Dipagi hari yang masih sangat gelap, di diamond hight art school tepatnya diruang khusus latihan anak piano. saat semua ruangan dan kelas masih sepi dan sunyi, tapi ruangan latihan piano khusus anak kelas dua belas satu tidak seperti itu.
karena setiap paginya ada seorang siswa yang sudah berangkat hanya untuk bermain piano. siswa itu bernama ten, dia selalu semangat setiap pagi dan berangkat ketika subuh. lagu yang dimainkan begitu terdengar sedih, namun dia justru menggangkat senyumnya dengan garis lurus.
dulu dia tidak segiat ini untuk berangkat, dulu dia tidak sebegitu suka dengan yang namanya piano bahkan dulu dia lebih sering membolos dari sekolah bagus ini ketimbang mengikuti pelajaran. dulu dia hanyalah laki-laki yang kacau, yang hanya tahu senang-senang saja. mungkin karena sudah merasa memiliki banyak hal karena keluarganya, dia bisa berbuat sesukanya, dia hanya laki-laki yang merasakan satu emosi saja yaitu senang.
namun sepertinya semakin tahun bertambah semakin dia belajar dari apa yang dia perbuat dimasa lalu, sekarang dia bukan hanya bisa merasa senang, sekarang dia bisa merasakan apa itu yang namanya sedih.
kepalanya terangkat menatap kedepan, senyumnya pun semakin lebar dan indah, sampai sekarang pun dia masih bisa melihatnya. bagaimana orang yang dia sayang sedang berdiri di depan piano yang dia mainkan dengan senyum manisnya. bagaimana orang itu menatapnya dengan hangat. ten menghentikan jarinya, matanya hanya fokus menatap khayalan semu itu.
" Kenapa berhenti? " tanya seseorang didepannya dengan suara halus.
" Kamu memang suka seperti itu! berhenti ketika mendekati akhir! " sambungnya lagi dengan wajah merajuk.
ten tesenyum menatap cewek itu dengan indah.
" Aku sengaja agar bisa melihat mu. " ucap ten dengan nada tenang.
" Kamu tahu?, aku rindu dengan omelan mu itu. " sambung ten dengan senyum mirisnya.
cewek didepannya itu mengerutkan alis, membawa tangannya ke pinggang.
" Kenapa? kamu suka aku yah. " godanya dengan mata menyipit, ten tertawa ringan melihat tingkahnya itu.
" Akh! bagaimana yah. sampai sekarang pun aku tidak tahu perasaan ku pada kamu. tapi yang jelas aku selalu merindukan kamu, sampai-sampai aku sangat benci hari libur. " jelas ten.
cewek didepanya hanya menatap dia dengan binggung, mata ten memandangnya dengan kagum seakan khayalannya itu memanglah nyata. namun khayalan tetaplah khayalan cewek didepannya perlahan menghilang bagaikan abu yang ditiup angin. lalu saat seperti itu perlahan air matanya menetes bersamaan dengan senyumnya yang indah. senyuman orang yang merasakan kehilangan, kehilangan salah satu jiwanya. yang sekarang kadang membuat hidupnya merasa kosong.
lee yang sedang berdiri dipintu, hanya menatap tubuh ten dari belakang. dia memasukan tangannya kedalam saku, matanya hanya menatap datar cowok itu dibalik topeng hitamnya. ten yang malang itulah yang ada dibenaknya sekarang. lalu lee kembali menggemut permennya dan pergi meninggalkan ruangan piano yang tadi berisik itu, suarannya membuat lee binggung dan pergi kesana hanya untuk memastikan ruangan piano yang sering digunakan kelasnya memang tidaklah berhantu.
manusia memang suka begitu, saat ada yang benar-benar peduli dengannya dia tidak bisa merasakan kepedulian yang tulus itu. namun, saat kepedulian itu telah hilang justru dia akan merengek sedih dan menyesalinya seumur hidup.
indi menatap sekumpulan kertas itu dan menatap pelaku yang memberikannya. siapa lagi kalau bukan hyunjin, harus indi sesali kenapa sih ketua kelasnya adalah hyunjin. indi hanya menatap cowok yang sedang makan bekal yang dibawanya dari rumah, dia baru tahu juga bahwa hyunjin anak yang cukup diperhatikan orang tuanya bahkan dibawakan bekal dari rumah.
" Apa lihat-lihat? nga boleh minta! "
indi mendengus, lalu kembali mengisi kertas itu. hyunjin memberikan dia formulir mendaftar ekskul dan kelas tambahan karena memang diamond high art school ini mewajibkannya. dia juga baru tahu bahwa sekolah ini juga mewajikan dengan tegas siswanya mengikuti latihan bela diri dan beberapa hal lainnya yang mungkin bisa saja menyita waktunya.
" Hyunjin, kalau ada begitu banyak dipelajari, apa lagi kelas tambahan. apa tidak begitu lelah? " ucap indi dengan wajah sedihnya.
" Jangan mengeluh, Aku tahu kamu bodoh jadi saran ku masuk saja yang benar-benar tipe mu dan memungkinkan bisa mendapatkan nilai yang bagus. karena dengan mengikuti itu semua maka nilai IPK mu akan bertambah. "
indi terdiam mendengar penjelasan hyunjin yang sedang menggerogoti paha ayam. anak ini terlihat tidak selengan jaemin ketika makan. dia justru terlihat seperti bocah.
" Jangan menatap terus, selesaikan tulisannya. " kesal hyunjin.
indi mendengus dan kembali menulis, ya sepertinya otak dia jika disekolah ini mungkin akan sedikit ada peningkatan ketimbang disekolah yang dulu.
