Mereka pindah ke titik pertemuan baru malam itu — sebuah bengkel mobil tua yang sudah lama tutup, di kawasan industri terlupakan tempat kamera pengawas berkarat dan listrik kota tak lagi sampai. Sena menghubungi simpul lama jaringan kakaknya. Hanya dua yang menjawab. Itu sudah lebih dari yang ia harapkan.
Tapi malam itu, retakan pertama muncul bukan dari luar. Melainkan di antara mereka berdua.
Mereka sedang meninjau ulang denah ketika Arden, tanpa berpikir, menyebut sesuatu.
"Pintu pemuatan di sisi timur lebih lemah," katanya, menunjuk denah. "Reza selalu kesal soal itu. Dia bilang ke kepala keamanan, 'Sisi timur adalah aibku.' Mereka tidak pernah memperbaikinya karena anggaran—" Ia berhenti, menyadari Sena menatapnya.
"Dari mana kau tahu itu?" tanya Sena pelan.
"Ingatannya. Reza pernah membahas itu dalam rapat. Aku... aku menyelam tadi pagi saat kau tidur."
Wajah Sena berubah. "Saat aku tidur. Kau menyelam ke kepala Reza sendirian. Tanpa jangkar."
"Aku baik-baik saja. Aku kembali."
"Kali ini." Sena berdiri, menjauh beberapa langkah, lalu berbalik. Suaranya rendah, hati-hati, tapi ada ketegangan baru di dalamnya. "Aku perhatikan, Arden. Beberapa hari terakhir. Cara kau berjalan. Cara kau menata barang di meja — sudut sembilan puluh derajat, semuanya. Cara kau bicara saat lelah. Itu makin sering... bukan kau."
Arden merasa dingin di perutnya. "Aku masih aku."
"Apakah kau yakin?" Sena menatapnya lurus, dan untuk pertama kalinya sejak titik balik di gudang, kecurigaan lama itu kembali ke matanya. "Kau bilang ingatannya progresif. Ireversibel tanpa intervensi. Setiap kali kau menyelam, kau membiarkannya lebih dalam. Bagaimana aku tahu — bagaimana KAU tahu — bahwa pada titik tertentu, bukan kau yang memakai ingatannya, tapi dia yang memakai kau?"
Kata-kata itu menggantung di udara bengkel yang berbau oli dan debu.
Arden membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Karena ia tidak bisa. Karena pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang menghantuinya tiap kali ia naik dari penyelaman dan butuh waktu sedikit lebih lama untuk mengenali wajahnya sendiri di pantulan.
"Aku tidak tahu," akunya pelan. "Itu jujur. Aku tidak punya cara membuktikannya padamu. Atau pada diriku sendiri."
Sena mengusap wajahnya, frustrasi. "Itu masalahnya. Aku mempertaruhkan nyawaku, dan nyawa orang-orang yang masih mau menolong, pada kepercayaan bahwa orang yang berdiri di sebelahku adalah Arden. Bukan Reza yang menunggu momen untuk menusukku dari belakang." Suaranya retak. "Kakakku mati karena percaya pada orang yang salah. Aku tidak bisa—aku tidak bisa melakukan itu lagi."
Hening panjang. Di luar, angin menggesek seng atap yang lepas.
Arden duduk pelan. Ia tidak marah. Ia mengerti ketakutan Sena dengan menyakitkan, karena itu juga ketakutannya sendiri.
"Kau benar untuk takut," katanya akhirnya. "Aku tidak bisa menyuruhmu percaya buta. Itu bodoh." Ia menatap tangannya. "Tapi biar kukatakan satu hal. Reza, kalau dia benar-benar mengendalikanku, apa yang akan dia lakukan? Dia akan menyerahkan diri ke Lingga. Dia akan membawamu ke jebakan. Dia akan menghentikan rencana menghancurkan servernya — server yang berisi dirinya sendiri." Arden menatap Sena. "Tapi aku berdiri di sini, merencanakan cara meledakkan satu-satunya hal yang membuat Reza abadi. Apakah itu yang akan Reza lakukan?"
Sena diam, mempertimbangkan.
"Aku menyelam ke ingatannya," lanjut Arden, "untuk menghancurkannya. Itu bukan tindakan orang yang takluk padanya. Itu tindakan orang yang memakai musuhnya melawan dirinya sendiri." Ia mengulurkan flash drive Hartono ke Sena. "Pegang ini. Kalau suatu saat kau ragu — kalau aku berhenti terdengar seperti aku — kau punya semua yang kau butuhkan untuk melanjutkan tanpa aku. Hancurkan server itu, dengan atau tanpa aku."
Sena menatap flash drive di telapaknya, lalu menatap Arden. Sesuatu di wajahnya melunak, tapi tidak sepenuhnya. Kepercayaan, sekali retak, tidak utuh dalam semalam.
"Kita perlu cara memperlambat rembesannya," katanya akhirnya, menyimpan flash drive. "Sungguh. Bukan cuma jangkar dan harapan. Sesuatu yang nyata. Atau aku tidak akan bisa membawamu mendekati server itu — karena aku tidak akan tahu siapa yang kubawa."
Arden mengangguk berat. "Setuju. Aku juga takut, Sena. Setiap kali aku tidur, aku takut bangun jadi orang lain."
Di luar, fajar masih jauh. Dan untuk pertama kalinya, dua sekutu yang bersandar satu sama lain itu tidur dalam giliran — bukan untuk menjaga dari Helix, tapi karena salah satu dari mereka tidak lagi sepenuhnya yakin pada yang lain.