Hari-hari terus bergulir, dan kehadiran Leo di SMA Merah Putih kini bukan lagi sekadar menjadi bahan pembicaraan atau ketakutan. Nama dan sosoknya perlahan berubah makna. Jika dulu Leo identik dengan kata 'seram', 'preman', atau 'anak nakal', kini kata-kata itu perlahan berganti menjadi 'kuat', 'berani', 'berprinsip', dan 'misterius'. Meski begitu, satu hal yang belum berubah: Leo masih berjalan sendirian, duduk sendirian, dan makan sendirian. Tidak ada satu pun siswa yang berani atau cukup dekat untuk menyebut dirinya teman Leo. Semua orang segan, ada yang takut, ada yang merasa canggung, dan ada juga yang merasa tidak pantas mendekati sosok yang terlihat begitu sempurna dan jauh di atas rata-rata itu.
Namun, bagi Leo, kesendirian itu bukan masalah besar. Ia sudah terbiasa hidup mandiri, terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Di kampung halamannya dulu pun ia lebih suka diam dan mengamati daripada banyak bicara. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebagai manusia biasa, Leo juga merasakan ada ruang kosong yang sedikit terasa hampa. Ia ingin memiliki teman, seseorang yang bisa diajak mengobrol, berbagi tawa, atau sekadar duduk diam bersama tanpa rasa segan atau penilaian.
Dan hari itu, di tengah suasana kelas yang riuh saat jam istirahat, hal yang ditunggu-tunggu itu akhirnya terjadi.
Siang itu, matahari bersinar sangat terang, menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kelas XI-B. Sebagian besar siswa sudah berhamburan keluar menuju kantin atau lapangan. Di dalam kelas hanya tersisa beberapa orang. Di sudut belakang ruangan, di kursi yang selalu menjadi tempatnya, Leo duduk bersandar santai, satu kakinya tertekuk naik menyentuh kursi, tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang sedang ia baca dengan tenang dan fokus. Rambutnya yang sedikit panjang sedikit tergerai menutupi dahi, dan tindik di telinga kirinya berkilauan samar tertimpa cahaya matahari.
Dari bangku di depan sana, Lia sesekali menoleh ke belakang, menatap sosok itu diam-diam. Semenjak malam itu, saat ia melihat Leo bekerja keras di kedai minuman meski tinggal di rumah mewah, perasaan Lia berubah total. Rasa takut itu hilang sepenuhnya, digantikan rasa hormat yang tinggi dan rasa suka yang mulai tumbuh subur. Lia kini mengagumi segala hal tentang Leo: ketenangannya, kekuatannya, kerendahan hatinya, dan prinsip hidupnya yang begitu kokoh. Lia ingin sekali mendekat, ingin menyapa, ingin mengajak bicara, tapi rasa malu dan canggung masih sering menahannya.
Namun, saat Lia sedang berdebat dengan dirinya sendiri apakah harus berani menyapa atau tidak, ada seseorang yang lebih dulu melangkah maju.
Seorang pemuda bertubuh agak kurus, berkacamata, dengan rambut yang selalu rapi tersisir ke belakang berjalan mendekati meja Leo dengan langkah hati-hati namun mantap. Itu adalah Dimas. Anak yang dikenal paling pendiam, paling pintar, tapi juga paling sering menjadi sasaran ejekan dan gangguan anak-anak nakal di kelas. Dimas adalah tipe siswa yang lemah secara fisik, lembut, dan tidak berani melawan jika ditindas. Karena itulah, selama ini ia selalu menyendiri, selalu berusaha tidak terlihat, dan selalu menunduk saat berjalan.
Semua orang di dalam kelas yang masih ada di sana menahan napas, penasaran apa yang akan dilakukan Dimas mendekati 'si misterius' Leo. Lia pun ikut menatap penuh perhatian.
Dimas berhenti tepat di samping meja Leo. Ia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang karena gugup luar biasa. Ia tahu betul siapa Leo, ia tahu kekuatan Leo, dan ia juga tahu betapa baik dan jujurnya pemuda itu. Ia sudah lama ingin mendekat, tapi baru hari ini ia mengumpulkan keberanian sepenuhnya.
"Ehm... permisi, Leo..." panggil Dimas pelan, suaranya sedikit bergetar namun cukup jelas terdengar.
Leo perlahan menurunkan bukunya. Ia mengangkat wajahnya, menatap pemuda berkacamata itu dengan tatapan dingin dan tajam khasnya. Namun, saat ia melihat raut wajah Dimas yang penuh kecemasan dan ketulusan itu, kilatan tajam di matanya perlahan melembut.
