Pada pagi yang dingin dan sejuk itu, salju ringan turun perlahan di kota kecil Bochum, mengubah pemandangan menjadi lautan putih bersih yang menutupi setiap sudut, termasuk di antaranya atap-atap apartemen, trotoar, dan jalan setapak yang mengarah ke stadion latihan tim cadangan VfL Bochum II. Di lokasi yang dikelilingi oleh bangunan tua dan pepohonan bersalju ini, seorang pemuda bernama Bima berhenti sejenak untuk menghela napas panjang, dan dalam udara dingin yang menggigit, asap putih segera mengepul dari mulutnya, menambah kehangatan. Wajah Bima, memancarkan ekspresi penuh misteri yang terkadang membuat orang sulit menebak perasaannya. Setiap kali berbicara, Bima memiliki kebiasaan unik menggigit bibir bawahnya dengan lembut, seolah sedang mencerna dengan serius setiap kata yang akan diucapkannya terlebih dahulu sebelum benar-benar melepaskannya ke udara. Kebiasaan itu sudah ada sejak ia masih remaja, tetapi belakangan frekuensinya meningkat drastis — dan Bima cukup jujur pada dirinya sendiri untuk mengetahui penyebabnya. Orang yang tidak menyembunyikan apa-apa tidak perlu menimbang kalimatnya sebanyak itu.
Hari ini adalah hari kesepuluh sejak ia mendarat di Jerman.
Sepuluh hari, dan hidupnya sudah memiliki bentuk yang bisa ditebak: bangun pukul setengah enam, sarapan roti gandum dan telur rebus yang rasanya selalu sama, berjalan kaki dua belas menit melewati toko roti yang belum buka dan halte bus yang selalu kosong, lalu tiba di kompleks latihan sebelum siapa pun. Rutinitas itu ia bangun bukan semata karena disiplin, melainkan karena rutinitas adalah satu-satunya benda di negara ini yang tidak menuntut penjelasan darinya.
Salju yang turun pagi itu masih terlalu ringan untuk menempel. Butir-butirnya jatuh, menyentuh aspal, lalu lenyap seolah tidak pernah ada. Bima berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket, dan di kepalanya berputar satu kalimat yang dikirim Clara dua malam lalu dari sebuah kamar sewa di Utrecht:
Clara: “Kamarku menghadap kanal. Setiap pagi ada orang bersepeda lewat, dan aku selalu mikir — dua setengah jam, Bim. Dua setengah jam.”
***
Sesi latihan pagi itu dibuka dengan pengumuman.
Kessler berdiri di depan papan tulis kecil di ruang ganti, dengan spidol di tangan dan topi wol yang ditarik sampai menutupi telinga. Ia menuliskan satu kata di papan — Testspiel — lalu memutar badan menghadap para pemainnya.
“Sabtu. Lawan tim U-23 dari Essen,” katanya, kali ini langsung dalam bahasa Inggris yang patah-patah, tanda bahwa pengumuman itu ditujukan juga kepada satu orang tertentu di ruangan tersebut. “Bukan pertandingan resmi. Tapi ada dua orang dari tim utama yang akan menonton. Jadi jangan ada yang bermain seperti sedang liburan.”
Ia mulai membacakan daftar nama. Bima mendengarkan dengan tangan mengepal di dalam saku celana, dan ketika namanya disebutkan pada urutan keenam belas — bukan sebagai starter, melainkan sebagai pemain cadangan — ada dua perasaan yang datang bersamaan dan saling bertabrakan di dadanya: lega karena namanya ada, dan malu karena ia sempat berharap lebih.
“Enam belas itu bagus,” bisik Marco di sampingnya, seakan bisa membaca isi kepalanya. “Untuk pemain hari kesepuluh, enam belas itu sangat bagus. Aku baru masuk daftar di bulan ketiga.”
“Aku nggak dateng ke sini buat duduk di bangku, Marco.”
