Langkah kaki Queen perlahan menjauh, digandeng erat oleh Axel. Arka masih terpaku diam, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya tanpa jawab: Kenapa bukan aku?
Tiba-tiba bayangan itu memudar, berganti dengan suasana kelas yang riuh, dan suara ketukan keras di pintu kelas bertahun-tahun silam...
[Kilas balik SMA; MOS]
Terdengar suara langkah kaki yang berpacu cepat, diselingi napas memburu yang menggema di sepanjang lorong.
Pintu kelas terbuka agak kasar. Napas Queen memburu, keringat menetes di pelipisnya. Ia terlambat karena tersesat mencari ruangan. Semua mata seketika tertuju padanya.
"Maaf Pak, saya terlambat..." ucapnya pelan sambil menunduk malu. Pandangan sosok itu mengedar ke sekeliling ruangan itu, rupanya bukan hanya guru pembimbing yang ada di ruangan ini tetapi juga kakak kelas nya.
Guru pembimbing hanya mengangguk pelan, lalu menunjuk satu-satunya meja yang masih kosong di pojok belakang.
"Silakan duduk di sana."
Queen berjalan cepat menunduk, berharap tak ada yang memperhatikannya. Dan sisa kursi kosong itu... tepat berada di sebelah pemuda yang duduk diam menatap lurus ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Ia menaruh tas pelan-pelan, mencoba menyapa dengan senyum malu-malu.
"Hai... aku Queen Assa."
Pemuda itu tak menoleh sedikit pun. Hanya terdengar suara deheman singkat dari tenggorokannya, lalu kembali diam seolah tak mendengar apa-apa.
Queen mengerutkan kening, menahan kesal sambil memutar badan sedikit membelakanginya, lalu berbisik pelan tapi cukup terdengar jelas di telinga Arka:
"Punya mulut nggak sih orang ini? Kayak patung betul..."
Padahal mukanya sudah merah padam menahan malu, tapi mulutnya nggak mau kalah.
Arka yang masih diam sempurna, tanpa diketahui Queen, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang tak terlihat orang lain. Baginya gadis yang mulutnya pedes tapi mukanya sudah gemetar malu itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Setelah itu satu ruangan hening melanjutkan materi pengenalan sekolah ini. Tak lama bunyi bell sekolah terdengar.
Kringgg....
"Baik pengenalan nya sampai sini dulu, silahkan istirahat kantin nya ada di bawah yah sebrang nya parkiran kalau kalian bawa motor pasti tau atau biar di antar para senior nih anak osis" jelas pak pembimbing yang di segera di balas baik oleh para anggota osis di ruangan ini.
Murid lain berhamburan keluar kelas tersebut begitupun dengan Queen tetapi sebelum sempat dia berdiri seseorang menyapa nya. "Hallo aku Gladis Permata nama kamu siapa?" Queen membalas sapaan itu dengan senyum khas milik nya yang terlihat sangat manis.
"Aku Queen Assa" Tiba tiba saja pemuda yang tadi duduk di samping Queen berdiri,meletakkan tangan nya ke dalan kedua saku celana nya lalu berkata. "Kantin" suara serak basah terdengar tegas itu mengalir lembut di pendengaran mereka tetapi.
"Dia ngomong sama siapa?" Tanya Queen pada Gladis yang berada di depannya dengan berbisik pelan meski tetap saja bisa di dengar pemuda di samping nya itu.
"Ah dia ngajak kita, emang gitu orang nya irit kalau ngomong" jelas Gladis dengan mengandeng tangan Queen mengarah ke pintu kelas itu sebelum kaki mereka benar benar keluar kelas itu seorang siswa lain menghentikan mereka.
"Kita gabung yah" Ijin nya sopan dengan senyum ramah, "ohh maaf nama aku Zull, ini Arnold temen smp ku, kalau nih cewek aku juga kenal Nama nya Vivi" Terang nya yang seolah melihat tatapan penuh tanya dari Queen, Gladis, Arka. Mereka setuju dan langsung bergegas ke kantin sekolah.
Melihat lautan manusia yang antri di stan yang ada membuat Queen malas.
"Kamu mau beli apa Queen kayak e harus antri lama nih" Ujar Gladis melihat sekitar.
"Hmm aku beli makaroni aja deh aku tadi udah makan juga ehh emang ada yah yang jualan makaroni yang pedas tuh" pandangan nya mengedar mencari stan camilan atau chiki.
"Kita cari tempat dulu aja ga sih takut penuh" ujar Vivi dengan kesetiaan nya menundukkan kepalanya.
"Bener tuh ayo" Gladis segera menyambar tangan Queen dan Vivi. Setelah tidak lama mereka duduk Arkan dengan tiba tiba menyodorkan sekantong plastik. Di dalam nya terdapat beberapa macam roti chiki serta makaroni yang dihendak di cari oleh Queen tadi, ohh jangan lupakan ada 4 botol s**u 2 rasa coklat 2 lagi stroberi.
"Ohhh makasih?" Queen bingung mau manggil apa dia kan belum tau nama pemuda ini. "Nama nya Arka, Queen" 'Gladis memang paling peka' batin Queen.
Gladis berpamitan hendak pesan bakso kata nya di ikuti Zull dan Arnold, Queen memakan jajan nya dengan lahap lalu tidak sengaja melihat ke arah Vivi dan Arkan yang masih setia duduk di sana.
Queen mengambil dua roti dan dua s**u stroberi nya satu roti dan satu s**u diberikan kepada vivi dan lain nya kepada. "Kamu yang beli kok kamu ga ikut makan, nanti aku ganti yah" lalu beralih kepada Vivi. "Nih kita makan bareng" Vivi tersenyum dan berterima kasih sementara Arka mengamati, dua botol s**u coklat di depan Queen.
Tak lama setelah itu Gladis dan yang lain kembali, mereka segera memakan pesanan mereka dengan di iringi canda tawa ringan dari mereka.
Itu awal dari sebuah persahabatan sebelum ada rasa iri, sebelum ada rasa sayang yang berlebih dan sebelum ada nya keberadaan seorang Cellin.
[KEMBALI KE MASA KINI]
Didalam sebuah mobil suasana yang biasa nya hangat kini mendadak aneh, Queen merasakan sesuatu yang aneh dari Axel.
"Kakak kenapa?" Tanya Queen dengan menggegam halus tangan Axel.
"Gelang kalian kok sama yah?"