Wirananta naik ke mimbar saksi seperti orang yang masih percaya dunia tunduk padanya. Ia mengenakan setelan yang rapi — entah bagaimana ia mengaturnya dari tahanan — dan ketika ia berbicara, suaranya halus, terukur, suara orang yang terbiasa diundang ke seminar dan diwawancarai majalah.
"Saya korban," katanya membuka. "Korban bawahan yang berkhianat, korban analis muda yang haus nama, korban media yang butuh musuh untuk dijual."
Damar, di kursi pengunjung, hampir mengagumi kepercayaan diri itu. Hampir.
Pengacara Bhirawa memandu kesaksiannya dengan hati-hati. Wirananta menceritakan dirinya sebagai pengusaha visioner yang membangun perusahaan energi untuk negeri. Soal angka-angka yang melonjak? "Itu pertumbuhan agresif, bukan kejahatan." Soal pelanggan fiktif? "Saya tidak mengurus operasional sedetail itu, itu wewenang direksi." Soal pembunuhan Gunawan? "Saya tidak pernah memerintahkan siapa pun mencelakai siapa pun. Salim bertindak sendiri. Dia mungkin terlalu loyal, terlalu jauh menafsirkan keinginan saya. Saya tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang ada di kepala orang lain."
Ia melempar semuanya ke bawah. Setiap kesalahan, setiap mayat, setiap rupiah yang dicuri — semua menjadi perbuatan bawahan yang "terlalu bersemangat". Untuk beberapa saat, dengan suara semulus itu, sebagian pengunjung mungkin hampir percaya.
Lalu giliran Bu Rahmi.
Ia tidak mulai dengan tuduhan. Ia mulai dengan kertas.
"Pak Wirananta," katanya, mengangkat satu lembar, "ini email instruksi penyesuaian angka kuartalan yang dikirim direktur keuangan Cakrawala. Di bawahnya tertulis: 'Sudah disetujui Pak W'. Siapa 'Pak W'?"
"Saya tidak tahu," kata Wirananta. "Bisa siapa saja yang namanya berawalan W."
"Di seluruh struktur Cakrawala, hanya ada satu orang yang dipanggil 'Pak W'. Anda. Direktur keuangan sudah bersaksi soal ini." Bu Rahmi meletakkan kertas itu, mengambil yang lain. "Ini tabel internal: dua kolom. Kiri 'angka riil', kanan 'angka publikasi'. Selisihnya ratusan miliar. Di pojok, paraf. Ahli forensik membandingkan paraf ini dengan tanda tangan Anda di puluhan dokumen resmi. Cocok. Apakah Anda menyangkal ini paraf Anda?"
Wirananta menatap kertas itu. Untuk pertama kali, jeda muncul sebelum jawabannya. "Saya... menandatangani banyak dokumen. Saya tidak bisa mengingat setiap—"
"Anda tadi berkata Anda tidak mengurus operasional sedetail itu," potong Bu Rahmi tenang. "Tapi paraf Anda ada di tabel yang membandingkan angka palsu dengan angka asli. Orang yang tidak tahu apa-apa tidak memaraf perbandingan antara kebohongan dan kebenaran, Pak. Hanya orang yang tahu keduanya yang melakukannya."
Ruangan bergeming. Bhirawa hendak berdiri, tapi Wijoyo mengangkat tangan.
"Mari kita soal Gunawan," lanjut Bu Rahmi. Ia memutar rekaman — bukan rekaman baru, melainkan email yang dibacakan ahli. "Salim mengirim Anda kalimat: 'Soal Gunawan sudah saya tangani.' Email itu masuk ke kotak masuk Anda. Anda membalas dua jam kemudian dengan satu kata: 'Baik.'" Ia menatap Wirananta. "Seorang auditor mati seminggu kemudian. Anda membalas pengakuan bahwa masalah Gunawan 'sudah ditangani' dengan kata 'Baik'. Apa yang Anda kira sudah ditangani, Pak?"
"Saya kira... administrasi. Pemutusan kerja. Saya tidak—"
"Gunawan sudah dipecat enam bulan sebelumnya," kata Bu Rahmi. Suaranya tidak naik, tapi setiap kata jatuh seperti palu kecil. "Tidak ada administrasi yang perlu ditangani. Yang tersisa dari Gunawan hanya satu hal: laporan yang akan ia serahkan ke otoritas. Itu yang 'ditangani'. Dan Anda menjawab 'Baik'."
Keheningan di ruang itu menjadi sesuatu yang fisik.
Damar memperhatikan wajah Wirananta. Kepercayaan diri yang ia bawa masuk tadi mengelupas perlahan, lapis demi lapis, seperti cat lama. Yang tersisa di baliknya bukan visioner, bukan korban, bukan tokoh majalah. Hanya seorang lelaki tua yang seumur hidup yakin uang dan kata-kata bisa menutupi apa pun, dan kini menemukan bahwa kertas — kertas miliknya sendiri, tanda tangannya sendiri, kata-katanya sendiri — tidak bisa disuap.
"Saya tidak punya pertanyaan lagi, Yang Mulia," kata Bu Rahmi.
Ketika Wirananta turun dari mimbar, ia tidak lagi berjalan seperti orang yang dunia tunduk padanya. Ia berjalan seperti orang yang baru saja mendengar suara gelembung pecah, dan menyadari bahwa selama ini ia berdiri di dalamnya.