“Tidak ada yang datang ke sini untuk duduk di bangku,” jawab Marco sambil mengikat tali sepatunya. “Tapi semua orang mulai dari sana. Kau tahu perbedaan pemain yang naik dan pemain yang hilang? Pemain yang hilang menganggap bangku cadangan itu penghinaan. Pemain yang naik menganggapnya ruang tunggu.”
Latihan hari itu berlangsung di lapangan nomor dua, yang permukaannya lebih keras karena semalaman terkena embun beku. Bima bermain di posisi penyerang bayangan pada sesi permainan kecil, dan untuk pertama kalinya sejak tiba, ia merasakan sesuatu yang mendekati kenyamanan: bola yang datang tidak lagi terasa terlalu cepat, tubuhnya mulai membaca arah lari rekan-rekannya, dan dua kali ia berhasil melepaskan operan terobosan yang membuat Kessler mengangkat alis.
Namun pada menit-menit terakhir, ketika ia melakukan gerakan berputar mendadak untuk melepaskan diri dari bek, lutut kirinya mengirim sinyal yang sudah lama ia hafal. Bukan nyeri. Hanya semacam peringatan, seperti bunyi kayu tua yang berderit sebelum diinjak.
Bima berhenti sepersekian detik.
Sepersekian detik itu cukup bagi bek lawan untuk merebut bola darinya.
“Bima!” teriak Kessler dari pinggir lapangan. “Kau berhenti! Kenapa kau berhenti?”
“Nothing, Coach!” balasnya cepat, terlalu cepat.
Kessler menatapnya beberapa detik lebih lama daripada yang nyaman, lalu meniup peluitnya dan melanjutkan permainan. Namun Bima tahu tatapan itu sudah dicatat di suatu tempat, di dalam kepala seorang pelatih yang sudah dua puluh dua tahun membaca pemain muda.
***
Sore harinya, salju akhirnya benar-benar turun.
Bima duduk di kursi tunggal satu-satunya di kamarnya, dengan kaki diangkat ke atas kardus, es batu yang dibungkus handuk menempel di lutut kirinya. Di layar laptop yang ia sandarkan di meja, wajah Clara muncul: rambut basah karena baru keramas, hoodie kelabu, dan latar belakang dinding putih polos yang belum sempat ditempeli apa pun.
“Kamarmu kosong banget,” kata Bima.
“Aku belum sempat bikin apa-apa. Minggu pertama isinya cuma orientasi, urus izin tinggal, dan nyari tahu kenapa semua orang di sini naik sepeda pas hujan es.” Clara tertawa, tapi tawanya cepat surut. “Bim, aku homesick parah. Dan yang aneh, aku bukan kangen Jakarta. Aku kangen punya orang yang bisa aku ceritain semuanya tanpa harus mikirin urutannya.”
Bima menatap layar itu lama. “Kamu punya. Ini nomornya.”
“Kamu tahu maksudku bukan itu.” Clara menarik lututnya ke dada. “Aku maksudnya orang yang bisa aku ajak jalan sore, terus aku nggak perlu ngecek dulu siapa yang mungkin lihat.”
Ada hening yang panjang. Di luar jendela Bima, salju melewati lampu jalan seperti debu di depan lampu proyektor.
“Sabtu aku ada pertandingan uji coba,” kata Bima akhirnya. “Aku masuk daftar. Cadangan, tapi masuk.”
Wajah Clara langsung berubah. “Bim! Serius?”
“Serius.”
“Aku dateng.”
“Clar—”
“Aku dateng,” ulangnya, kali ini dengan nada yang tidak menyisakan celah untuk dibantah. “Dua setengah jam kereta. Aku bisa berangkat pagi, pulang malam. Nggak ada yang tahu. Nggak ada yang nanya.”
Bima membuka mulut untuk menolak — dan menyadari bahwa yang keluar bukan penolakan, melainkan pertanyaan tentang jadwal kereta.
Di titik itulah, tanpa ia sadari, ia sudah menyerah.
***
Panggilan grup itu datang pada malam Kamis, tanpa peringatan sebelumnya.
