Pintu ambulans terbuka. Angin sore menyambut Queen saat ia melangkah turun. Pandangannya tertuju pada gerbang besi yang sudah sedikit berkarat, namun tulisan SMA RASAJA masih berdiri tegak persis seperti bertahun-tahun lalu.
Napasnya terasa berat di d**a. Rasanya baru kemarin ia berlari keluar dari gerbang ini membawa ribuan keraguan, dan sekarang ia kembali lagi dengan seragam yang berbeda, beban yang berbeda pula.
"Dok, silakan ikut saya ke UKS. Pasien ada di sana," sapa petugas yang sudah menunggunya.
Queen mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam lingkungan sekolah yang menyimpan semua rahasia masa mudanya.
Sesampainya di UKS, Queen segera bergegas menjalankan tugasnya.
"Kejadiannya bagaimana?" tanyanya melihat kondisi pasien.
"Dia tersengat kabel tua yang terbuka, Dok. Sempat pingsan sebentar tadi," jelas petugas.
Queen memeriksa telapak tangan yang melepuh hitam, lalu meraba nadi di leher pasien.
"Nadi lemah dan tekanan darah turun. Luka bakarnya harus dibersihkan steril, dan dia wajib cek jantung di RS. Sengatan listrik sering ada efek tertunda," ujarnya tegas sambil menyiapkan tandu.
"Queen?"
Sapaan itu membuat Queen menoleh. Seorang guru muda berdiri di sana, yang sedari tadi keberadaannya tidak disadarinya.
"Arnold?" tanya Queen lirih. "Kamu di sini?"
Ia mengenali pemuda itu—anak beasiswa yang dulu sering menemaninya belajar di perpustakaan. Beberapa tahun berlalu, rupanya Arnold tidak banyak berubah. Hanya terlihat lebih rapi, dan bingkai kacamatanya mungkin kini lebih tebal.
"Kayaknya kita benar-benar harus reuni deh. Kemarin Gladis habis mampir, tadi aku lihat Arka sama Cellin di kantin, eh sekarang kamu muncul di sini. Mau ikut nggak?"
Queen tertawa kecil dalam hati. Sama saja seperti dulu—masih bawel dan antusias.
"Enggak dulu, Nold. Aku kan bukan lulusan SMA ini, emangnya boleh?" jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Boleh lah! Eh, pas banget—Arka, sini masuk! Ada Queen nih!" seru Arnold saat melihat sosok di ambang pintu.
Langkah Arka terhenti seketika mendengar nama itu. Begitu pula Queen—tanpa sadar ia berbalik badan, menatap lurus ke arah pintu, pada sosok yang selama ini berusaha ia lupakan.
Mata yang dulu saling menatap penuh kasih dan kehangatan, kini beradu dengan tatapan yang sulit diartikan.
[KILAS BALIK – MASA SEKOLAH]
Sinar matahari pagi menyengat lapangan upacara. Acara yang hening itu baru berjalan sepuluh menit, tapi bagi Queen rasanya sudah seperti satu jam. Kepalanya mulai pening.
"Queen, kamu nggak apa-apa?" tanya Gladis dari barisan sebelah.
"Pusing banget, Dis..."
Belum sempat ia melanjutkan kalimat, pandangannya gelap. Tubuhnya melorot—namun sebelum menyentuh tanah, segera ditangkap oleh sepasang lengan kuat.
Arka.
Dari barisan paling belakang, ia sedari tadi memperhatikan wajah pucat Queen.
"Eh, Queen!" Gladis menutup mulutnya dengan tangan, kaget karena mereka kini menjadi pusat perhatian.
Arka tidak peduli. Ia segera menggendong tubuh Queen yang lemas menuju ruang kesehatan.
"Sepertinya dia demam dan mungkin belum sarapan. Kalau sadar nanti suruh makan dulu, lalu minum obat yang sudah saya taruh di meja," pamit guru piket sebelum meninggalkan mereka berdua.
Tak lama setelah upacara selesai, Gladis, Wina, Fima, Cellin, dan Vivi bergegas menyusul ke UKS. Mereka menemukan Queen yang baru saja terbangun.
"Kamu nggak apa-apa? Aku bawakan kue cokelat buat kamu," ujar Vivi.
Belum sempat mereka mengobrol panjang, Arka kembali masuk. Ia duduk di tepi ranjang sebelah, lalu dengan tenang membuka kantong plastik berisi air putih dan bubur ayam. Tanpa banyak bicara, ia membuka tutupnya dan mulai menyuapi Queen.
Satu ruangan hening seketika.
[KEMBALI KE MASA KINI]
"Assa."
Panggilan lembut itu menyadarkan Queen dari lamunannya.