"Kamu kenapa sih Di?" tanya seorang teman yang juga bekerja sebagai pelayan di restoran tempat Diana bekerja. Dari tadi dia melihat Diana hanya cemberut saja.
"Nggak apa-apa. Aku cuma sedang kesal aja dengan seseorang hari ini. Nyebelin tau nggak sih. Gayanya sok angkuh banget." Diana terus menggerutu sambil mengelap meja bersama temannya.
"Emangnya kenapa?" tanya Airin padanya.
Bug ...
Diana melempar kain yang ia pegang dan mengenai Robin, supervisor ditempatnya bekerja. Kebetulan pria itu sedang melintas.
"Eh maaf, Pak." Diana buru-buru mengambil kain lap yang tadi ia lemparkan. Ia lalu tersenyum kaku.
"Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati dan fokus bekerja, ya!" Robin selalu bisa bersikap manis sekalipun Diana melakukan kesalahan.
Hal itu bukan tanpa alasan, Robin sebenarnya sudah menaruh hati pada Diana sejak gadis berambut lurus itu datang pertama kali untuk bekerja di Restoran Anggrek.
"Sekali lagi maaf ya, Pak." Diana jadi tidak enak sendiri.
"Di ... kamu tuh nyadar nggak sih? Pak Robin tuh udah lama suka sama kamu deh kayaknya," bisik Airin setelah supervisor itu berlalu dari mereka.
"Apaan sih? Nggak ah! Lagian kamu kan tahu hati aku buat siapa."
"Hem ... mau sampai kapan sih nunggu yang nggak pasti? Mendingan nih ya, buka hati kamu buat nerima seseorang yang lain. Belum tentu juga orang yang kamu tunggu itu masih ingat sama kamu."
"Enak aja, hatiku nggak segampang itu berubah, Rin. Sampai hari ini aku masih nggak bisa bahkan untuk tidak memikirkannya sekali saja." Diana menatap sendu pada sahabatnya.
"Ya terserah kamu sih, aku cuma ngasih saran aja. Lagipula kamu udah hampir empat tahun juga kan nggak ketemu sama dia. Kabarnya dia aja kamu nggak tahu. Kalau ternyata dia udah nikah gimana?"
Pertanyaan dari Airin membuat Diana semakin gelisah. Sudah bertahun-tahun ia berusaha setia pada seseorang yang hampir empat tahun lalu berpamitan padanya untuk mengurus bisnis di luar negeri.
"Maaf, Di ... bukan maksud aku buat ngompor-ngomporin kamu. Tapi kamu pernah mikir nggak sih? Saat pamit sama kamu dulu usia Hanz sudah 25 tahun hampir 26. Lalu kalian sudah berpisah selama hampir empat tahun. Usia dia sudah matang, Di."
Diana tertunduk mendengar perkataan sahabat yang sudah dikenalnya selama lebih dari lima tahun.
"Sekali lagi maaf, Di. Aku nggak maksud apa-apa. Aku hanya nggak mau kamu kecewa aja." Airin menepuk dan mengusap bahu sahabatnya agar lebih tenang.
"Nggak apa-apa kok, Rin. Iya emang kamu benar juga. Makasih udah peduli banget sama aku. Tapi jujur aja, aku masih sangat berharap pada Hanz. Kamu tahu dia adalah lelaki pertama yang mengisi hatiku yang kosong setelah tidak ada lagi tempat buatku bersandar."
"Sabar ya, Di. Aku cuma nggak mau kamu menelan kekecewaan nantinya. Ya udah kita siap-siap yuk!"
Hari itu Diana bekerja cukup keras karena ini adalah hari minggu, yang dimana restoran biasanya sedang ramai-ramainya. Dia bahkan sampai lupa akan suasana hatinya tadi pagi.
"Di, kamu lembur, ya?" tawar Robin pada Diana yang sudah bersiap akan mengakhiri masa bekerjanya hari ini. Gadis itu sedang melepas apron yang dipakainya.
