Hujan turun malas di luar jendela. Senja melangkah masuk ke sebuah kafe kecil di sudut kota—tempat yang tak direncanakan, tapi entah mengapa terasa menunggu. Tangannya masih dingin, matanya sibuk mencari kehangatan di balik embun kaca.
Ia memilih meja pojok. Sepi. Seperti hatinya. Lalu—senja melihat seorang pria ydengan wajah tampan,duduk di dekat jendela. Membaca buku. Membiarkan kopi mendingin. tak lama saat senja sedang asyik melihatnya mata mereka sejenak betemu.
Mereka tidak saling sapa.Hanya sepasang mata yang bertemu beberapa detik lebih lama dari wajar.Sekilas, namun cukup untuk membuat waktu terasa asing.
“mampus ketahuan menggatal nih” rutuk senja dalam hati.
Senja tentu tidak mengenalnya.Bukan nama. Bukan suara. Bukan apa-apa.Tapi detik itu, entah bagaimana, menyusup ke dalam kisahnya. Senja melangkah masuk memasan, lalu melangkah menuju meja kosong tepat disebelah pria itu sembari membawa secangkir kopi yang telah dipesannya.
bukan karena pria itu dia duduk disana namun karena meja itu juga berada di dekat jendela,dan senja ingin melihat hujan turun dari dalam cafe, menatap setiap titik embun yang jatuh di kaca dan mebuatnya—tenang.
tapi diam diam senja juga mengamati pria itu, ntahlah mengapa namun ingin saja.
Seperti sadar sedang diawasi pria itu mengangkat wajahnya dan menaikkan satu alisnya seolah bertanya “ada apa” “mengapa terus melihatku”
senja langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat sadar dirinya kepergok lagi.
saat sedang mengalihkan atensi senja mendengar suara jejak kaki yang akan meninggalkan cafe.
dan benar saja, ternyata pria itu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan wanita yang dianggapnya aneh karena dia terus menatapnya.
Senja melihat pria itu dari belakang, postur tubuhnya yang tegap dengan otot ototnya yang sesuai dengan porsi tubuhnya sejanak senja tertegun, pria itu benar benar tampan.
“Dia nggak melihatku. Sibuk baca buku, atau mungkin pura-pura sibuk? Aku juga nggak yakin. Tapi aku sadar, aku beberapa kali nyolong pandang. Dan jujur aja, itu sudah lama sekali terjadi.” ujar senja lalu menghirup udara perlahan.
Namun tanpa ia tahu, pria itu sedang menuliskan akhir cerita yang baru dimulai.
Karena kadang, seseorang datang bukan untuk dikenali di awal, melainkan untuk dikenang… sebelum akhirnya kembali sebagai takdir yang pernah menunggu.
tak lama kopi senja telah habis tanpa adanya sisa sedikitpun. lalu ia beranjak pergi meninggalkan cafe menuju rumahnya dan mengistirahatkan tubuh yang sedari tadi beraktifitas.
senja mengendarai mimi dengan hati hati, karna baru saja hujan turun dan akan membuat jalanan licin sekali. sembari bersenanndung kecil menyanyikan lagu favoritnya “sesuatu di jogja”.
berkisar 15 menit senja telah sampai di rumahnya. membuka pintu lalu beranjak bergegas menuju kamar.
ia sangat lelah dan ingin cepat cepat memeluk kasurnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
“capek banget padahal cuma sebentar, gini nih kalo udah tua semua kerjaan kerasa capek dan rumit” kesalnya.
saat terbaring di kasur ia tak sengaja memikirkan seorang yang tak sengaja ia tatap walau sebentar namun melekat dikepalanya saat berada di cafe tadi
“Kenapa sih tiba-tiba aku inget dia lagi?” ujar senja heran.
