Gadis berkebangsaan asli Jepang itu nampak memijat pelipisnya dengan keras, mencoba menyingkirkan rasa pusing yang terus merambat ke sela sela otaknya yang takutnya bisa menimbulkan vertigo. Tak jauh berbeda dengan bocah yang berbeda jarak umur cukup jauh darinya itu. Ia bahkan sudah menghantamkan dahinya berkali kali ke meja kerja yang komputernya menampilkan data tak terlalu berguna.
“Bagaimana ini..” rengeknya. Enam belas tahun hidup dengan merasa jenius, tiba tiba dijatuhkan seperti ini membuat harga dirinya cukup remuk meskipun tidak hancur berantakan. Sepertinya ini sudah hari keempat –atau kelima- dimana mereka ada di camp pelatihan ini. Semua yang ada di sana sudah menunjukkan kenaikan perubahan yang signifikan. Hanya mereka berdua saja yang terjebak di ruangan itu, tak memiliki