Rencana Sena sederhana sampai gila.
"Reza Kastara akan menghadiri peresmian sayap baru rumah sakit riset Helix, lusa," kata Sena, menunjukkan artikel di ponselnya. "Acara publik. Banyak media, banyak tamu, banyak pengamanan. Tapi justru itu kelemahannya. Dalam keramaian, satu Reza Kastara lebih akan luput dari perhatian dibanding satu wajah asing."
"Kau ingin aku menyusup ke acaranya," kata Arden. "Berpura-pura jadi dia."
"Tidak persis." Sena menggeleng. "Reza yang asli akan ada di sana. Tidak mungkin ada dua. Tapi sebelum acara, ada area persiapan, ruang tunggu pribadi untuk pembicara. Di situlah dia akan sendirian, atau hampir sendirian. Kalau kau bisa masuk dengan wajahnya, melewati pengawal yang tidak akan curiga pada wajah bos mereka sendiri, kau bisa sampai ke dia. Bicara langsung. Tanpa korporasi mengawasi."
"Lalu apa?" Arden menatapnya. "Aku bicara dengan pria yang memutuskan menghapusku. Apa yang akan kukatakan? Tolong jangan bunuh aku?"
"Kau merekamnya." Sena mengeluarkan sebuah pin kecil, alat perekam. "Kau pancing dia bicara. Tentang Proyek Gemini. Tentang substitusi. Satu pengakuan dari mulutnya sendiri, dan kita punya senjata yang bisa meledakkan seluruh Helix. Aku punya saluran untuk menyebarkannya. Begitu publik tahu, mereka tidak bisa lagi diam-diam memprosesmu. Kau akan terlalu terkenal untuk dilenyapkan."
Arden memutar-mutar pin itu di jarinya. "Dan kalau dia tidak mau bicara? Kalau dia memanggil pengawal?"
"Maka kau lari, dan kita coba cara lain." Sena menatapnya lurus. "Aku tidak bilang ini aman. Aku bilang ini satu-satunya kesempatan kita sebelum mereka menemukanmu lagi. Dan mereka akan menemukanmu, Arden. Cepat atau lambat."
Mereka menghabiskan sisa hari menyiapkan diri. Sena mencuri setelan jas dari toko binatu, menyesuaikannya. Ia melatih Arden meniru gerak-gerik Reza, dari rekaman video wawancara: cara berdiri, cara memiringkan kepala, nada bicara yang dingin dan terukur.
Yang menyeramkan, Arden tidak perlu banyak belajar.
Tubuhnya sudah tahu. Saat ia mengenakan jas itu dan berdiri di depan cermin retak pabrik, ia melihat bukan Arden yang ketakutan, melainkan Reza Kastara yang dingin dan berkuasa menatap balik. Ia menegakkan bahu, dan postur itu datang dengan sendirinya. Ia memiringkan kepala, dan senyum tipis penuh perhitungan itu muncul tanpa ia rencanakan.
"Berhenti," kata Sena tiba-tiba, suaranya tegang.
Arden menoleh. "Apa?"
"Tadi itu." Sena menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan: ketakutan. "Caramu tersenyum barusan. Itu bukan kau. Itu dia. Persis dia."
Arden merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ia menatap pantulannya. Senyum itu masih ada di sana, dan untuk sesaat, ia tidak yakin bagaimana cara menghilangkannya. Seolah otot-otot wajahnya lebih kenal cara jadi Reza daripada cara jadi dirinya sendiri.
"Ingatannya makin kuat," bisik Arden. "Aku bisa merasakannya. Setiap kali aku tertidur, ada lebih banyak. Tadi malam aku mengingat nama istri pertamanya. Aku mengingat rasa wiski yang biasa dia minum. Aku mengingat... aku mengingat bagaimana rasanya menandatangani perintah untuk menghentikan iterasi yang gagal." Suaranya pecah. "Aku mengingat membunuh diriku sendiri, Sena. Dari sisi yang salah."
Sena melangkah mendekat dan mencengkeram bahunya, keras. "Dengar aku. Apa pun yang masuk ke kepalamu, kau masih kau. Kau tahu kenapa? Karena kau benci ingatan itu. Reza menikmatinya. Kau muak. Selama kau masih bisa muak, kau masih Arden."
Arden mengangguk. Tapi jauh di dalam, sebuah pertanyaan dingin mulai tumbuh, pertanyaan yang tidak ia berani ucapkan: bagaimana kalau suatu hari nanti ia berhenti merasa muak? Bagaimana kalau ingatan-ingatan itu, sedikit demi sedikit, mengubah apa yang ia rasa benar dan salah, sampai ia tidak lagi bisa membedakan apakah ia membenci Reza, atau diam-diam mulai mengaguminya?
Malam itu, sebelum tidur, Arden bertanya pada Sena, "Kalau aku berhasil bicara dengannya. Kalau aku bertatap muka dengan diriku yang asli. Menurutmu apa yang akan dia lihat saat menatapku?"
Sena terdiam lama di kegelapan.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Tapi aku lebih takut pada apa yang akan kau lihat saat menatapnya."