Bima baru saja selesai memanaskan sup instan ketika layar ponselnya menyala dengan tiga lingkaran kecil bertumpuk: dirinya, Clara, dan Aiden. Nama grup itu masih sama seperti yang dibuat bertahun-tahun lalu, dengan huruf besar semua dan tanda seru yang berlebihan — TIGA SEKAWAN JANGAN BUBAR!! — nama yang dulu terasa lucu dan sekarang terasa seperti sindiran yang sengaja ditinggalkan seseorang di dalam rumah.
Bima menatap layar itu selama dua deringan penuh sebelum akhirnya menekan tombol hijau.
Wajah Aiden muncul lebih dulu, dengan latar belakang lobi hotel dan koper di sampingnya. Beberapa detik kemudian menyusul wajah Clara, yang jelas-jelas baru saja memperbaiki posisi duduknya dan memasang senyum.
“Akhirnya!” seru Aiden. “Dua orang paling susah dihubungi di dunia. Satu di lapangan, satu di kanal.”
“Lo yang nelepon jam segini,” balas Bima. “Di sini udah jam sembilan malam, Den.”
“Di sini jam tiga sore dan gue baru selesai rapat empat jam. Jadi kita semua menderita.” Aiden tertawa, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera. “Gue punya kabar. Dan gue mau lihat muka kalian pas dengernya, makanya gue nggak chat aja.”
Ada sesuatu di dalam perut Bima yang mengencang.
“Kabar apa?” tanya Clara, suaranya terdengar sangat wajar. Terlalu wajar.
“Gue dapet undangan jadi pembicara di konsultasi teknis WHO. Geneva. Awal bulan depan.” Aiden berhenti sebentar, menikmati jeda itu seperti orang yang sudah lama menunggu kesempatan untuk mengucapkannya. “Yang artinya, gue terbang ke Eropa. Yang artinya…”
Ia melebarkan senyumnya.
“…kita bertiga bakal ada di satu benua yang sama. Buat pertama kalinya seumur hidup, Bim. Dulu gue di Jerman, lo di Amerika. Terus gue balik, lo yang berangkat. Selalu meleset.”
Bima merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada pendengarannya, seperti ketika kepalanya masuk ke dalam air kolam. Ia melihat Clara di kotak sebelah — melihat perempuan itu tersenyum, melihat tangannya naik untuk merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi, gerakan kecil yang hanya dikenali oleh satu orang di panggilan itu sebagai tanda panik.
“Wah,” kata Clara. “Itu… itu bagus banget, Den. Selamat, ya.”
“Belum selesai.” Aiden mengangkat telunjuknya. “Gue udah cek peta. Geneva ke Utrecht itu satu setengah jam naik pesawat. Utrecht ke Bochum dua setengah jam naik kereta. Kalian sadar nggak? Kita bertiga muat dalam satu akhir pekan.”
Hening sepersekian detik yang, bagi dua dari tiga orang di panggilan itu, terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.
“Gue mau nonton lo main, Bim,” lanjut Aiden, suaranya melunak. “Sekali aja. Gue nggak pernah nonton lo main di stadion beneran sejak POPDA. Dan gue mau lihat kampusnya Clara, mau lihat kanal yang katanya bikin dia betah itu.” Ia menggosok tengkuknya. “Gue tau ini kedengeran maksa. Tapi gue punya perasaan aneh belakangan ini. Kayak… kalau gue nggak dateng sekarang, kita bertiga bakal jadi tiga orang yang cuma saling kirim ucapan selamat ulang tahun. Gue nggak mau itu.”
Clara menunduk sedikit, dan Bima tahu persis kenapa: karena kalimat terakhir itu jujur sepenuhnya, dan kejujuran dari Aiden selalu jatuh paling keras.
“Gue usahain,” kata Bima akhirnya. Suaranya keluar lebih serak dari yang ia niatkan. “Jadwal gue belum pasti, Den. Tim cadangan itu jadwalnya bisa berubah tiap minggu.”
“Makanya gue kabarin dari sekarang.” Aiden mengangguk-angguk. “Gue nggak mau ngerepotin. Gue cuma mau ada di sana.”
