Skema Ponzi seperti badai. Saat berlangsung, ia memporak-porandakan segalanya, dan semua mata tertuju pada amukannya. Tapi setelah badai berlalu, yang tersisa adalah debu — debu yang perlu waktu lama untuk mengendap, dan kerja yang lebih lama lagi untuk dibersihkan.
Damar menemukan dirinya di tengah pekerjaan membersihkan debu itu, di sebuah ruang dengar pendapat di gedung otoritas pasar modal. Tiga bulan setelah vonis, ia diundang — bukan dipanggil sebagai saksi, kali ini, tapi diminta sebagai narasumber. Perubahan kecil dalam kata kerja itu terasa seperti perubahan dunia.
"Kami ingin mendengar dari Anda," kata ketua sidang, seorang pejabat baru yang menggantikan pendahulunya yang mundur lalu ditetapkan tersangka, "apa yang seharusnya bisa mencegah Cakrawala. Anda menemukannya saat seluruh sistem gagal melihatnya. Kenapa sistem gagal, dan bagaimana kita perbaiki."
Damar berdiri di mimbar kecil, tanpa jas — ia tak pernah benar-benar nyaman berjas — dengan map tipis di tangannya. Ia tidak butuh banyak catatan. Pertanyaan ini sudah ia pikirkan ribuan kali, di apartemen studio, di rumah aman, di ruang sidang.
"Cakrawala tidak lolos karena pintar," katanya. "Cakrawala lolos karena semua orang yang seharusnya memeriksa, memilih tidak memeriksa. Auditor yang seharusnya independen dibayar oleh yang diaudit. Pengawas bursa yang seharusnya curiga, sebagian justru memegang sahamnya. Sekuritas yang seharusnya melindungi klien, malah menerima fee untuk merekomendasikan. Media yang seharusnya bertanya, lebih suka menulis 'saham bintang naik tiga ratus persen'." Ia berhenti. "Kejahatannya bukan cuma di pelaku. Kejahatannya di sistem yang membuat semua orang punya alasan untuk diam."
Ruangan hening.
"Jadi apa solusinya?" tanya ketua sidang.
"Tiga hal." Damar mengangkat satu jari. "Pertama, pisahkan auditor dari yang diaudit secara nyata — bukan di atas kertas. Kedua, larang pejabat pengawas memegang saham perusahaan yang mereka awasi, dan periksa itu, jangan cuma diatur lalu dilupakan." Ia mengangkat jari ketiga. "Ketiga, dan ini yang paling penting — beri perlindungan nyata bagi orang dalam yang berani bicara. Pak Gunawan menyusun laporan yang benar, dan dia mati di dasar jurang. Tito memberi saya bukti, dan dia bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Kalau sistem tidak melindungi orang yang berkata jujur, maka sistem itu sedang melindungi orang yang berbohong."
Beberapa minggu kemudian, rancangan aturan baru perlindungan investor mulai dibahas. Orang-orang menyebutnya, setengah resmi, "aturan Cakrawala". Ada pasal tentang pelaporan orang dalam, ada mekanisme audit silang, ada batasan kepemilikan saham bagi pejabat pengawas. Damar tahu aturan di atas kertas tidak otomatis menjadi kenyataan — ia sudah terlalu lama melihat jarak antara aturan dan praktik. Tapi setidaknya, jaraknya kini mulai dipersempit.
Pasar sendiri perlahan pulih. Bursa, yang sempat goyah karena skandal terbesar dalam sejarahnya, mengeluarkan serangkaian aturan baru — penghentian perdagangan otomatis untuk saham dengan kenaikan tak wajar, kewajiban pengungkapan pemegang saham besar, audit mendadak bagi perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan ekstrem. Ironisnya, beberapa aturan itu nyaris persis dengan tanda-tanda yang dulu Damar tulis dengan tinta merah di pojok laporan keuangan Cakrawala: dari mana uang masuknya, kalau penjualannya cuma di atas kertas?
Suatu sore, Lestari mengiriminya pesan — pertama kali sejak berbulan-bulan, sejak Damar menyuruhnya menjauh demi keselamatan. Hanya satu tangkapan layar: berita di portal ekonomi, judulnya "Otoritas Sahkan Aturan Perlindungan Investor Pasca-Kasus Cakrawala". Di bawahnya, Lestari menulis: "Kamu yang bikin ini, Mar. Bukan mereka."
Damar menatap pesan itu lama. Ia tidak merasa seperti pahlawan. Ia merasa lelah, dan tua melebihi dua puluh enam tahunnya. Tapi ada juga sesuatu yang lain — sesuatu yang baru ia kenali sebagai kepuasan yang sunyi. Bukan karena ia menang. Tapi karena debu mulai mengendap, dan ketika nanti ia mengendap sepenuhnya, lantai yang tersisa akan sedikit lebih bersih daripada yang ia temukan.
Ia membalas Lestari dengan satu kalimat: "Kita yang bikin ini. Aku belum lupa siapa yang menahan rekomendasi Cakrawala dua minggu waktu itu, walau bisa bikin kamu dipecat."
Lalu ia menutup ponselnya, menatap ke luar jendela ruang rapat ke arah gedung-gedung yang dulu tampak seperti tumpukan koin yang ditata rapi. Mereka masih tampak seperti itu. Tapi sekarang Damar tahu, di antara koin-koin itu, ada yang sungguhan dan ada yang kosong — dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang lain yang juga belajar membedakannya.