Diana menyentakkan kursinya dengan kasar lalu berlari keluar restoran. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya karena merasakan sesak di dadanya yang kian menghimpit.
Harapan tinggi akan seorang Hanz yang telah sekian lama ia tunggu kedatangannya itu telah kandas. Meski sebagian hatinya telah diisi oleh Raymond, tapi berjumpa dan menyaksikan lelaki itu bersama wanita lain ternyata semenyakitkan ini.
Kini ia tak tahu kemana lagi harus bersandar. Ayahnya berada dimana, ia pun tak tahu. Biasanya disaat seperti ini Diana akan mendapat kekuatan dari lelaki paruh baya itu. Tapi kini ....
Diana merasa sendirian.
"Tunggu, Diana!" Raymond yang mengejar Diana pun akhirnya bisa mencekal lengan gadis itu sebelum Diana keluar dari gedung hotel.
"Lepaskan, aku!" teriaknya.
"Tidak aka