"Ya?" jawab Leo singkat, namun nadanya tidak kasar sama sekali.
"Apa... apa boleh aku duduk di sini? Di sebelahmu?" tanya Dimas berhati-hati, menunjuk kursi kosong di sisi kanan meja Leo. "Kalau kamu keberatan, nggak apa-apa kok, aku pindah saja."
Di luar dugaan banyak orang, sudut bibir Leo perlahan terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia menggeser sedikit tubuhnya ke kiri, memberi ruang lebih luas di sebelahnya.
"Boleh saja. Meja ini bukan milikku sendirian," jawab Leo santai, lalu kembali melanjutkan bacaannya seolah tidak ada hal istimewa yang terjadi.
Wajah Dimas langsung berubah cerah, sangat lega sekaligus bahagia luar biasa. Ia segera menarik kursi itu dan duduk di sebelah Leo. Di sanalah, awal persahabatan itu dimulai. Dimas, anak yang paling lemah dan sering ditindas, kini duduk berdampingan dengan anak yang paling kuat dan paling disegani di sekolah.
Sejak hari itu, ke mana pun Leo pergi, Dimas selalu ada di dekatnya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin, berjalan pulang bersama sampai gerbang sekolah, dan duduk berdampingan saat jam istirahat. Awalnya banyak yang heran, banyak yang menertawakan, dan banyak yang bertanya-tanya: kenapa Leo mau berteman dengan anak yang lemah, pendiam, dan polos seperti Dimas? Tapi lama-kelamaan, orang-orang mulai mengerti alasannya.
Suatu hari, kejadian itu kembali terulang. Saat jam istirahat di kantin, anak-anak berandalan dari kelas sebelah, teman-teman Bimo yang dulu pernah digagalkan Leo, berpapasan dengan Dimas yang sedang antre membeli minuman. Tanpa berpikir panjang dan tidak tahu siapa yang ada di belakang Dimas, salah satu dari mereka sengaja menyenggol bahu Dimas dengan keras hingga botol minuman yang baru dibelinya jatuh dan pecah berantakan di lantai.
"Ups... maaf ya, nggak sengaja. Hati-hati dong jalan, mata dipakai kalau perlu," ejek pemuda itu sambil tertawa keras, diikuti teman-temannya.
Dimas hanya bisa menunduk pasrah, berusaha menahan air mata dan rasa marah yang tidak bisa ia keluarkan. Ia tahu kalau ia berani melawan, ia hanya akan mendapat kekerasan balik yang lebih parah. Namun, sebelum pemuda berandalan itu sempat melangkah pergi, sebuah tangan besar dan kuat tiba-tiba saja menepuk bahunya dengan cukup keras dan menahan langkahnya.
"Maafnya kok sambil tertawa?"
Suara itu rendah, dingin, dan mengandung tekanan yang membuat seluruh isi kantin yang mendengarnya seketika hening. Pemuda itu menoleh kaget, dan wajahnya langsung pucat pasi saat melihat siapa pemilik tangan besar yang menahannya itu. Di sana, berdiri Leo dengan wajah datar namun matanya menatap tajam, menusuk hingga ke tulang sumsum. Di sampingnya, Dimas berdiri diam, merasa sangat aman dan terlindungi.
"Leo... eh, eh ada kamu..." gumam anak berandalan itu gugup, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
Leo menatapnya lekat-lekat, tidak melepaskan cengkeramannya di bahu pemuda itu. "Aku lihat tadi. Kamu sengaja. Dan kamu sering begitu sama Dimas, sama anak-anak lain yang kamu anggap lemah, kan?"
"Nggak... nggak kok, aku cuma bercanda doang," bantah pemuda itu terbata-bata.
"Bercanda?" Leo mengangkat sedikit nada bicaranya, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Bercanda itu kalau kedua belah pihak senang. Kalau yang satu ketawa dan yang satu sakit hati, namanya itu penindasan. Ingat kata-kata aku dulu: kekuatan itu buat melindungi, bukan buat menginjak-injak orang lain. Dimas temanku. Dan siapa pun yang menyakiti atau menyusahkan temanku, sama saja menyusahkan aku. Kamu mengerti?"
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan sangat tenang namun sangat mengancam, membuat bulu kuduk si penindas dan semua orang yang mendengarnya merinding ketakutan. Pemuda itu mengangguk cepat, tidak berani membantah sedikit pun. Ia segera meminta maaf berkali-kali kepada Dimas, membersihkan pecahan botol itu sendiri, dan membelikan minuman baru sebagai ganti rugi. Setelah itu, mereka pun pergi tergesa-gesa, dan sejak hari itu, tidak ada satu pun siswa yang berani lagi mengganggu Dimas atau siswa lemah lainnya di sekolah.
