Savira bangun dengan kepala berat dan mata yang terasa berpasir.
Sofa di sudut kamar sudah kosong. Selimut tipis terlipat rapi di salah satu ujungnya, bantal disusun tegak, seolah Arkan ingin memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Dari kamar mandi tidak terdengar suara air. Pria itu sudah keluar lebih dulu.
Ia mandi dengan cepat, memakai kemeja biru pucat dan celana kain hitam, lalu mengikat rambut tinggi-tinggi. Di cermin, bayangan matanya masih terlihat. Ia memoles sedikit bedak di bawah mata dan berharap tidak ada yang cukup memperhatikan.
Harapan itu tidak bertahan lama.
Ketika ia masuk ke ruang makan, meja sudah lengkap. Pak Gumilar duduk di ujung dengan koran terlipat di samping piring. Ibu Ratnawati di sisi kanannya, kebaya krem rapi, cangkir teh di tangan. Arkan duduk di seberang, sudah berjas, sedang membaca sesuatu di ponsel. Sania menuangkan kopi ke cangkir Pak Gumilar, sementara dua pembantu meletakkan piring nasi goreng dan telur di tengah meja.
“Pagi,” sapa Savira.
“Pagi,” jawab Ibu Ratnawati. Matanya bergerak dari wajah Savira ke wajah Arkan, lalu kembali. “Duduklah.”
Savira mengambil kursi yang paling jauh dari Arkan. Ia sadar pilihan itu bisa dibaca dengan berbagai cara, tetapi ia tidak punya tenaga untuk memikirkannya.
Sarapan berjalan dengan pembicaraan biasa. Pak Gumilar menanyakan laporan struktur yang ditemukan di gudang. Arkan menjawab singkat bahwa dokumen itu sudah diserahkan ke tim teknik dan pemeriksaan ulang gudang dijadwalkan minggu ini. Pak Gumilar mengangguk, lalu membuka korannya. Savira mengunyah perlahan dan berharap pagi ini akan berakhir di situ.
Ibu Ratnawati meletakkan cangkirnya di atas tatakan. Bunyinya pelan, tetapi cukup untuk membuat Sania berhenti menuang.
“Savira,” katanya. “Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”
Savira menurunkan sendok.
“Beberapa pembantu mulai bergunjing.” Ibu Ratnawati tidak meninggikan suara. Nadanya tenang, nyaris lembut, dan justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih tajam. “Mereka bilang kamu dan Arkan sering terlihat berdua. Berangkat bersama, pulang bersama, makan di kamar bersama.”
Ruang makan mendadak sunyi. Pak Gumilar tidak menurunkan korannya, tetapi halaman itu berhenti dibalik. Arkan meletakkan ponsel di samping piring.
Savira merasakan pipinya menghangat. Ia memaksa suaranya tetap datar. “Kami bekerja bersama, Bu. Saya melapor langsung kepada Arkan untuk beberapa proyek. Kami tinggal di sayap yang sama karena hanya kamar itu yang aman. Di luar itu tidak ada apa-apa.”
“Saya tidak mengatakan ada apa-apa.”
“Tapi Ibu menyampaikannya di meja makan.”
Ibu Ratnawati menatapnya tanpa berkedip. “Karena saya ingin kamu tahu bagaimana orang melihatnya. Bukan apa yang sebenarnya terjadi. Di keluarga ini, keduanya sama pentingnya.”
Savira mengepalkan jari di bawah meja. Ia tahu ia bisa membalas. Ia bisa bertanya siapa yang memutuskan ia harus tinggal di kamar itu sejak awal. Siapa yang menyuruhnya pulang dengan mobil yang sama. Siapa yang menolak ketika ia menawarkan diri pindah ke hotel. Kalimat-kalimat itu sudah tersusun rapi di kepalanya.
Di sudut matanya, ia melihat Sania. Gadis itu berdiri di samping meja dengan teko di tangan. Wajahnya menunduk, tetapi matanya terangkat sedikit ke arah Savira, lalu bergeser ke bawah, sekali, sangat pelan. Kepalanya bergerak nyaris tak terlihat, seperti gelengan kecil.
