan pemutihan kulit, tidak ada cerita latar palsu tentang "model kosmopolitan dari keluarga terpandang." Yang mereka bawa hanya satu hal: permintaan untuk belajar.
"Kami ingin menjadikan keaslian budaya sebagai jantung kampanye global kami berikutnya," kata Madame Vautrin, pemimpin tim Lúmin yang sama yang bertahun-tahun lalu duduk di seberang Nadine dan menawarinya menjadi boneka. Ia jauh lebih tua sekarang, dan ada kerendahan hati di matanya yang dulu tidak ada. Penerjemah di sampingnya menerjemahkan dengan hati-hati. "Selama bertahun-tahun, kami menjual mimpi yang seragam—satu jenis kecantikan, satu jenis wajah, dipoles sampai tidak ada yang tersisa dari aslinya. Dan kami salah. Kau membuktikan kami salah, bertahun-tahun lalu, di ruangan ini."
Mereka duduk di kantor Akar, bukan di hotel mewah. Nadine bersikeras pada itu. Kalau Lúmin ingin bekerja dengan keaslian, mereka harus duduk di tempat keaslian itu hidup.
"Kampanye ini," lanjut Vautrin, membuka tablet dan menunjukkan moodboard, "bukan tentang menjual gaun. Ini tentang menunjukkan kepada dunia wajah-wajah yang selama ini disembunyikan industri. Kulit yang tidak kami putihkan. Tulang pipi yang tidak kami operasi. Tangan yang kasar karena bekerja. Kami ingin kau memimpinnya, Nadine. Sebagai dirimu sendiri. Dan kami ingin model-modelmu—Akar—menjadi wajahnya."
Nadine menatap moodboard itu. Foto-foto kasar, belum diedit, wajah-wajah dari berbagai daerah Indonesia. Ada nelayan, ada penjahit, ada anak-anak sekolah catwalk-nya. Sesuatu yang panas mengembang di dadanya, tapi ia menahannya. Ia sudah belajar, setelah sepuluh tahun, bahwa tawaran yang terlalu indah selalu perlu diperiksa.
"Apa syaratku, kalian sudah dengar?" tanya Nadine.
Vautrin tersenyum. "Kami menyiapkannya sebelum kau menyebutnya. Kontrak adil sebagai standar untuk setiap model yang terlibat—standar yang kau perjuangkan, yang kini jadi undang-undang di negaramu. Bagi hasil yang transparan. Hak penuh model atas citranya sendiri. Dan—" ia menggeser tablet, menunjukkan satu klausa, "—sebagian keuntungan kampanye dialokasikan untuk Sekolah Catwalk Akar. Bukan sebagai amal. Sebagai investasi pada masa depan industri."
Maya, yang duduk di samping Nadine, membungkuk dan membaca klausa-klausa itu kata demi kata. Bertahun-tahun lalu, di asrama Astra yang sempit, Maya-lah yang mengajarinya membaca slip pembayaran, yang membantunya menemukan utang fiktif yang menjebaknya. Sekarang Maya membaca kontrak Lúmin dengan mata yang sama jeli, dan setelah lama, ia mengangkat kepala dan mengangguk pelan pada Nadine.
"Bersih," kata Maya. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku baca kontrak dari merek besar yang tidak ada jebakannya."
Pemotretan kampanye itu digelar di berbagai lokasi di Indonesia selama tiga minggu. Tapi yang paling penting bagi Nadine adalah hari ketika mereka memotret di pasar tradisional—bukan di studio steril dengan pencahayaan sempurna. Ia berdiri di antara pedagang sayur dan pembeli, mengenakan gaun rancangan Lúmin yang dipadukan dengan kain tenun Indonesia, dan kameranya menangkap bukan kesempurnaan, melainkan kehidupan. Seorang ibu pedagang menatapnya dan berkata, "Nak, kamu mirip anakku yang merantau ke kota." Nadine memeluknya, dan momen itu—tidak direncanakan, tidak dipoles—menjadi foto utama kampanye.
Saat kampanye itu diluncurkan secara global, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Billboard-billboard di kota-kota dunia—Paris, New York, Tokyo, Milan—menampilkan wajah Nadine. Wajah dengan kulit sawo matang yang tidak diputihkan, tulang pipi tegas warisan ibunya yang tidak dioperasi, mata cokelat gelap yang menatap lurus ke kamera tanpa meminta persetujuan siapa pun. Di bawahnya, satu kalimat dalam berbagai bahasa: *Beauty is not erased. It is remembered.*
Nadine teringat sebuah billboard merah Lúmin yang ia lihat bertahun-tahun lalu dari jendela bus oranye yang membawanya ke Jakarta. Saat itu ia berkata pada dirinya sendiri: "Itu akan jadi aku." Ia memang menjadi wajah di billboard itu. Tapi tidak dengan cara yang dulu ia bayangkan. Ia menjadi dirinya sendiri di sana, bukan boneka yang dipoles industri.
Malam peluncuran, Vania mengangkat gelas di kantor Akar yang penuh sesak dengan model, pelatih, dan anak-anak sekolah catwalk. "Untuk Nadine," katanya, "yang mengubah arti kata 'cantik' di seluruh dunia."
"Bukan aku," kata Nadine, menggeleng. Ia menatap ruangan itu—Maya, Vania, Kirana, Sylvia, Pak Bram, anak-anak dengan logat dari segala penjuru. "Kita. Dan ibuku, yang memberiku wajah ini." Suaranya melembut. "Aku rasa sudah waktunya aku pulang menemuinya."