Kejadian itu menyebar sangat cepat ke seluruh penjuru sekolah, bahkan sampai ke telinga guru-guru sekalipun. Dan kali ini, pandangan orang berubah drastis ke arah yang jauh lebih baik dan mendalam.
Ternyata Leo berteman dengan Dimas bukan karena ingin populer, bukan karena ingin dimanfaatkan, tapi karena Leo adalah sosok yang setia kawan, yang berani membela yang benar, dan yang tidak memandang status atau fisik dalam memilih teman. Bagi Leo, teman adalah teman, dan ia akan melindunginya mati-matian siapa pun orangnya.
"Gila... Leo itu luar biasa banget ya," bisik seorang siswi di meja sebelah Lia. "Dia itu kuat, keren, kaya, tapi mau berteman sama siapa saja, bahkan sama anak yang paling pendiam sekalipun. Dan dia berani bela temannya mati-matian. Itu baru laki-laki sejati sih."
"Iya ya... aku jadi malu sendiri deh. Aku kan sering banget ngejek Dimas atau menjauh. Padahal Leo aja mau berteman dan menghargai dia sebagai manusia biasa. Aku jadi pengen banget jadi teman Leo juga deh," sahut yang lain.
Di meja makan itu, Lia tersenyum lebar, hatinya terasa hangat dan penuh rasa bangga. Ia melihat jelas bagaimana Leo memperlakukan Dimas dengan sangat baik, sopan, dan setara. Lia mengerti sekarang kenapa Leo begitu istimewa. Di balik penampilan yang sering disalahartikan itu, Leo memiliki hati yang paling besar, paling tulus, dan paling mulia dibandingkan siapa pun yang ada di sekolah ini.
Setelah selesai makan, Lia memberanikan diri berjalan mendekati meja tempat Leo dan Dimas duduk. Jantungnya berdegup kencang, tapi rasa percaya dirinya kini jauh lebih besar dari sebelumnya. Dimas yang melihat Lia datang langsung tersenyum ramah dan menyapa, sementara Leo mengangkat wajahnya menatap gadis itu, matanya sedikit berbinar hangat.
"Ehm... Leo, Dimas..." sapa Lia pelan namun manis, wajahnya sedikit memerah merona. "Boleh aku duduk di sini sebentar? Aku... aku cuma mau bilang makasih sama kamu, Leo."
Leo mengerutkan keningnya sedikit bingung. "Makasih? Untuk apa?"
"Untuk semuanya," jawab Lia tulus, menatap mata Leo lekat-lekat. "Karena kamu sudah baik sama Dimas, karena kamu berani bela dia, dan karena kamu sudah mengajarkan kita semua satu hal penting: jangan menilai orang dari luarnya saja, dan teman itu untuk saling menjaga. Aku... aku bangga banget punya teman sekelas seperti kamu."
Leo terdiam sejenak, lalu perlahan senyum yang paling lebar dan paling tulus terukir indah di bibirnya. Senyum yang membuat seluruh wajah tegasnya berubah menjadi sangat menawan dan bersahabat. Di sampingnya, Dimas ikut tersenyum bahagia melihat keakraban itu.
"Makasih, Lia," jawab Leo pelan, suaranya lembut dan ramah. "Teman itu memang untuk saling menjaga, kan? Kalau ada apa-apa, atau siapa saja yang mengganggu kamu atau siapa pun, bilang saja sama aku. Aku ada di sini."
Kalimat sederhana itu terasa begitu kuat dan menenteramkan hati Lia. Hari itu, bukan hanya Dimas yang menjadi teman pertama Leo. Hari itu menjadi awal di mana dinding pembatas di antara Leo dan Lia runtuh sepenuhnya, di mana kepercayaan tumbuh kokoh, dan di mana persahabatan yang tulus mulai terjalin.
Leo tidak lagi sendirian. Ia punya Dimas, teman pertamanya yang setia. Dan perlahan tapi pasti, semakin banyak siswa lain yang berani mendekat, berkenalan, dan berteman dengan Leo, menyadari bahwa sosok yang dulu mereka takuti itu adalah sosok yang paling berharga, paling bisa diandalkan, dan paling tulus di antara mereka semua.
Di sudut ruangan kantin itu, di tengah keramaian dan tawa bahagia, Lia menatap Leo dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang penuh kekaguman dan rasa sayang yang mulai tumbuh indah. Ia tahu, perjalanan panjang kisah mereka baru saja memasuki babak yang jauh lebih indah, jauh lebih berwarna, dan jauh lebih berarti dari sebelumnya.