Setelah beberapa menit obrolan ringan — tentang cuaca, tentang harga makanan, tentang betapa mahalnya kopi di Swiss — panggilan itu berakhir dengan Aiden melambaikan tangan ke kamera seperti anak kecil.
Layar padam.
Bima meletakkan ponselnya di meja dengan sangat hati-hati, seolah benda itu bisa meledak kalau diletakkan terlalu keras.
***
Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini hanya berdua.
Clara tidak mengucapkan halo. Ia langsung berkata, “Aku nggak bisa, Bim.”
“Clar—”
“Aku nggak bisa duduk semeja sama kalian berdua di Eropa dan pura-pura semuanya normal.” Suaranya bergetar. “Di Jakarta kita masih bisa ngatur jarak. Di sini kita nggak punya alasan. Semua deket. Semua satu kereta.”
Bima menutup mata sejenak. “Jadi kamu mau apa?”
“Aku mau kita jujur.” Clara mengucapkannya cepat, seperti orang yang takut kehilangan keberanian di tengah kalimat. “Sebelum dia dateng. Aku nggak mau dia terbang ribuan kilometer buat masuk ke dalam kebohongan yang kita siapin rapi-rapi buat dia.”
“Dan kita ngomongnya lewat video call?” Bima bertanya pelan. “Kita hancurin hidup orang lewat layar tujuh inci, terus dia ditinggal sendirian di kamar hotel di Jakarta?”
Clara terdiam.
“Aku bukan nolak jujur, Clar,” lanjut Bima, dan untuk pertama kalinya suaranya benar-benar lelah. “Aku cuma nggak mau kita ngasih kabar paling menyakitkan dalam hidup dia dengan cara yang paling pengecut. Kalau kita mau jujur, kita jujur di depan mukanya. Kita duduk. Kita biarin dia marah sepuasnya. Itu yang dia berhak dapetin.”
Hening panjang di ujung sana. Lalu terdengar embusan napas.
“Sabtu,” kata Clara akhirnya.
“Sabtu apa?”
“Sabtu aku tetep dateng ke pertandingan kamu. Aku duduk di tribun, kamu nggak usah nyapa aku, nggak usah lihat ke arah aku.” Suaranya bergetar lagi. “Aku cuma mau lihat kamu main sekali — sekali aja, sebelum semuanya berubah dan mungkin kita nggak akan pernah bisa duduk santai lagi. Boleh, Bim?”
Bima menatap salju di luar jendela, yang kini sudah cukup tebal untuk menutupi trotoar di seberang jalan.
“Boleh,” jawabnya.
***
Jumat pagi, sehari sebelum pertandingan, kompleks latihan dibersihkan dari salju sejak pukul enam. Dua orang petugas mendorong mesin penyapu di sepanjang lapangan utama, meninggalkan garis-garis rapi seperti bekas sisir di atas rambut basah. Kessler mengumpulkan seluruh pemain di ruang video selama empat puluh menit, memutar potongan pertandingan tim Essen, menghentikan gambar berkali-kali sambil menunjuk layar dengan pena.
“Bek tengah nomor lima ini lambat berbalik badan,” katanya. “Tapi dia pintar. Dia akan memancingmu keluar posisi lebih dulu, baru menjatuhkanmu. Jangan terpancing di dua puluh menit pertama.”
Bima mencatat semuanya di buku kecil yang selalu ia bawa. Namun ketika ia membaca ulang catatannya sepuluh menit kemudian, ia menemukan bahwa di sela-sela baris taktik itu tangannya menuliskan satu kata yang sama sekali tidak berhubungan, tiga kali, tanpa ia sadari.
Sabtu.
Sabtu. Sabtu.
Di sesi lapangan, ia menjatuhkan dua bola sederhana yang biasanya bisa ia kontrol sambil memejamkan mata. Kessler tidak berteriak kali ini. Pelatih itu hanya memanggilnya ke pinggir lapangan, menyuruhnya minum, lalu berkata dengan suara pelan dalam bahasa Inggris, “Besok bukan pertandingan besar. Tapi bagimu, besok adalah wawancara kerja selama sembilan puluh menit. Jangan bawa apa pun ke dalam sana kecuali dirimu.”
