Pagi itu rumah Wiratama lebih berisik dari biasanya.
Suara palu, bor, dan teriakan mandor bercampur menjadi satu di lantai dua. Debu beterbangan hingga ke koridor belakang, membuat udara terasa kering di tenggorokan. Savira sudah bangun sejak pukul enam, menyelesaikan beberapa laporan di meja kecil kamar, ketika ketukan di pintu terdengar.
Arkan masuk tanpa menunggu jawaban, masih memakai kemeja putih yang belum sepenuhnya dirapikan. Wajahnya tegang.
“Dokumen struktur bangunan yang kemarin hilang,” katanya langsung. “Saya sudah mencari di ruang kerja bawah. Tidak ada. Sania bilang terakhir kali ada di tumpukan arsip lama dekat gudang belakang.”
Savira menutup laptop. “Arsip yang belum dipindahkan karena renovasi?”
“Ya. Saya perlu itu sebelum rapat jam sembilan. Kalau tidak, Pak Gumilar akan—”
“Saya bantu,” potong Savira. Ia berdiri dan mengambil jaket tipis. “Lebih cepat kalau dua orang.”
Arkan menatapnya sejenak, seolah ingin menolak, lalu hanya mengangguk. “Baik. Tapi hati-hati. Area itu berantakan.”
Mereka keluar bersama menyusuri koridor yang penuh material bangunan. Bau semen basah dan kayu potong memenuhi hidung. Di dekat gudang belakang, tumpukan kardus dan map lama berserakan di atas terpal. Cahaya matahari pagi masuk melalui atap yang sebagian terbuka, menciptakan bercak-bercak terang di lantai berdebu.
Savira berjongkok lebih dulu, mulai memeriksa map-map yang bertuliskan tahun lama. Arkan berdiri di sampingnya, memilah tumpukan yang lebih tinggi. Jarak di antara mereka hanya sejengkal. Setiap kali salah satu bergerak, lengan atau bahu mereka hampir bersentuhan.
“Ini,” kata Savira tiba-tiba, mengangkat sebuah map tebal berwarna coklat. “Laporan pemeriksaan awal struktur 2019. Ada beberapa lampiran yang kelihatan baru.”
Arkan berjongkok di sampingnya untuk melihat. Kepala mereka terlalu dekat. Savira bisa mencium aroma parfumnya yang samar bercampur dengan debu. Jari Arkan menyentuh tepi map yang sama, dan untuk sedetik kulit mereka bersentuhan.
Keduanya menarik tangan hampir bersamaan.
“Terima kasih,” kata Arkan pelan. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Saya sudah mencari sejak tadi pagi.”
Savira menegakkan tubuh, mengusap debu di celananya. “Tidak masalah. Lebih baik daripada kamu terlambat rapat.”
Arkan berdiri juga. Ia menatap map di tangannya, lalu menatap Savira. Ada sesuatu yang berbeda di matanya bukan sekadar ucapan terima kasih formal. Lebih seperti kesadaran bahwa ia baru saja menerima bantuan yang seharusnya tidak perlu ia terima dari iparnya.
“Kamu tidak harus membantu urusan saya,” katanya.
“Saya tahu,” jawab Savira. “Tapi rumah ini berantakan. Kalau kita saling menunggu, semuanya akan lebih lambat.”
Arkan terdiam. Ia seolah ingin membalas sesuatu, namun akhirnya hanya mengangguk. “Saya ke kantor dulu. Kamu ikut?”
“Nanti. Saya masih ingin membereskan beberapa arsip yang tercecer di sini supaya tidak basah kalau hujan.”
Arkan ragu sejenak, lalu mengulurkan map cadangan yang ia bawa. “Pakai ini untuk menutupi tumpukan yang penting. Dan jangan terlalu lama. Debu di sini tidak baik.”
Savira menerima map itu. Jari mereka kembali bersentuhan sebentar. Kali ini tidak ada yang langsung menarik diri. Hanya sepersekian detik lebih lama dari yang diperlukan.
“Baik,” kata Savira pelan.
Arkan berbalik dan pergi. Langkahnya cepat, seolah ingin menjauh sebelum sesuatu yang lain terjadi.
Savira menghela napas dan kembali bekerja. Ia memindahkan beberapa kardus ke tempat yang lebih kering, menutupinya dengan terpal kecil. Keringat mulai menempel di pelipis meski pagi masih sejuk. Ia terlalu fokus pada tumpukan map di sudut hingga tidak mendengar langkah kaki di belakangnya.
“Hati-hati.”
Suara Arkan terdengar tiba-tiba dari belakang. Savira menoleh cepat, hampir kehilangan keseimbangan karena berjongkok di atas permukaan yang tidak rata. Sebuah papan kayu yang tersandar di dinding goyah karena getaran bor di lantai atas. Papan itu mulai jatuh ke arahnya.
