Mereka mencoba membunuh Salim pada malam Kamis, di tahanan, dengan benang nilon dan seorang tahanan baru yang dipindahkan ke selnya tiga hari sebelumnya.
Salim selamat karena ia tidak pernah tidur nyenyak. Lima puluh tahun lebih hidup sebagai "tangan yang membersihkan" mengajarinya satu hal: orang yang tahu cara menghilangkan orang lain selalu tidur dengan satu telinga terbuka, karena tahu betul betapa mudahnya giliran berbalik.
Ketika benang itu melingkar di lehernya, Salim sudah setengah bangun. Ia melawan, berteriak, dan sipir datang. Tahanan baru itu — yang ternyata terlibat kasus narkoba dan tiba-tiba "dipindahkan" ke blok yang sama dengan Salim lewat surat administrasi yang tidak jelas asal-usulnya — dilumpuhkan. Salim hidup dengan garis merah membekas di lehernya dan, untuk pertama kali sejak ditangkap, dengan rasa takut yang nyata.
Damar mendengar kabar itu pagi-pagi dari Bu Rahmi.
"Ini bukan kebetulan," kata jaksa itu lewat telepon. "Surat pemindahan tahanan itu ditandatangani oleh oknum di lembaga pemasyarakatan yang namanya — tebak — ada di daftar pemegang saham Cakrawala."
Damar menutup mata sejenak. Pola itu lagi. Gunawan. Sumber kedua Arini yang ditemukan tewas "bunuh diri". Dan sekarang Salim sendiri. Setiap orang yang berada di ambang membuka kebenaran menjadi target. Bedanya, kali ini target itu adalah salah satu pelaku.
"Wirananta takut pada Salim," kata Damar.
"Sangat takut," Bu Rahmi setuju. "Salim tahu semuanya. Salim yang menyusun rekening cangkang, Salim yang menghubungi 'bengkel' yang menyervis rem Gunawan, Salim yang menyandera Arini. Kalau Salim membelot dan bicara, dia bukan cuma saksi — dia saksi yang ada di setiap titik kejahatan. Wirananta lebih suka Salim mati daripada Salim bicara."
Itulah ironinya, pikir Damar. Selama berbulan-bulan, Salim adalah pemburu. Sekarang ia jadi yang diburu — oleh tuannya sendiri.
Siang itu, Damar meminta izin yang ditolak Bu Rahmi tiga kali sebelum akhirnya diberikan: bertemu Salim. Bukan untuk bicara empat mata — itu mustahil dan berbahaya — tapi hadir di ruangan ketika tim jaksa menemui Salim soal percobaan pembunuhan itu.
Ruangan kecil, dingin, ada kaca dan perekam. Salim masuk dengan garis merah di lehernya yang tidak disembunyikannya. Ia duduk, menatap Damar lama, lalu sesuatu yang mirip senyum lelah muncul di wajahnya.
"Anak yang tidak bisa disuap," katanya, suaranya serak. "Tiga kali lipat gaji, bonus, mobil. Kamu menolak semuanya. Saya kira kamu bodoh waktu itu."
Damar tidak menjawab.
"Sekarang lihat siapa yang bodoh." Salim menyentuh lehernya. "Saya kerja tiga puluh tahun untuk orang yang menaruh tahanan narkoba di sel saya dengan benang nilon. Tiga puluh tahun saya bersihkan kekacauannya. Dan ketika giliran saya jadi kekacauan, dia tidak ragu satu detik pun."
Bu Rahmi bicara hati-hati. "Pak Salim, kalau Anda merasa nyawa Anda terancam dari dalam jaringan sendiri, ada jalan yang melindungi Anda. Tapi perlindungan itu ada harganya."
"Saya tahu harganya," kata Salim, masih menatap Damar. "Harganya saya cerita semuanya. Soal Gunawan. Soal wartawan yang mati 'bunuh diri'. Soal siapa yang menandatangani perintahnya." Ia tertawa kecil, getir. "Lucu, ya. Saya menghabiskan hidup membersihkan jejak. Dan satu-satunya cara saya selamat sekarang adalah meninggalkan jejak sebesar-besarnya, di tempat semua orang bisa lihat."
Ia menoleh ke perekam, lalu kembali ke Damar.
"Kamu menanam rilis otomatis di gudang itu," katanya pelan. "Saya beri kamu tiga jam untuk menyerah. Kamu pakai tiga jam itu untuk membuat semuanya viral. Sampai sekarang saya tidak mengerti — kamu tahu saya akan membunuhmu, kamu datang sendirian, dan kamu tetap menekan tombol itu."
Damar akhirnya berbicara. "Karena kalau saya mati dan datanya hilang, Pak Gunawan mati untuk apa-apa. Sumber kedua mati untuk apa-apa. Saya tidak mau jadi nama berikutnya di daftar yang dilupakan."
Salim menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, sekali, seperti seseorang yang akhirnya memahami lawan yang sudah lama membuatnya penasaran.
"Saya akan bicara," katanya kepada Bu Rahmi, tanpa mengalihkan pandang dari Damar. "Catat semua. Dan jaga saya hidup sampai saya selesai."
Ketika Damar keluar dari ruangan itu, ia merasakan sesuatu yang tidak ia duga: bukan kemenangan. Lebih dekat ke rasa sedih yang dingin. Salim adalah monster — pembunuh, penyandera, perusak ribuan hidup. Tapi monster itu baru saja dikhianati oleh monster yang lebih besar, dan dari pengkhianatan itulah keadilan akan menemukan jalannya.
Wirananta mencoba menutup mulut Salim dengan benang nilon. Yang ia lakukan justru membukanya.