"Em ... gimana ya, Pak. Diana sebenarnya ada perlu, mau membelikan obat untuk ayah Diana yang sedang sakit." Diana terlihat mempertimbangkan. Uang lembur di saat weekend cukup lumayan juga sebenarnya. Untuk tambah-tambah beli keperluan.
"Ya sudah kalau kamu tidak bisa, biar saya minta Airin saja." Robin tersenyum hangat.
Sebenarnya ia memilih Diana juga karena ingat keadaan keuangan gadis itu. Robin sudah sangat mengerti kondisi Diana karena ia kerap mencari informasi dari Airin, teman kerja sekaligus sahabat baik Diana.
"Emm ... jangan, Pak! Biar saya saja yang lembur," ujar Diana kemudian. Airin sudah cerita sejak kemarin, jika ia akan berkencan hari ini. Diana tidak ingin sahabatnya itu gagal kencan hanya gara-gara disuruh lembur hari ini.
"Kamu yakin? Ini hari minggu lho, Di. Pulangnya juga lebih malam dari hari biasa. Ayah kamu nggak apa-apa?" Robin justru jadi cemas karenanya. Ia tidak tega pada gadis yang kini duduk bersama dirinya di salah satu meja.
"Nggak apa-apa. Obat ayahku sebenarnya masih ada kok, Pak. Ya sudah saya kembali siap-siap kalau gitu. Make up Diana udah luntur soalnya." Diana kembali menuju ke ruang ganti karyawan.
"Di ... tunggu!" Robin mencekal lengan Diana.
"Iya, Pak?"
"Emm ... nanti malam aku antar, ya?" Dengan hati-hati Robin menawarkan diri.
"Nggak perlu, Pak. Diana biasa pulang sendiri." Diana menarik tangannya dan segera pergi.
Robin tau, jawaban Diana akan seperti itu. Entah sudah berapa lama dia berusaha. Diana seperti sesuatu yang sangat dekat namun tak bisa direngkuh sama sekali. Terkadang gadis itu begitu ceria, namun terkadang juga sangat sendu seolah menyimpan banyak kesedihan.
Semakin malam tamu restoran itu semakin ramai. Diana masih terlihat bersemangat dari luar, senyumnya terus mengembang melayani para tamu yang datang. Namun sebenarnya ia sangat lelah.
Sepasang mata mengawasinya sejak tadi. Terkadang ada rasa kasihan, kadang juga terlihat bangga akan sosok Diana. Gadis itu begitu kuat memikul banyak beban dipundaknya. Sudah sejak lulus SMA dia menjadi tulang punggung keluarga hingga sekarang usianya menginjak 22 tahun.
"Di ... kalau kamu lelah, kamu bisa pulang sekarang." Robin menghampiri gadis pujaannya yang bersender di dinding restoran belakang bar.
"Eh ... Pak Robin. Nggak Pak, sekarang kan masih jam sepuluh." Diana melirik benda yang melingkar ditangannya.
"Nggak apa-apa, lagi pula restoran sudah mulai berkurang pengunjungnya."
"Nggak, Pak. Biar Diana selesaikan sampai jam pulang saja."
Setelah itu Diana tersenyum dan pamit melayani tamu kembali. Ia menyibukkan diri sampai tiba jam pulang.
Dengan langkah gontai Diana menyusuri jalanan yang biasa ia lewati untuk pulang. Karena berjalan sendirian, Diana merasa sepi sekali. Ia secara spontan menendang sebuah botol minum yang tergeletak di trotoar.
Tak ...
Botol tersebut melayang dan mengenai sebuah mobil yang melaju santai dari arah berlawanan.
Mata Diana membulat sempurna.
"Gawat! Kalau pemilik mobil itu marah dan menuntutnya gimana?" batin gadis itu sambil menggigit ibu jarinya saat melihat mobil itu berhenti.
Seseorang turun dan melangkah dengan langkah yang lebar kearahnya.
"Apa Anda tidak bisa jika tidak membuat masalah, Nona?"