Pesawat itu mendarat menjelang petang, dan seluruh negeri menontonnya.
Kamera-kamera berjejal di balik garis pembatas di apron bandara, lampu kilat menyala bertubi-tubi seperti badai kecil. Damar berdiri di antara kerumunan resmi—jaksa, penyidik, beberapa pejabat lembaga antikorupsi internasional yang mengawal proses ini agar tidak ada yang bisa "menyesuaikan" hasilnya di menit terakhir. Arini di sampingnya, ponsel terangkat, merekam, tetapi untuk sekali ini matanya lebih banyak menatap langsung daripada lewat layar.
Pintu pesawat terbuka. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai berbulan-bulan lalu di lantai dua belas Gedung Mahanusa, Damar melihat Wirananta dengan matanya sendiri.
Lelaki itu lebih tua daripada foto-foto majalah ekonomi yang dulu Damar lihat. Rambutnya memutih, tubuhnya menyusut di dalam jas yang dulu pasti pas sempurna—jas seperti yang dulu dipakai Salim, jatuhnya terlalu sempurna untuk dibeli di toko biasa, kini menggantung di bahu yang membungkuk. Tangannya diborgol di depan tubuh. Dua petugas mengapitnya menuruni tangga.
Tetapi yang membuat Damar tertegun bukan ketuaan itu. Melainkan caranya berjalan. Bahkan diborgol, bahkan dikepung kamera dan petugas, Wirananta menuruni tangga dengan dagu terangkat, langkah yang teratur, tatapan yang menyapu kerumunan seolah inilah yang ia rencanakan—seolah dialah yang masih memegang kendali.
Orang seperti itu, pikir Damar, tidak menyerah karena ditangkap. Mereka hanya pindah ke meja perundingan berikutnya.
Di ruang transit khusus, prosesi serah terima dilakukan. Wirananta diminta menunggu sebentar sebelum dipindahkan ke tahanan. Dan di situlah, untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu—otak utama dan analis muda yang membongkar segalanya.
Wirananta memandanginya, lalu sudut bibirnya naik. "Jadi kamu," katanya. Suaranya halus, terpelihara, suara orang yang terbiasa didengarkan. "Si bocah dengan mata laser. Kamu lebih muda dari yang saya bayangkan."
"Dan Anda lebih kecil," kata Damar.
Sesuatu berkedip di mata Wirananta—bukan amarah, melainkan semacam minat dingin. "Kamu tahu," katanya pelan, hampir ramah, "saya tidak benci kamu. Sungguh. Kamu cuma melakukan pekerjaanmu, sama seperti saya. Kita berdua membaca angka. Bedanya, kamu pikir angka itu suci. Saya tahu angka itu cuma cerita. Dan cerita selalu bisa ditulis ulang." Ia mengangkat tangannya yang terborgol sedikit. "Termasuk cerita ini. Kamu pikir ini akhir. Saya beri tahu, Mas Damar—ini baru sidang."
Damar tidak gentar. Ia sudah terlalu sering mendengar nada itu, dari Salim, dari pengacara-pengacara berjas, dari pejabat yang menyerang balik. "Anda salah, Pak Wirananta," katanya. "Angka memang cerita. Tapi cerita yang dibangun di atas tabungan ribuan orang punya satu hal yang tidak Anda perhitungkan." Ia menahan tatapan lelaki tua itu. "Mereka. Para korban itu. Mereka bukan angka. Dan mereka tidak akan diam."
"Korban." Wirananta tertawa kecil, suara kering yang menggesek. "Saya beri mereka mimpi, Mas Damar. Tahukah kamu, ibu rumah tangga yang membeli saham saya, untuk pertama kali dalam hidupnya merasa kaya. Pensiunan itu, untuk pertama kalinya merasa pintar. Mereka tidak menuntut saya karena saya mencuri. Mereka menuntut saya karena saya berhenti memberi mereka mimpi." Ia memiringkan kepala. "Saya cuma membuat angka melakukan apa yang semua orang ingin angka lakukan: naik. Selamanya."
"Sampai pecah," kata Damar pelan. "Selalu ada yang menanggung saat gelembung pecah. Bukan Anda, yang menyimpan uangnya di vila. Tapi mereka. Yang menjual rumah. Yang gantung diri karena malu. Yang anak-anaknya berhenti sekolah." Suaranya tetap tenang, tetapi ada baja di dalamnya sekarang. "Anda menjual mimpi dengan uang orang lain, Pak. Itu bukan kemurahan hati. Itu pencurian yang paling kejam—karena Anda mencuri sambil membuat mereka berterima kasih."
Wirananta menatapnya lama. Lalu, perlahan, senyumnya melebar—dan untuk pertama kalinya Damar melihat di baliknya bukan kepercayaan diri seorang pengusaha yang tertangkap, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin. Sesuatu yang sudah disiapkan.
"Para korban," ulang Wirananta pelan, seolah mencicipi kata itu. "Ya. Mari kita lihat seberapa lama negara ini peduli pada korban, ketika mulai muncul nama-nama yang jauh lebih besar daripada nama saya." Petugas menariknya berdiri. Ia membiarkan dirinya dituntun, tetapi matanya tetap pada Damar sampai detik terakhir. "Saya tidak datang ke negeri ini tanpa membawa apa-apa, Mas Damar. Saya selalu menyimpan satu asuransi terakhir."
Pintu menutup di belakangnya. Dan Damar berdiri di sana, di tengah kilau lampu kamera dan riuh wartawan yang berteriak bertanya, dengan satu kalimat yang tertinggal menggantung di udara seperti bau yang tidak mau hilang.
Satu asuransi terakhir.