Mayor Sandya membentangkan peta besar di atas meja ruang operasi. Bukan peta kota dalam arti biasa — ini diagram, sebuah jaring yang terdiri dari nama, panah, dan kotak-kotak kecil. Sebagian kotak sudah dicoret merah. Sebagian masih kosong.
"Ini sisa-sisanya," kata Sandya, menunjuk kotak-kotak yang belum dicoret. "Setelah Wirananta divonis, setelah Salim divonis, setelah aset dibekukan — jaringannya tidak langsung mati. Organisme seperti ini punya ekor yang masih bergerak walau kepalanya sudah putus."
Damar mencondongkan tubuh ke meja. Selama berbulan-bulan ia menjadi bagian tak resmi dari tim ini, bukan sebagai aparat, melainkan sebagai pembaca angka — orang yang bisa melihat pola di aliran uang yang membuat penyidik biasa pusing.
"Kurir-kurir," kata Damar, menunjuk beberapa kotak. "Orang-orang yang dulu membawa amplop. Mereka tahu siapa menerima apa."
"Betul. Dan oknum di institusi yang belum tertangkap. Pegawai rendahan yang menghapus dokumen, menunda berkas, menghilangkan barang bukti." Sandya mengetuk meja. "Ini bukan pemain besar. Mereka tidak akan masuk headline. Tapi kalau dibiarkan, merekalah benih yang besok bisa tumbuh jadi Cakrawala berikutnya."
Operasi terakhir itu berlangsung selama tiga hari, dan tidak ada drama. Tidak ada baku tembak, tidak ada helikopter, tidak ada sirene yang membelah pagi seperti di gudang blok C dulu. Hanya penangkapan-penangkapan tenang: seorang kurir ditangkap di terminal bus saat hendak kabur ke luar kota; seorang pegawai arsip kepolisian yang dulu "kehilangan" barang bukti dijemput dari rumahnya; seorang notaris yang membantu mendirikan perusahaan-perusahaan cangkang diciduk dari kantornya yang rapi dan ber-AC.
Damar ikut menyaksikan dari kejauhan saat kurir terakhir ditangkap. Pria itu masih muda, mungkin tak jauh berbeda usianya dengan Damar. Ia tidak melawan. Ia hanya duduk di trotoar terminal, kepala tertunduk, dan berkata pada petugas dengan suara lelah, "Saya cuma disuruh anter amplop, Pak. Saya nggak tahu isinya apa."
Mungkin benar. Mungkin tidak. Tapi Damar tahu, kalimat "saya cuma disuruh" itulah yang selama ini menjadi pelumas seluruh mesin kejahatan. Setiap orang melakukan bagian kecilnya, meyakinkan dirinya bagian kecil itu tidak berarti apa-apa, dan dari ribuan bagian kecil itu terbangun sebuah penipuan dua belas triliun rupiah.
Malam terakhir operasi, Sandya memanggil Damar ke ruangannya. Ia menyodorkan secangkir teh, lalu menunjuk diagram di dinding — diagram yang sama, kini hampir seluruh kotaknya tercoret merah.
"Lihat ini," kata Sandya. "Setahun lalu, kotak-kotak ini kosong semua. Kami tidak tahu ada jaring. Kami tidak tahu siapa Salim sebenarnya. Kami tidak tahu Gunawan dibunuh." Ia menatap Damar. "Tahu kenapa sekarang kotak-kotaknya penuh dan tercoret?"
Damar menggeleng.
"Karena ada satu analis bandel yang nggak mau diam waktu disuruh diam." Sandya tersenyum tipis. "Aku sudah dua puluh tahun di pekerjaan ini, Damar. Kasus besar biasanya runtuh bukan karena aparat hebat. Tapi karena ada satu orang biasa yang kebetulan tidak bisa tidur tenang dengan kebohongan."
Damar menatap diagram itu. Salim — tercoret. Wirananta — tercoret. Direktur keuangan — tercoret. Yusman — tercoret. Para pejabat di daftar — sebagian besar tercoret. Dan sekarang, kurir terakhir, oknum terakhir, ekor terakhir dari organisme itu — tercoret.
"Apa benar-benar selesai, Pak?" tanya Damar. "Maksud saya, tidak ada lagi tangan dari penjara? Tidak ada lagi yang mengendalikan dari balik jeruji?"
Salim, dulu, mampu mengendalikan operasi pembunuhan bahkan dari dalam tahanan, lewat pengacara dan kurir. Itu mimpi buruk yang menghantui Damar selama berbulan-bulan: bahwa selama jaringnya utuh, penjara hanyalah ruang kerja baru bagi sang otak.
Sandya menggeleng pelan. "Pengacara yang jadi kurir Salim sudah dicabut izinnya dan ditahan. Kurir-kurir sudah ditangkap. Saluran komunikasinya sudah diputus. Salim sekarang benar-benar cuma orang tua di balik jeruji, tanpa tangan, tanpa kaki di luar." Ia menyeruput tehnya. "Tidak ada lagi tangan dari penjara, Damar. Untuk pertama kalinya, dia sama tidak berdayanya dengan orang-orang yang dulu dia hilangkan."
Damar membiarkan kalimat itu mengendap. Lega yang ia rasakan bukan ledakan, melainkan seperti air yang akhirnya berhenti menetes dari kran yang lama bocor. Sunyi. Tuntas.
Ia berdiri, menjabat tangan Sandya. "Terima kasih, Pak. Untuk tidak menyerah."
"Itu kalimatku buat kamu," kata Sandya.
Di luar, langit malam Pelabuhan Utara — pelabuhan yang sama tempat semuanya nyaris berakhir setahun lalu — tampak bersih dari kabut. Damar berdiri sejenak di tepi dermaga, menatap air yang tenang. Tidak ada lagi mobil hitam yang mengikuti. Tidak ada lagi yang melacak titik lokasinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi di pasar ikan itu, ia berjalan pulang tanpa menoleh ke belakang.