Hari itu, matahari bersinar sangat terik di halaman kampus. Alya berjalan cepat sambil menenteng tumpukan buku tebal di tangannya, wajahnya sedikit cemberut karena panas dan lelah. Dia harus segera sampai ke ruang kelas, kalau tidak dia bakal terlambat masuk mata kuliah yang paling dia benci: Metode Penelitian.
Tiba-tiba, seseorang berjalan berlawanan arah dengan langkah santai, tanpa melihat ke depan, dan tanpa sengaja bahu mereka berbenturan keras. Buku-buku di tangan Alya berjatuhan ke aspal yang panas.
"Hei! Awas dong jalan!" seru Alya kesal, mendongak menatap orang yang baru saja menabraknya.
Di depannya berdiri seorang cowok tinggi, berjaket hitam, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan wajahnya... dingin sekali. Tatapannya datar, tidak ada rasa bersalah sedikit pun, malah menatap Alya seolah-olah Alya yang salah berjalan. Itu Arka. Cowok yang sering didengar namanya, terkenal pintar, tapi sangat tertutup dan angkuh.
Arka hanya menatap sebentar buku-buku yang berserakan, lalu menatap Alya sekilas, lalu berkata dengan nada datar dan dingin, "Hati-hati kali jalan, main nyerempet orang aja."
Tanpa menunggu jawaban atau membantu mengambilkan barang-barang, dia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Alya yang melongo kaget sekaligus marah luar biasa.
"Dasar sombong! Angkuh! Mentang-mentang pintar, sembarangan banget ngomongnya!" gerutu Alya sambil memunguti bukunya satu per satu. Hatinya panas sekali. Kesan pertamanya terhadap Arka sudah tertanam kuat: cowok itu tidak tahu sopan santun, dingin, dan paling menyebalkan sedunia.
Sejak hari itu, setiap kali melihat Arka lewat, Alya selalu membuang muka atau memutar mata malas. Di matanya, Arka adalah tipe manusia yang merasa paling hebat, meremehkan orang lain, dan tidak enak sama sekali.
Teman-teman Alya sering bilang, "Ya ampun Alya, Arka itu sebenarnya baik lho, cuma emang pendiam dan nggak pandai ngomong aja." Tapi Alya tidak percaya. Baginya, sikap dingin dan ketus kemarin sudah cukup jadi bukti jelas sifat aslinya.
Hari-hari berlalu, dan takdir seolah sengaja menjahili Alya. Arka ada di mana-mana. Di kantin, di perpustakaan, di lorong kelas... selalu saja ada sosok tinggi berjaket hitam itu. Dan setiap kali mata mereka bertemu, Arka selalu menatapnya sekilas dengan wajah datar, lalu berpaling lagi. Itu bikin Alya makin kesal. "Sombong banget sih ngeliatin terus terus ngalihin muka. Apa sih hebatnya dia?"
Sampai pada pengumuman pembagian kelompok tugas besar akhir semester. Alya membaca nama-nama itu dengan santai, sampai matanya terpaku pada satu nama yang bikin darahnya mendidih: Kelompok 3: Alya Salsabila & Arka Pradana.
"APA?!" teriak Alya agak keras, sampai beberapa orang menoleh padanya. Dia tidak percaya. Kenapa harus sama Arka?! Cowok yang paling dia benci dan anggap paling menyebalkan?!
Alya menatap ke arah Arka yang duduk di pojok ruangan. Arka juga baru saja membaca kertas itu, dia menoleh ke arah Alya, menatapnya sebentar dengan wajah tanpa ekspresi, lalu kembali menunduk membaca bukunya. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, tidak ada reaksi apa pun.
"Dasar cowok batu! Pasti bakal susah kerja sama sama dia, dingin kayak es, sombong kayak raja!" gerutu Alya dalam hati sambil mengepal tangan kesal. Dia sudah membayangkan betapa menyiksanya tugas ini nanti. Dia yakin, bekerja sama dengan Arka bakal jadi mimpi buruk terbesarnya.
Tanpa dia sadari, dari sudut ruangan itu, Arka diam-diam menatap punggung Alya yang sedang marah-marah sendiri, dan ada senyum tipis yang sangat samar terukir di bibirnya. Senyum yang tidak pernah dilihat orang lain.