Seolah tak terjadi apapun. Pagi ini, Safeer berangkat sekolah seperti biasa. Tak ada yang aneh saat ia menatap Feera yang kembali pendiam di dalam kelas.
Safeer tak berniat menyapa, atau bahkan mendekati Feera untuk menanyakan tentang hal semalam. Ia lebih memilih duduk rapi di bangkunya. Dan sebenarnya, entah kemana pikirannya kini. Sampai Petra datang menyapanya pun ia tak berkutik. Sampai seorang gadis datang dan menepuk tangannya.
"Hey ngelamun apa sih?" Safeer terjaga. Terlihat Syafa yang tengah tersenyum cantik di depannya. Dan Safeer hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung ingin menjawab apa pada gadis di depannya. Tak mungkin kan, dia bilang kalau sedang melamun tentang Feera, gadis pendiam di kelas ini bahkan tak ada satupun yang mau berteman dengannya selain dia.
"Eh, ada apa Sya?" Tanya Safeer mengalihkan pembahasan.
"Gak, aku cuma pengen nyapa kamu saja." Katanya.
Dan Safeer hanya tersenyum membalasnya. Sudah cukup menimbulkan pesona luar biasa bagi lawan jenis di depannya itu. Hingga membuat Safeer tak sadar kalau dirinya tengah dipandang kesal oleh tatapan pria yang kini berada di ambang pintu kelas mereka. Itu Arsyad dari kelas sebelah.
"Ada guru woy!" Seruan salah seorang siswa membuat suasana kelas menjadi riuh untuk sementara waktu. Hanya beberapa menit sebelum semuanya menjadi tenang kembali.
Hari ini pelajaran Geografi. Pelajaran yang tak asing lagi bagi Safeer. Ia juga mendapatkan pelajaran tersebut di sekolahnya yang dulu.
Dengan guru yang lebih santai sebenarnya. Pelajaran berlangsung seperti biasa.
"Apa ada pertanyaan?" Pertanyaan biasa yang selalu diucapkan seorang guru sebelum mengakhiri pelajaran. Dan jika tak ada pertanyaan maka guru akan dengan senang hati keluar kelas.
"Saya pak!" Hal yang tak pernah Safeer sangka adalah ketika petra mengangkat tangan. Padahal anak itu jarang sekali melakukannya. Ia jadi oenasaran, apa yang akan ditanyakan Petra kali ini.
Begitu juga dengan teman sekelas. Merasa pertanyaan Petra hanya akan membuat jam pelajaran makin molor saja.
"Apa? Katakan!" Seorang guru laki laki yang terlihat manis dan memiliki nama Hermanto itu kembali duduk dan mempersilahkan untuk muridnya bertanya.
"Bapak tahu tidak kalau ada orang indonesia yang ikut mendarat ke bumi dengan Niel Amstrong dari bulan?" Seru Petra dengan lantang.
Di saat Safeer tengah berpikir keras akan pertanyaan tersebut, beberapa temannya malah tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Memangnya ada? Bukannya Niel Amstrong pergi sendiri?" Bisik Safeer yang rupanya terkena jebakan Petra.
Seperti yang di lakukan Safeer, pak hermanto tersenyum lalu berkata jujur. "Kok saya belum pernah dengar ya?"
"Ada kok pak! Namanya pak Selamat." Seluruh isi kelas terbahak sedangkan Safeer maupun Pak Hermanto menatap Petra tak mengerti.
"Niel Amstrong mendarat dari bumi ke bulan dengan Selamat." Lanjut salah satu murid laki-laki yang setelahnya tertawa juga.
"Bisa-bisanya kau ini. Tapi boleh juga." Seru pak Hermanto yang kemudian bangkit dari bangkunya. Lalu berpamitan karena saat itu bertepatan pula dengan bel pergantian jam pelajaran.
Safeer tersenyum tipis. Lalu ia menoleh ke belakang. Menatap Feera yang tampaknya tak berpengaruh dengan candaan yang dilakukan Petra. Lalu ia kembali berpikir atau mungkin terus berpikir tentang gadis itu. Saat pandangan mereka bertemu, pasti dengan cepat Feera mengalihkannya.
Seperti biasa. Jam istirahat pertama pasti Safeer gunakan untuk istirahat di kantin. Kali ini ia mengikuti saran Petra untuk memesan makanan ringan.