Dalam sekejap Arkan sudah berada di sampingnya. Lengannya melingkar di pinggang Savira, menariknya mundur dengan gerakan cepat dan kuat. Papan kayu jatuh tepat di tempat ia berjongkok barusan, menimbulkan bunyi benturan keras dan debu yang beterbangan.
Savira terhenti di d**a Arkan. Napasnya tersengal. Tangan pria itu masih berada di pinggangnya, hangat bahkan melalui kain kemeja. Jantungnya berdetak kencang bukan hanya karena hampir tertimpa, melainkan karena jarak yang tiba-tiba hilang.
Arkan tidak langsung melepaskan. Matanya menatap ke bawah, memastikan papan itu sudah stabil, lalu baru menunduk menatap wajah Savira. Wajah mereka terlalu dekat. Napas saling bercampur.
“Kamu tidak apa-apa?” suaranya serak.
Savira mengangguk pelan. “Ya… saya tidak apa-apa.”
Baru setelah itu Arkan melepaskan tangannya. Gerakannya terkontrol, namun jari-jarinya sempat mengerat seolah enggan. Ia melangkah mundur satu langkah, menciptakan jarak yang masih terasa tidak cukup.
“Saya bilang hati-hati,” katanya, nada suaranya kembali datar namun ada sisa ketegangan di baliknya. “Area ini tidak aman.”
“Saya kira kamu sudah ke kantor.”
“Saya lupa mengambil satu berkas di mobil. Ketika kembali, saya lihat kamu masih di sini.” Arkan menatap papan kayu yang sekarang tergeletak, lalu kembali ke Savira. “Jangan kerja sendirian di tempat seperti ini lagi.”
Savira menegakkan bahu, mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya. “Saya bisa menjaga diri sendiri.”
“Saya tahu,” jawab Arkan. “Tapi barusan kamu hampir tidak bisa.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka. Debu masih beterbangan pelan di udara. Di kejauhan, suara bor kembali terdengar, seolah mengingatkan bahwa dunia di luar masih berjalan seperti biasa, sementara di sudut gudang ini sesuatu yang lain baru saja terjadi.
Savira mengalihkan pandangan ke tumpukan arsip. “Terima kasih.”
Arkan mengangguk sekali. “Pulang ke kamar. Saya akan minta pekerja membersihkan area ini.”
Ia tidak menunggu jawaban. Hanya berbalik dan berjalan keluar gudang dengan langkah cepat. Savira residual berdiri di tempat, masih merasakan bayangan tangan di pinggangnya. Hangat itu belum sepenuhnya hilang.
Ia mengangkat tangan, menyentuh pinggangnya sendiri tanpa sadar, lalu segera menurunkannya.
Perhatian yang seharusnya tidak perlu.
Perlindungan yang seharusnya tidak diberikan.
Dan reaksi tubuhnya yang seharusnya tidak muncul.
Savira mengumpulkan sisa map yang penting dan kembali ke kamar belakang dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Di dalam kamar, ia duduk di tepi ranjang, menatap pintu yang tertutup. Jantungnya masih belum sepenuhnya tenang.
Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar. Pesan dari Arkan.
Area gudang sudah saya perintahkan untuk dibersihkan. Jangan ke sana lagi hari ini.
Savira menatap layar lama. Balasan yang ia ketik hanya singkat.
Baik. Terima kasih.
Namun jari-jarinya ragu sebelum menekan kirim. Ada keinginan untuk menulis sesuatu yang lebih panjang, sesuatu yang mengakui bahwa perhatian barusan terasa berbeda. Ia menghapus kata-kata itu sebelum sempat terbentuk.
Sepanjang sisa pagi, fokusnya retak. Setiap kali ia mengingat lengan yang menariknya, d**a yang keras di belakangnya, dan mata yang menatap terlalu dekat, sesuatu di dalam dirinya berdesir. Bukan rasa takut. Melainkan kesadaran yang semakin tajam bahwa jarak yang mereka jaga dengan susah payah mulai diisi oleh perhatian-perhatian kecil yang tidak seharusnya ada.
Siang harinya, ketika Arkan kembali ke rumah untuk mengambil dokumen tambahan, mereka bertemu di koridor. Keduanya berhenti sejenak. Saling menatap. Lalu saling mengalah untuk memberi jalan.
Tidak ada yang berbicara tentang kejadian di gudang.
Namun ketika Arkan melewatinya, Savira bisa merasakan bahwa pria itu juga belum sepenuhnya melupakan. Bahu mereka hampir bersentuhan lagi. Dan kali ini, tidak ada yang segera menarik diri.
Di malam hari, ketika mereka kembali berada di kamar yang sama, keheningan terasa lebih berat. Arkan duduk di meja, pura-pura fokus pada laptop. Savira berbaring di ranjang, pura-pura membaca laporan.
Namun di antara mereka, bayangan tangan di pinggang dan napas yang saling bercampur masih menggantung.
Perhatian yang tak seharusnya.
Dan keduanya tahu, sekali diberikan, perhatian seperti itu sulit ditarik kembali tanpa meninggalkan jejak.