“Padahal cuma beberapa detik. Duduk di kafe, minum kopi, liat hujanyang turun di jendela, lalu... boom! ada dia. Duduk sendirian, pake sweater cokelat tua yang kayaknya baru keluar dari laundry. untung tampan, jadi ga buang energi” senja frustasi, mengapa ia tidak bisa melupakan wajah itu, ada apa dengan dia.
senja mengusap wajahnya pelan lalu berdiri mengganti seragam kuliah dengan baju rumahannya. tak lama perut senja berbunyi, tertanda perutnya ingin minta diisi walau hanya dengan satu buah roti.
senja melangkah keluar kamarnya menuju dapur, melihat apakah ada yang bisa ia isi ke dalam perutnya.
“astaga aku lupa, terakhir kali aku berbelanja bulan kemarin pasti udah pada habis semua” senja menghembuskan nafasnya kencang.
setibanya di dapur benar saja, tidak ada apapun untuk dimakan. Bahkan stok mie yang ia beli kemarin sudah habis tak tersisa hanya terlihat ruang kosong diatas lemari tempat biasa dia menyimpan mie itu.
mengabaikan rasa laparnya, senja memilih untuk membuat s**u saja. lalu membawa susunya ke kamar.
dikamar, senja duduk di meja belajarnya membuka laptop.bukan untuk menulis atau menonton. namun, senja ingin mendengarkan musik.
sembari mendengar deru deru pohon dibalik jendela dan itu sangat menenangkan. senja melamun namun berfikir cerita apa yang akan dibuatnya selanjutnya, semua genre sudah senja buat dengan ending yang unik pula.
lelah berfikir, senja sesekali meminum susuny ntah mendapat angin darimana senja secara tidak sadar memikirkan laki laki yang sempat ia lihat di cafe tadi siang.
“siapa ya tuh cowo, bukan siapa siapa tapi kenapa gue ngerasa tertarik banget sama dia?” ujar senja bermonolog.
“masa iya langsung suka?” tanya senja kepada dirinya sendiri.
“ah ga mungkin lah, tapi itu cowo emang ganteng bangett sihhh”
aneh sekali, selama ini senja hanya memikirkan masa lalunya walaupun banyak laki laki tampan yang selalu mendekatinya.
sekarang, bahkan laki laki itu sama sekali tidak ia kenal namun ntah mengapa seolah olah laki laki itu selalu berlarian di kepalanya, seperti memintanya untuk selali mengingat wajahnya.
“duh gilak gue” senja menggeplak kepalanya pelan untuk menyadarkan diri atas apa yg dipikirkannya tadi.
“stop senja! ngapain sih lo mikirinn hal ga petingg, mending mikirin cerita buat buku baru ajaa” ujarnya menyadarkan diri.
senja merutuki dirinya berulang ulang kali untuk menyadarkannya supaya berhenti memikirkan laki laki itu.
namun alih alih lupa, senja malah semakin gusar, penasaran menguasai pikirannya, siapa pria itu dia merasa tidak asing, namun senja tidak bisa mengingatnya.
“DUHH SIAPA SIHH LOOO!!!” senja berteriak frustasi.
senja menundukkan kepalanya dia atas meja belajarnya sembari berpikir dan mengingat kilas balik.
tenggelam dalam pikirannya senja bahkan tidak sadar bahwa hanphone sedari tadi berbunyi.
ting!
ting!
ting!
dua buah pesan dan satu foto masuk ke handphone senja dari sebuah grup kelasnya, dan ternyata yang mengirim pesan adalah pak ferdi selaku dosen kesayangannya yang akan berhenti mengajar tidak lama lagi.
senja mengambil hanphonenya dan membuka pesan yang terkirim.
“anak anak ku sekalian, supaya kalian bisa lebih akrab dan lebih mengenal dosen baru kalian nanti setelah bapak tidak lagi mengajar”
“bapak akan memberitahukan nama, serta mengirimkan foto dosen baru kalian agar kalian tidak bingun dan sudah tau bahwa itu dosennya”