Malam itu Arden tidak bisa tidur. Bukan karena takut — meski itu ada — tapi karena untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di ruang putih, sebuah pertanyaan yang berbeda menggantung di kepalanya. Bukan lagi "Siapa aku?" Bukan lagi "Apakah aku salinan atau Reza yang asli?"
Tapi: "Apa yang akan kulakukan?"
Ia duduk di bibir jendela gudang, memandang lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, lampu Helix yang menjulang di tengahnya seperti jarum perak menusuk langit. Berminggu-minggu ia hanya berlari. Lari dari mobil hitam, lari dari Lingga, lari dari telepon Reza yang menanam keraguan di kepalanya seperti racun. Setiap keputusannya dibentuk oleh ketakutan: ke mana bersembunyi, kapan kabur, bagaimana bertahan satu malam lagi.
Tapi orang yang hanya bertahan hidup tidak pernah menang. Ia hanya menunda kalah.
Sena bergeser di balik tumpukan kotak, terbangun. "Kau tidak tidur," gumamnya, suara serak. Ia bangkit dengan ringisan, bahu yang terluka masih kaku, dan duduk di sebelah Arden. "Ada apa?"
Arden diam lama sebelum bicara. "Aku menghabiskan seluruh hidupku — tiga minggu, lalu beberapa minggu lagi — mencoba membuktikan aku bukan Reza. Mencoba lari dari wajahnya. Dari ingatannya." Ia menoleh ke Sena. "Tapi semalam aku sadar sesuatu. Selama aku cuma lari, aku membiarkan Reza yang menentukan siapa aku. Aku bereaksi terhadapnya. Aku cuma bayangan yang menjauh dari sumber cahayanya."
Sena menatapnya, menunggu.
"Hartono ditangkap karena aku. Kakakmu mati karena Proyek Gemini. Ada sebelas iterasi sebelumku yang mati di tabung, dan akan ada iterasi tiga belas, empat belas, kalau aku menghilang besok." Arden mengepalkan tangan di pangkuannya. "Kalau aku cuma menyelamatkan diriku sendiri — lari ke kota lain, ganti wajah, hilang — semua itu sia-sia. Helix tetap berdiri. Reza tetap mendapat tubuh barunya. Akan selalu ada Arden lain di ruang putih, bangun tanpa ingatan, ketakutan."
"Jadi apa yang kau pilih?" tanya Sena pelan.
Arden menatap menara Helix di kejauhan. Suaranya tenang, dan untuk pertama kalinya, tidak gemetar.
"Aku tidak mau cuma selamat. Aku mau menghancurkannya. Proyek Gemini, server kesadaran, kapasitas mereka membuat manusia jadi cangkang. Semuanya. Sampai tak ada Arden lain yang pernah harus bangun di ruang itu lagi." Ia menoleh. "Bukan untuk balas dendam. Bukan karena aku benci Reza, meski mungkin aku benci. Tapi karena kalau aku tidak melakukannya, tidak ada orang lain yang akan. Dan aku satu-satunya yang tahu rasanya jadi mereka."
Sena memandangnya lama. Lalu, perlahan, sesuatu di wajahnya melembut — sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan pada Arden. Bukan kecurigaan. Bukan kalkulasi. Sesuatu yang lebih dekat dengan rasa hormat.
"Kau tahu," katanya, "sejak awal aku menolongmu karena kau berguna. Karena wajahmu bisa membuka pintu Reza. Aku tidak peduli apakah kau hidup atau mati setelah kakakku terbalas." Ia menelan ludah. "Aku minta maaf untuk itu."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti."
"Tidak. Dengar dulu." Sena menatapnya lurus. "Yang baru saja kau katakan — itu bukan kata-kata Reza. Reza membuang sebelas nyawa supaya dia bisa hidup selamanya. Kau mau menghancurkan segalanya supaya tidak ada yang harus mati seperti mereka." Ia tersenyum tipis, lelah dan tulus. "Itu yang membedakanmu darinya. Bukan penyakit. Bukan usia. Itu."
Arden merasakan sesuatu mengendap dalam dirinya, berat dan tenang seperti jangkar yang akhirnya menyentuh dasar. Selama ini ia mencari bukti di luar dirinya — di catatan medis, di tabung, di kata-kata orang lain — tentang siapa ia sebenarnya. Tapi jawabannya tidak ada di sana. Jawabannya ada dalam apa yang ia pilih untuk lakukan.
"Aku Arden," katanya pelan, ke gelap, ke lampu kota, ke menara Helix yang dingin. Bukan lagi sebagai pertanyaan, bukan lagi sebagai pertahanan. Sebagai keputusan.
Sena menepuk lengannya. "Kalau begitu, Arden. Ayo kita rencanakan bagaimana menjatuhkan kekaisaran."
Untuk pertama kalinya, Arden tersenyum tanpa merasa bahwa itu senyum Reza.