"Rin, stop! Gue gak bisa, gue capek."
Penolakan Kaisar berhasil. Airin menghentikan aksinya saat itu juga. Airin menghentikan ciumannya, lalu melepas tautan bibir mereka kemudian melerai pelukannya dari tubuh Kaisar.
"Gue kangen lo, Kai! Lo kenapa sih!" sentak Airin, kemudian melipat kedua tangan di depan d**a.
"Bukan gitu. Gue lagi capek. Lo tahu sendiri gue tiap hari lembur, karena Lo ngerengek terus makanya gue iyain buat nemenin Lo pergi cari cincin," dusta Kai lagi.
Airin memutar kedua bola mata malas, bosan mendengar semua penolakan Kaisar. Ia jadi bingung sendiri, padahal ia sudah secantik ini, body bak gitar spanyol, lebih seksi dari adiknya, bahkan memiliki b****g yang besar dan padat, buah d**a yang sintal serta tubuh yang langsing. Tapi itu semua tidak membuat Kai terpancing. Tidak pernah membuat Kai benar - benar menginginkannya. Selama melakukannya dengan Kai, hanya dirinya yang bersemangat. Kai terlihat biasa saja, tidak menggebu, pun tidak berkobar. Hanya bergerak mengikuti apa yang Airin inginkan.
Airin sampai kehabisan cara, tidak mengerti dengan nafsu dan jalan pikiran laki - laki itu. Padahal, banyak laki - laki diluaran sana yang menginginkan dirinya. Apalagi dengan pekerjaan yang sangat mumpuni yaitu seorang model yang sudah tembus internasional dengan tubuh seperti gitar spanyol, membuat para laki - laki selalu belingsatan melihat dirinya. Tapi Kai berbeda dengan laki - laki pada umumnya.
Apakah Kai tidak normal? Tapi itu tidak mungkin. Airin juga seorang pelanggan tetap dan VIP di club malam milik Kai dan keempat temannya yang bernama Nirvana Night's. Seluruh wanita yang pernah menghangatkan ranjang Kai selalu Airin dengar mereka memuji permainan laki - laki yang dijuluki Casanova itu.
Tapi kenapa setiap bermain dengan dirinya Kai seperti tidak b*******h?
"—Itu kenapa gue bilang biar gue aja yang jemput Lo di apart. Karena gue butuh istirahat sebentar. Tapi Lo malah kesini tanpa sepengetahuan gue," Kai melanjutkan ucapannya.
Entah sudah berapa kali Kai berdusta hari ini pada Airin. Bukan lelah pada umumnya yang Kai maksud, tapi lelah karena sudah satu jam lamanya bermain dengan tubuh Krystall dengan berbagai macam gaya. Ini memang sudah Kai rencanakan dari kemarin, bermain dulu dengan Krystall lalu istirahat kemudian menjemput Airin di apartemennya. Tapi wanita satu ini malah merusak rencananya, hingga membuat permainannya tadi kurang syahdu.
"Lo kenapa sih selalu nolak gue?"
Kai menghela napas berat. "Bukan nolak. Kita bisa lakuin nanti. Tapi untuk sekarang gue capek, Rin." Balas Kai berusaha setenang mungkin.
Ini salah satu yang Kaisar tidak sukai dari Airin. Selalu memaksa dan selalu ingin dominan. Padahal wanita itu tahu sendiri Kai tidak menginginkannya, tapi Airin seolah - olah tuli. Wanita itu malah semakin gencar menggoda dirinya.
Kaisar selalu menolak pun bukan tanpa alasan. Bahkan jauh sebelum mengenal Krystall, Airin sudah terlebih dulu mencoba menggoda dirinya. Tapi Kai selalu menolaknya dari awal. Ia tidak menyukai perangai Airin yang menurutnya terlalu membuka diri pada banyak pria.
Alih - alih melakukannya hanya dengan kekasihnya, tapi wanita itu juga melakukannya dengan fotografer, manager, bahkan kliennya di luar negeri sana. Kai tahu semua cerita itu dari David, salah satu sahabatnya yang kebetulan pemilik dari management tempat Airin bernaung.
Bahkan David bercerita pada Kai, Airin juga sempat menggoda sahabatnya itu, tapi karena David sudah menikah dan laki - laki itu tipikal laki - laki setia, tidak seperti Kai. Itulah kenapa Airin gagal menggoda David.
Dan setelah Kai membuktikannya sendiri, pada suatu malam ketika ia berkunjung dengan keempat sahabatnya disana ia melihat Airin tengah meeting dengan fotografernya untuk pemotretan di sebuah majalah, tidak lama setelah itu Airin dan fotografernya berciuman, lalu si fotografer itu membawa Airin ke ruang VIP. Tanpa perlu dijelaskan, Kai yang notabenenya seorang pemain wanita tentu tahu apa yang Airin lakukan hanya berdua dengan laki - laki dewasa disebuah kamar.
Meskipun Kaisar terkenal dengan julukan Casanova di Jakarta, dan suka berganti wanita hanya untuk sekedar menghangatkan ranjangnya, ia tentu pilih - pilih dengan siapa ia mau. Wanita dengan karakter yang seperti Airin benar - benar bukan Kriterianya sama sekali. Meskipun ia playboy, Kaisar jelas memiliki kriteria wanita tersendiri. Tentunya bukan wanita yang terlalu gampang menyerahkan diri pada laki - laki. Ia bermain tentu bukan dengan sembarang wanita. Bahkan seumur hidupnya, laki - laki yang telah menginjak usia 30 tahun ini belum pernah sama sekali menjalin hubungan serius dengan wanita manapun. Ia hanya singgah lalu pergi.
Kalau bukan karena Kai yang lelah dan bosan digoda terus oleh Airin setelah keluarganya menetapkan tanggal tunangan mereka, Kai tidak akan mau bermain dengan wanita itu. Itupun setiap kali bermain dengan Airin, hanya bayangan wajah Krystall saja yang ada di pikirannya. Itulah kenapa, setiap kali main dengan Airin ia seperti tidak menikmati.
"Yaudah, sekarang ganti baju, gue ikut nungguin Lo di dalem kamar."
DEG!
Tidak! Tidak boleh! Airin tidak boleh masuk ke kamar Kaisar, sampai kapanpun tidak boleh! Apalagi saat ini ada Krystall di dalam kamarnya. Kai harus segera mencegah Airin sebelum wanita itu berhasil menyeretnya ke dalam kamar.
Kai melepas pelan genggaman tangan Airin yang hendak menuntun mereka ke dalam kamar, "Lo tunggu disini. Lo tahu sendiri kalau gue gak suka kamar pribadi gue dimasukin siapapun," Bujuk Kai.
Airin mendengkus, "Yaudah, gue nunggu disini. Cepetan!" putus Airin.
Airin melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah menuju sofa, kemudian mendaratkan bokongnya di sofa tempat Kai dan Krystall tadi berbagi peluh.
Huft!
Kaisar menghela napas pelan, "Oke. Gue cuman sebentar, ganti baju terus kita pergi. Tadi gue gak sempat ganti baju karena buru - buru bukain Lo pintu."
Lega. Untuk saat ini Kaisar harus mengalah dan bersifat selembut mungkin supaya Airin menuruti ucapannya untuk tidak masuk ke dalam kamar miliknya.