Dan yang muncul adalah sepiring pempek. "Ini makanan ringan?" Tanya Safeer tak percaya. Bulatan tepung dengan kuah coklat itu bisa membuatnya kenyang.
"Makanan ini hanya akan mengganjal rasa lapar kita sampai pulang sekolah nanti." Ucap Petra.
Safeer hanya diam enggan menanggapi. Sebenarnya ia jarang sekali jajan di kantin sekolah seperti ini. Namun akhirnya ia tetap menikmati. Berteman dengan Petra rupanya cukup menyenangkan.
Safeer masih menikmati pempek hangat itu, sampai ada sebuah cowok yang menggebrak mejanya.
Laki-laki asing yang membuat Safeer bingung. Ia tak pernah kenal dengan lelaki yang tiba-tiba memandangnya dengan tatapan seperti itu. Marah, dan penuh kebencian.
"Lo, jangan berani berani mendekati cewek gue." Apa ini sebuah ancaman? Safeer berpikir begitu saat mendengar ucapan tajam dari siswa di depannya. Lalu tersenyum tenang seolah hal ini sudah sering terjadi di hidupnya.
"Arsyad, Dia mana pernah melakukan hal itu." Bela Petra yang tak ingin terjadi keributan.
Safeer mantap petra penuh tanya. Mengangkat kepala seolah menanyakan apa yang terjadi. Iyalah, dia seperti orang yang tak tahu apa-apa dan tiba-tiba dapat peringatan seperti itu.
"Dengar ya, Jangan dekat-dekat sama Syafa, dia cewek gue." Sebuah peringatan yang sama sekali tak berpengaruh buat Safeer. Ia bahkan sama sekali tak tertarik dengan gadis bernama Syafa. Cukup ia akui bahwa gadis itu memang cantik tapi entah mengapa Safeer malah lebih tertarik pada gadis biasa yang menyimpan kecantikannya sendiri. Dia Feera.
Safeer diam. Bahkan sampai pria itu Pergi, Safeer tak ingin sekalipun untuk menyangkal. Ia terlalu tak peduli dengan laki-laki itu.
"Itu Arsyad, anak ketua yayasan. Hati-hatilah dengannya."
"Tenang aja, aku gak akan berurusan dengan orang seperti itu." Jawab Safeer kembali menyantap pempeknya yang sudah mulai dingin.
"Oh ya, kapan kita bahas tugas kelompok SKI?" Ucap Petra yang mulai terlihat serius.
Safeer mengendikan bahu. "Mungkin nanti setelah pulang sekolah."
"Kau saja yang bicara padanya ya! Aku malas berurusan dengannya. Seperti berbicara pada tembok." Keluh Petra.
Safeer menatap Petra dengan diam. Merasa apa yang diucapkan Petra adalah hal yang tak biasa. Namun Safeer tak sedikitpun keberatan akan hal tersebut.
Sebelum jam istirahat berakhir, Safeer mencari keberadaan Feera. Dan sesuai dugaannya bahwa gadis itu berada di mushola sekolah. Cukup sepi untuk suasana jam segini. Hingga dengan mudah Safeer mengenali sosok Feera di sana.
Tak ingin berbasa-basi, Safeer segera mengungkapkan keinginannya pada gadis itu.
Namun Feera tampak ragu. Dengan alasan ia harus segera pulang dan itu membuat Safeer tersulut rasa penasarannya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Jangan!" Dengan sigap jawaban Feera malah membuat Safeer merasa aneh. "Aku akan pergi ke suatu tempat."
"Aku akan antar kamu kemanapun." Kejar Safeer yang merasa kalau dirinya memang seharusnya melakukan hal itu.
Terlihat keraguan muncul di wajah itu. Dan Safeer seolah mengajukan permintaan mendesak yang sulit untuk ditolaknya.
Dengan begitu, setelah pulang sekolah, mau tak mau Feera harua bersikap profesional pada kelompoknya. Ya, meskipun Feera telah menawarkan untuk mengerjakan tugas itu sendiri dan mencantumkan nama mereka. Tapi sepertinya Safeer bersikeras untuk belajar bersamanya.
Dan di mata Safeer sendiri, ia bulan hanya ingin belajar bersama Feera. Ia juga tak ingin menjadi murid yang hanya bisa mengandalkan temannya saja. Jujur itu bukan dia banget.