Tabung kecil itu sebesar jari kelingking, isinya cairan keruh kehijauan. Orang dalam — teknisi simpul lain dari divisi penelitian, bukan Hartono — meletakkannya di atas meja kayu lapuk rumah aman, lalu mundur seperti orang yang baru menaruh bom.
"Penghambat neural," katanya. "Helix memakainya pada iterasi yang transfernya terlalu cepat. Memperlambat penulisan pola. Tapi—" ia berhenti.
"Tapi apa?" Sena menyilangkan tangan.
"Tapi ini menahan rembesan dengan cara yang sama ia menahan segalanya. Refleks. Konsentrasi. Kadang ingatan yang asli — yang memang milik dia." Teknisi itu menunjuk Arden dengan dagu. "Kau bisa lupa hal yang kau alami sendiri minggu lalu. Mati rasa. Tangan gemetar. Beberapa subjek jadi tak bisa membedakan mimpi dan jaga."
Arden mengangkat tabung itu, memutarnya pelan di bawah lampu. Di dalamnya, cairan bergerak seperti kabut. Ia memikirkan tidur. Tiga malam terakhir, tiap kali matanya terpejam, Reza datang. Bukan sebagai mimpi — sebagai ingatan. Ruang rapat dengan meja sepanjang sepuluh meter. Suara dirinya sendiri memberi perintah dengan ketenangan yang membuatnya muak. Bangun terasa seperti kehilangan tanah.
"Berapa lama efeknya?" tanya Arden.
"Dua belas jam per dosis. Lebih dari tiga dosis sehari, kau mulai rusak."
Sena merebut tabung dari tangan Arden. "Tidak. Kita cari cara lain."
"Cara lain butuh waktu," kata Arden. "Dan aku kehabisan diriku sendiri tiap aku tidur." Ia menatap Sena, dan untuk sesaat ia takut perempuan itu melihat Reza di matanya. "Kau bilang sendiri di pabrik dulu. Senyum itu muncul tanpa kusuruh. Kemarin aku hampir menyebut nama istri pertama Reza saat kau bertanya namaku. Aku berhenti sepersekian detik sebelum mulutku menjawab salah."
Hening. Orang itu berdehem dan menyebut sebuah nomor saluran untuk pasokan berikutnya, lalu pergi lewat pintu belakang tanpa pamit, cara orang yang sudah lama berhenti percaya pada perpisahan.
Malam itu Arden menyuntik dirinya sendiri. Jarum masuk ke lipatan siku, dingin merayap naik. Sena duduk di seberang meja, lampu minyak di antara mereka karena listrik rumah aman tak bisa dinyalakan tanpa menarik perhatian sensor jaringan.
"Tanya aku sesuatu," kata Arden, lidahnya mulai berat. "Sesuatu yang hanya Arden tahu."
Sena berpikir. "Apa yang kau makan pertama kali setelah kabur dari Helix?"
Arden mencari. Untuk satu momen yang menakutkan, tak ada apa-apa. Lalu, dari kabut: "Roti. Kau curi dari gerobak di kawasan tua. Kerak luar, isinya manis. Kau bilang aku makan seperti orang yang tak pernah lapar sebelumnya." Ia tersenyum lemah. "Karena memang begitu. Itu makanan pertamaku."
Sena tidak tersenyum balik. Ia memperhatikan tangan Arden, yang kini bergetar halus di atas meja.
"Aku masih di sini," kata Arden.
"Untuk sekarang," jawab Sena.
Pukul tiga pagi, Arden terbangun karena ia tidak bermimpi sama sekali. Tak ada ruang rapat. Tak ada suara dirinya yang bukan dirinya. Hanya gelap pekat, kosong, bersih. Ia menangis tanpa tahu kenapa, lalu menyadari: ia menangis karena lega. Penghambat bekerja. Reza diam.
Tapi saat ia mengangkat tangan ke wajah, dua jarinya tak merespons. Mati rasa. Ia memandangi jari-jari itu seolah milik orang lain, dan untuk pertama kalinya ia mengerti harga yang dijanjikan orang itu. Ia membeli waktu dengan potongan dirinya. Dan ia tak tahu, saat penghambat habis nanti, jari mana lagi yang akan ia bayarkan.
Di luar jendela, kota berkedip ungu dan biru. Di salah satu menara jauh, layar raksasa masih menyala dengan wajahnya — wajah mereka — di bawah tulisan yang kini ia hafal: BERBAHAYA. HUBUNGI HELIX. Arden mengepalkan tangan yang masih bisa ia rasakan.
"Aku Arden," bisiknya ke kegelapan. Lalu, karena ia takut lupa caranya, ia mengulangnya sampai pagi.