" Kamu habis dari mana?rapih bener."tanyaku yang penasaran dengan penampilan Saga.
" Mau tau aja urusan orang,iya,mau kencan lah...emang kamu didalem rumah terus." jawabny dengan nada meledek.
" Uhh..." aku pun memonyongkan mulut ku tak suka.
" Tadi kamu kesambet ia..senym-senyum sendiri aja."tanyanya yang mulai serius.
"Hmm,tadi itu aku....Stoooop..!!! "
Saga memberhentikan mobil dengan spontan,ia merasa terkejut saat aku tiba-tiba memberhentikan nya.
" Ada apa sih Lun?!" tanyanya kesal.Aku hanya bisa nyengir kuda didepan lelaki tersebut,lalu ku buka pintu mobil nya,dan keluar.
" Kamu gak liat,aku sudah sampe rumah...kamu mau bawa aku ke rumah kamu apa?" tanya ku sambil menunjuk kearah rumah.Saga terlihat kesal,dengan wajah yang begitu datar,ia melajukan mobilnya.
'" Ihh,gitu aja sewot." gumam ku,yang langsung masuk ke dalam rumah.
" Assalamualaikum.." ucap ku.
" Wa'alaikumsallam.."jawab bunda dari dalam rumah. " Kamu udah pulang nak?' tanya bunda yang sedang membersihkan dapur.
" Sudah donk..mau aku bantu bund?' tanya ku sambil menghampiri bunda.
" Boleh,kalau kamu gak keberatan." jawab bunda tersenyum.
Sambil tersenyum aku menghampiri bunda yang sedang membersihkan perlengkapan serta alat yang telah dipakai lalu memasukinya kembali ditempatnya masing-masing.
" Bun..." sapa ku sambil mengulum senyum.
" Kenapaaa...ko senyum-senyum gitu." tanya bunda heran ketika melihat ku tersenyum.
" Hmm,gimana iya ngomong nya." ucap ku bingung,mau mulai dari mana menceritakan pertemuan ku dengan Adi kepada bunda.
" Ngomong iya tinggal ngomong aja,ko pake bingung-bingung segala." ucap bunda sambil memasukan semua barang-barang yang habis dibersihkan kedalam lemari.
Aku hanya bisa senyum malu-malu dihadapan bunda,entah kenapa ini mulut sulit sekali untuk bicara.Mungkin aku terlalu takut untuk terus terang karna aku mulai jatuh cinta pada seseorang.atau aku yang memang kurang percaya diri saja untuk bercerita karna takut ditertawakan.
" Kamu itu mau cerita apa sama bunda? Ayo..mulai umpet-umpetan dari bunda ya." kini bunda mulai duduk berhadapan dengan ku dengan penuh selidik.
" Ng..nggak ko,cuma mau ngasih uang ini,tadinya mau aku pake buat jajan.tapi,gak jadi deh.." aku pun langsung memberikan uang itu,dan segera menghindari bunda yang mulai penasaran.
" Tunggu,bunda belum selesai ngo.." Bunda pun menghentikan pembicaraan nya ketika suara ponsel miliknya berdering.
" Huft,akhirnya aku selamat.." aku segera berlari menuju kamar lalu menutupnya.
Diluar sana aku mendengar bunda sedang asik berbincang-bincang dan tertawa.Entah,apa yang dibicarakan orang tersebut sehingga membuat bunda merasa terhibur.Dengan rasa penasaran aku segera keluar dari dalam kamar dan duduk tak jauh dari bunda.
Aku mengerutkan alis dan terkejut,saat bunda bilang setuju untuk menjodohkan ku. " Apaaa?!" gak salah kan yang aku dengar batin ku.Aku mulai kesal dan marah,kenapa bunda dengan seenaknya saja menjodohkan aku,padahal aku sudah punya kenalan yang aku suka.Ia biar pun cuma baru kenal,tapi aku yakin kalau dia juga tertarik pada ku.dan tidak memandang fisik ku.
Aku menepuk paha bunda dan memberi isarat bahasa mulut menanyakan siapa yang menelephone,lalu bunda pun menjawab kalau yang menelephone nya adalah ayah nya yang berada di luar kota.Mata ku langsung melebar bahagia,karna sehari saja gak berjumpa dengan ayah ku rasanya setahun.Jadi,aku langsung merebut ponsel tersebut dari tangan bunda.
" Hallo,Assalamualaikum ayah..kapan ayah pulang?" tanya ku dengan manja.
