Tawaran Salim membelah ruang rapat kejaksaan menjadi dua kubu dalam hitungan menit.
"Ini hadiah," kata Wibowo, berdiri di ujung meja, map tebal di tangannya. "Salim tahu segalanya. Rekening cangkang, nama pejabat, cara Wirananta memindahkan uang, perintah-perintah pembunuhan. Dia mata rantai yang menghubungkan semuanya ke Pak W. Tanpa dia, Wirananta bisa berkelit seumur hidup. Dengan dia, kita kunci."
"Ini jebakan," potong jaksa lain, perempuan bernama Bu Marlina, lebih senior, suaranya keras. "Salim sudah membunuh setidaknya dua orang. Mungkin lebih. Kita kasih dia keringanan, demi apa? Demi bersaksi melawan bosnya, yang toh sudah punya bukti lain? Korban kita—ribuan ibu rumah tangga, pensiunan yang tabungannya ludes, janda Gunawan—mereka akan melihat pembunuh suaminya keluar lebih cepat karena dia pandai berdagang nyawa orang lain."
Damar duduk di ujung meja, diundang sebagai saksi ahli sekaligus orang yang paling memahami peta uangnya. Ia menyimak keduanya, dan ia tahu keduanya benar.
"Boleh saya bicara?" tanyanya akhirnya.
Ruangan diam.
"Bu Marlina benar," kata Damar. "Salim tidak pantas dapat keringanan. Dia tahu persis apa yang dia lakukan setiap kali, dan dia melakukannya dengan tenang. Saya pernah berdiri di ujung pistolnya. Saya tidak akan pernah lupa wajahnya saat menarik pelatuk." Ia menarik napas. "Tapi Pak Wibowo juga benar. Wirananta adalah otak semuanya. Dia yang membangun gelembung itu di atas tabungan ribuan orang. Dia yang memerintahkan Gunawan dibunuh. Dan sekarang dia aman, minum kopi di vila di negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi, menertawakan kita semua."
Damar berdiri, berjalan ke peta dinding tempat foto-foto ditempel.
"Pertanyaannya bukan 'pantaskah Salim dapat keringanan'. Jawabannya jelas: tidak. Pertanyaannya adalah: 'apakah membiarkan Wirananta lolos demi tidak memberi keringanan pada Salim—itu keadilan?'" Ia menatap mereka satu per satu. "Karena itulah pilihannya. Salim tetap akan dihukum berat. Pembunuhan dengan rencana. Tidak ada keringanan yang akan membuatnya bebas. Yang dia tawar cuma selisih—seumur hidup, mungkin, jadi sangat lama. Tapi sebagai gantinya, kita dapat sesuatu yang tidak bisa kita beli dengan apa pun: Wirananta, terkunci, tanpa celah berkelit."
Bu Marlina menatapnya tajam. "Dan kau percaya Salim akan menepati? Orang itu berbohong seperti orang lain bernapas."
"Saya tidak percaya Salim," kata Damar. "Saya percaya angka. Setiap yang dia katakan, saya cocokkan dengan dokumen, dengan rekening, dengan kesaksian Sutrisno, dengan jurnal Gunawan. Kalau dia berbohong, saya yang akan tahu duluan—saya sudah membuktikan itu. Kita tidak menukar kebenaran dengan kata-katanya. Kita pakai kata-katanya untuk menemukan kebenaran yang bisa kita verifikasi sendiri."
Bu Marlina belum sepenuhnya luluh. "Bagaimana saya jelaskan ini ke janda Gunawan? Ke ribuan korban yang menggugat? Bahwa orang yang mengatur kematian suaminya dapat potongan hukuman?"
Damar terdiam sejenak. Pertanyaan itu menusuk, karena adil. "Bu Sari sudah saya tanya," katanya pelan. "Sebelum saya ke sini. Saya jelaskan persis seperti ini. Dan tahu apa katanya?" Ia menatap Bu Marlina. "Dia bilang, 'Saya tidak butuh Salim dihukum lebih lama satu tahun. Saya butuh dunia tahu siapa yang menyuruhnya. Saya butuh Wirananta berdiri di pengadilan dan mengakui bahwa suami saya dibunuh karena jujur.' Itu yang dia minta, Bu. Bukan dendam. Kebenaran yang diakui." Damar menelan ludah. "Korban kita lebih bijak daripada yang kita kira. Mereka tidak buta. Mereka cuma ingin gelembungnya benar-benar pecah, sampai ke namanya yang paling atas."
Hening panjang. Lalu Wibowo menutup mapnya pelan. "Ada satu hal yang kalian semua lupa," katanya. "Salim minta jaminan keselamatan. Itu bukan basa-basi. Dia tahu, begitu Wirananta dengar dia mau bicara—" Wibowo menatap ke arah jendela, "—Wirananta tidak akan menunggu sidang. Salim sendiri yang bilang. Orang yang tahu sebanyak dia, biasanya tidak hidup cukup lama untuk bersaksi. Pertanyaan kita bukan cuma 'apakah kita mau dia bicara'. Tapi 'bisakah kita menjaganya tetap hidup sampai dia bicara'."
Damar menatap foto Salim di dinding, lalu foto kosong di sebelahnya—Wirananta, yang sampai sekarang belum pernah mereka miliki fotonya yang terbaru, karena tak seorang pun tahu persis di mana ia bersembunyi. Dua orang yang dulu satu sisi. Kini dipisahkan jeruji dan lautan dan perhitungan dingin. Dan Damar tahu, begitu mereka menerima tawaran Salim, perang yang selama ini berlangsung di luar—antara jaringan dan hukum—akan pindah ke dalam. Perang di antara mereka sendiri.