“Ya, Coach.”
“Aku belum selesai.” Kessler menatapnya. “Aku bilang jangan bawa apa pun. Bukan jangan rasakan apa pun. Kalau kau berusaha tidak merasakan, kakimu akan kaku. Rasakan saja, lalu tinggalkan di ruang ganti bersama ponselmu.”
Setelah sesi berakhir, Frau Neubauer memeriksa lutut kirinya selama dua puluh menit di ruang medis: menekan sepanjang garis bekas operasi, memutar tungkainya perlahan ke beberapa arah, mengukur lingkar pahanya dengan pita, lalu mencatat sesuatu di tablet.
“Tidak ada bengkak, tidak ada instabilitas,” katanya akhirnya. “Kau boleh main besok. Empat puluh lima menit, tidak lebih.”
Bima mengembuskan napas panjang. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih.” Perempuan itu melepas sarung tangannya. “Lututmu baik-baik saja. Yang membuatmu berhenti di lapangan kemarin bukan lututmu. Aku sudah menonton rekamannya.”
Di ruang ganti, Marco sedang mengeringkan rambut dengan handuk ketika Bima masuk. Pemain sayap itu melirik sekilas, lalu kembali menatap lokernya.
“Kau tidak tidur semalam,” katanya, bukan sebagai pertanyaan.
“Kenapa semua orang di klub ini merasa berhak baca isi kepala saya?”
“Karena kau menaruh isi kepalamu di muka.” Marco melipat handuknya. “Besok ada dua orang dari tim utama menonton, dan kau memikirkan sesuatu yang bukan bola. Aku tidak akan bertanya apa. Tapi aku akan bilang satu hal, lalu selesai.”
Bima menutup lokernya. “Apa?”
“Apa pun itu, ia tidak akan hilang kalau kau bermain buruk besok. Ia hanya akan bertambah satu.”
***
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia berbaring menatap langit-langit, mendengarkan radiator yang berdetak-detak seperti jam tua, dan memikirkan kalimat Kessler di lapangan yang membeku beberapa hari lalu: lapangan itu tempat yang jujur, ia tidak peduli apa yang kau sembunyikan di luar sana, tapi ia selalu memperlihatkannya.
Pukul satu dini hari, ponselnya menyala di atas meja.
Satu pesan. Dari Aiden.
Aiden: “Bro, gue nggak bisa tidur, kebanyakan kopi. Gue iseng buka aplikasi maskapai.”
Aiden: “Gue majuin tiket gue. Gue berangkat lebih awal, transit Frankfurt, terus lanjut kereta ke Bochum.”
Aiden: “Gue mau nonton uji coba lo hari Sabtu. Jangan kasih tau Clara, ya. Gue mau bikin kejutan buat dia juga nanti.”
Aiden: “Sampai ketemu Sabtu, striker.”
Bima duduk tegak di kasurnya. Ruangan itu terasa berputar pelan.
Ia membaca keempat baris itu sekali lagi, kemudian sekali lagi, seolah dengan mengulangnya ia bisa mengubah susunan hurufnya.
Di luar jendela, salju masih turun, tenang dan rapi, menutupi jalanan Bochum dengan lapisan putih yang bersih dan tidak berdosa — persis seperti permukaan yang selama bertahun-tahun ini mereka bertiga rawat baik-baik, dan yang pada hari Sabtu nanti akan menampung tiga orang di satu tempat yang sama, di satu waktu yang sama, untuk pertama kalinya sejak semua kebohongan itu dimulai.
Bima mengetik satu kata sebagai balasan, menghapusnya, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
Ia tahu ada satu pesan lagi yang harus ia kirim malam itu juga — pesan kepada Clara.
Dan ia tahu, begitu pesan itu terkirim, tidak akan ada lagi jalan untuk mundur.