" Baru aja tadi pagi ayah berangkat,masa sekarang udah nanya kapan pulang." jawab ayah yang tertawa dari sebrang sana.
Bunda pun ikut menertawai sambil mengelus kepala ku dengan lembut. " Kamu ini ada-ada aja nak.." ucap bunda disela tawanya.
" Ayah pulang paling lama minggu depan.Tapi,ayah usahakan pulang cepat OK?" jawab ayah ramah.
" OK,ayah hati-hati disana iya,jangan lupa jaga kesehatan." ucap ku sambil mencium ayah lewat telephone.
" Baik sayang...oh iya,tadi ayah menyampaikan sesuatu pada bunda,nanti kamu bicara sama bunda ia.ayah mau lanjut kerja dulu.Assalamualaikum." ucap ayah yang langsung mematikan panggilan nya.
" Nih bun.." aku menyerahkan ponsel tersebut pada bunda.Lalu aku menanyakan tentang percakapan bunda dan ayah ketika ditelephone.Dengan menghela nafas bunda pun menceritakan tentang perjodohan ku dengan salah satu sahabat baik ayah.Mendengar itu aku menolak dengan tegas,namun bunda tidak bisa menolaknya.Bunda bilang semua itu sudah ayah putuskan demi kebaikan ku.
" Tenang saja,lelaki tersebut gak asing buat kamu kok." ucap bunda yang mencoba membujuk ku.
" Tetap aja bun,aku gak setuju.Kenapa sih bunda dengan ayah,gak bicarakan ini dulu sama Luna." ucap ku yang mulai menitikan air mata.
" Luna sayang,bukan bunda dengan ayah gak mau bilang sama kamu,tapi bunda dan ayah sudah memutuskan yang terbaik untuk kamu.Lagian Saga itu anak yang sopan,baik,taat agama,tampan,dan juga pintar ko." Ucap bunda.
" Apaaa....saga?!" mata ku membulat sempurna ketika mendengar jika laki-laki yang ingin dijodohkan oleh ku adalah Saga,anak yang dibilang baik,sopan,tampan tersebut oleh orang tua ku,padahal dia itu lelaki yang bener-bener nyebelin,kasar,egois,tapiii...emang tampan juga sih.
" Tapi bun..." kata ku sambil menunjukan wajah yang memelas dihadapan bunda.
" Gak,pokok nya bunda dengan ayah sudah setuju.Kedua orang tua saga juga setuju kok." Ucap bunda lalu bangkit dan pergi dari tempat dimana kami duduk bersama.
Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam,sekaligus memikirkan bagai mana cara untuk menolak perjodohan ini.Diwaktu yang bersamaan ponsel ku berdering disana tertulis pesan dari Saga.
" Hai lun,kamu sudah denger belum perjodohan kita? "
" Kebetulan,aku juga ada yang mau diomongin dengan kamu nih." balas ku
" Apa tuh?"
" Iya,masalah perjodohan ini.Kamu pasti gak mau kan kalau kamu nikah sama aku.Badan aku kan gemuk."
" Loh,siapa yang bilang...orang aku sudah setuju ko.Kalau masalah gemuk sih gampang,sekarang banyak tempat fitnes yang buka.Nanti aku kenalin deh,kamu dengan teman ku.Dia itu pemandu senam khusus untuk orang-orang yang berlebihan berat badan." balas nya
" Apaaa ?! kamu tuh iya bener-bener gak bisa liat barang langsing dan langsung seperti aku.Kenapa kamu gak nolak aja sih." lalu aku mengirim pesan tersebut itu pada Saga.
Setelah mengirim pesan tersebut Saga pun tak juga membalas pesan ku itu.Awalnya aku berfikir apa dia marah iya dengan kata-kata ku.Tapi aku berfikir kembali,tak masalah jika Saga marah,toh dia juga gak menyukai perjodohan ini.Aku bangkit dari kursi ruang TV menuju kamar ku dengan merutuki sikap Saga yang menerima perjodohan seenaknya.Tapi disisi lain aku ada perasaan kagum juga dengan dia,berani menerima perjodohan ini tanpa memandang fisik ku. " Saga...Saga,padahal kamu tuh cakep,komau sama aku sih...eh tunggu,kenapa aku jadi mikirin dia iya." ucap ku sambil memegangi kepala ku.
" Kamu kenapa nak? Sakit..? " tanya bunda yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan ku.tanpa aku sadari.