"Semoga gak bakal ada hujan deres bareng angin kenceng entar malem biar bibit-bibit semangkaku dapat beradaptasi dengan baik hehehe..."
Ucap Tara dalam hati sambil menatap penuh harap agar apa yang ia tanam dapat ia petik dengan baik. Ladang kecil yang sering ia garap dengan neneknya terus ia pandangi sambil menyela keringat sesekali mengibasi wajahnya. Pemandangan desa dengan matahari yang bersinar terang dengan sawah dan ladang juga kebun warga yang subur dan berwarna hijau dengan masih banyak pohon besar dan rindang di sekeliling itulah desa tempat Tara tinggal.
***
"Semoga anak kita lahir selamat ya sayang apapun yang terjadi nanti aku akan berusaha demi anak kita..."
Harapan seorang suami yang sangat mencintai istri mereka. Sang suami mengelus perut sang istri yang sedang tidur. Perut buncitnya menyembul menandakan buah cinta mereka yang tak akan lama lagi akan tiba di dunia.
***
Satu langit biru luas yang cerah menjadi hamparan pemandangan mereka ketika mereka menengadah ke atas. Akankah langit dengan warna biru cerah akan selalu mendampingi mereka dalam kebahagiaan?. Ataukah langit kelabu yang akan mengirigi keraguan?. Suatu saat langit malam dengan hanya satu bintang sebagai perantara kehidupan mereka dapat merubahnya dengan harapan yang diucapakan setulus jiwa.
End of prolog.
Much love from Arfrara