Jangan.
Savira menarik napas. Ia mengendurkan jarinya satu per satu.
“Saya mengerti, Bu,” katanya akhirnya. “Saya tidak ingin keluarga ini jadi bahan pembicaraan.”
“Bagus.” Ibu Ratnawati mengangkat cangkirnya lagi, lalu berhenti sebelum menyentuhkannya ke bibir. “Ipar adalah ipar, Savira. Batas itu ada untuk alasan yang baik. Saya sudah pernah mengatakannya, dan saya akan terus mengatakannya selama kalian tinggal di bawah atap ini.”
Tidak ada yang menjawab.
Arkan tidak bicara sepanjang teguran itu. Ia tidak membela, tidak menyangkal, tidak menambahkan apa pun. Savira tidak menoleh untuk melihat wajahnya. Ia tidak ingin membutuhkan pembelaan dari pria itu, dan lebih tidak ingin lagi Ibu Ratnawati melihatnya mencari-cari.
Pak Gumilar akhirnya membalik halaman korannya. “Rapat direksi jam sepuluh,” katanya kepada Arkan, seolah tidak ada yang baru saja terjadi. “Ardana ingin membahas daftar aset non-inti lagi.”
“Saya sudah melihat agendanya,” jawab Arkan.
Pembicaraan berpindah. Savira menghabiskan sisa nasi gorengnya tanpa merasakan apa pun.
Ketika ia berdiri dan mengambil tas kerja dari sandaran kursi, Sania menyusul ke ambang pintu dengan alasan membawakan termos air.
“Maaf, Mbak Savira,” bisiknya. “Saya tadi lancang.”
“Kamu tidak lancang.” Savira menerima termos itu. “Terima kasih.”
“Bu Ratnawati tidak bermaksud jahat. Beliau hanya… takut.”
“Takut apa?”
Sania membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Saya tidak tahu cara menjelaskannya, Mbak. Rumah ini sudah pernah ramai oleh omongan orang. Dulu sekali. Beliau tidak mau itu terulang.”
Savira ingin bertanya lebih jauh, tetapi Sania sudah menunduk dan kembali ke dapur.
Di halaman depan, mobil hitam Arkan sudah menyala di dekat garasi samping. Pria itu berdiri di samping pintu pengemudi, kunci di tangan. Ketika melihat Savira keluar, ia tidak bergerak, hanya menunggu.
Di sisi lain halaman, sopir keluarga sedang mengelap kaca mobil putih yang biasa dipakai Ibu Ratnawati ke pasar.
Savira berhenti di anak tangga beranda. Ia melihat mobil hitam itu, lalu mobil putih itu.
“Pak,” panggilnya kepada sopir. “Bisa antar saya ke kantor pagi ini?”
Sopir itu tampak terkejut, lalu buru-buru mengangguk. “Bisa, Mbak. Sebentar saya panaskan.”
Savira tidak menoleh ke arah garasi. Namun ia mendengar langkah kaki di kerikil, dan ketika ia akhirnya mengangkat wajah, Arkan sudah berdiri beberapa langkah darinya.
“Kamu tidak perlu melakukan itu,” katanya pelan.
“Saya perlu,” jawab Savira. “Kamu sendiri yang bilang, di keluarga ini jangan beri kesempatan orang luar untuk bicara.”
Arkan menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Savira baca, sesuatu yang lebih berat dari tersinggung.
“Baik,” katanya akhirnya. “Rapat divisi jam satu. Jangan terlambat.”
Ia berbalik dan berjalan ke mobilnya. Pintu ditutup. Mesin menderu. Mobil hitam itu keluar dari gerbang lebih dulu, meninggalkan jejak ban di kerikil yang basah.
Savira masuk ke mobil putih dan duduk di kursi belakang. Ia membuka berkas aset non-inti di pangkuannya, membaca judul halaman pertama, dan menyadari tangannya sedikit gemetar.
Ia tidak tahu apakah karena marah atau karena hal lain.
Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini, ia memilih jaraknya sendiri. Dan pilihan itu terasa jauh lebih sepi daripada yang ia bayangkan.