" Disekolah mu, siapa yang menjadi emas sekolah. " tanya hyunjin.
indi diam, kira-kira siapa yang selalu menjadi emas sekolahnya yang dulu. selain jaemin, siapa lagi? entahlah indi tidak begitu banyak mengenal siswa-siswa berpengaruh disekolahnya dulu.
" Yang aku kenal hanya jaemin, yang lain aku hanya tahu wajah tapi tidak tahu namanya. " jawab indi, sembari menulis.
" Benarkah, jaemin itu teman mu? "
" Jaemin itu musuh sekaligus teman ku. "
hyunjin terkekeh mendengar ucapan indi ini, sebenarnya mereka itu teman atau musuh dalam selimut.
" Apa ada yang lucu. " sindir indi yang masih sibuk.
" Tidak, aku rasa ucapan mu itu sedikit humor untuk ku. " ucap hyunjin.
" kalau begitu kenapa sekarang kita jadi dekat? " tanya indi binggung.
karena semenjak hari dimana hyunjin mendatanginya mereka lebih sering berbicara, padahal sebelumnya dihari pertama cowok itu bahkan tidak mengajaknya berkenalan.
" Entahlah, memangnya dekat harus ada alasan? " tanya hyunjin.
" Tidak juga, aku memiliki teman kami dekat tanpa alasan, aku saja kadang suka berikir dan binggung sendiri kenapa aku bisa dekat dengan dia. " ucap indi panjang lebar.
" Benarkah, lalu sekarang kalian masih berteman? "
" ya, dia ada di luar kota. kami kadang sesekali memberi kabar melalui email. "
hyujin mengerti, sudah dia duga kan sesuatu yang tanpa alasan justru akan bertahan dengan lama. mata hyunjin melirik orang yang berjalan disebrang, kemudian menatap indi.
" orang itu adalah si emas sekolah. " ucap hyunjin dengan tenang membuat indi yang sedang menulis mau tak mau mengikuti arah tatapan cowok ini.
orang yang dimaksud hyunjin ini adalah seorang cowok yang tidak begitu kurus namun sangat tinggi, potongannya rapih namun harus indi akui memang keren. indi melihatnya seperti melihat jaemin, sama persis namun jaemin tidak begitu memiliki mata setaman cowok itu, bahkan beberapa siswi lain yang dia lewati diam-diam mencuri pandang. indi rasa cowok itu cukup berpengaruh disekolah ini.
" Dia terlihat seperti model. "
hyunjin setuju dengan indi, lucas memang nampak seperti model tapi sayangnya dia adalah anak dikelas biola.
" Namanya lucas, sangat populer karena kepintarannya itu tapi juga sedikit sombong, dia juga seorang ketua kelas. " jelas hyunjin memakan bekalnya.
" Jangan harap kamu bisa mengajaknya berbicara. " imbuh hyunjin.
indi rasa melihat lucas dari jauh saja sudah membuatnya ngeri dan kagum. tapi indi tetaplah indi, dia hanya cukup mengenal tanpa harus dekat. dia harus mengikuti ucapan jaemin untuk sekolah dengan benar, karena hanya dengan kasus kak tyuzu saja sudah membuangnya pusing dan tidak nyaman.
" Aku nga berharap bisa dekat dengan dia. " ucap indi lalu menyerahkan formulirnya.
hyunjin menerima formulir itu dan mengeceknya sedangkan indi mengambil ayam goreng yang masih terisisa satu itu membuat hyunjin hanya mendengus saja.
" Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. taruh kotaknya ditas ku, bisa marah momy ku kalau kotaknya hilang. " jelas hyunjin dan langsung meninggalkan indi begitu saja.
sudah indi duga anak itu akan memerintahnya, ah tapi baiklah nanti saja dia menaruhnya. sekarang yang indi butuhkan hanyalah duduk santai dan mengambil ponselnya untuk menggangu jaemin tersayang.
" Jaemin sedang apa yah. " gumam indi sambil tersenyum.
Yeji menatap indi dari kejahuan, dia memandang anak itu seakan sedang berpikir sesuatu dengan sangat keras. harus yeji akui indi terlihat begitu tenang akan kematian kak tyuzu apa dia tidak merasakan bahwa kasus itu semakin memudar sekarang.
kemudian dia melangkah maju untuk menghampiri indi sambil membawa jus dan makanan yang tadi dia beli di kantin sekolah. walaupun sebenarnya yeji malas melakukan ini tapi dia tetap harus melakukannya dengan sangat terpaksa, mungkin saja nantinya indi akan berguna akan sesuatu jadi yeji harus membuat hubungan baik dengannya walaupun dia juga malas.
BAK!
" Ah maaf-maaf aku tidak sengaja. " ucap seorang siswi yang tiba-tiba saja menabraknya.
" Sial. " ucap yeji dengan wajah kesalnya.
siswi itu menunduk dan menatap ke belakang, wajahnya terlihat sangat pucat dan ketakutan, yeji yang menatap jalan yang dilalui siswi itu. apa yang terjadi kenapa dia terlihat mengerikan.
" Sekali lagi maaf aku harus pergi. " ucapnya dan langsung meninggalkan yeji yang kebinggungan.
" Siswi aneh. " ucap yeji kembali melanjutkan perjalanannya menuju indi.
" Kamu sedang apa? " tanya yeji yang mulai meletakan makananya dimeja, membuat indi yang sedang chatingan dengan jaemin langsung memasukan ponselnya.
" Hah ya? tidak apa-apa, hanya sedang chatingan dengan teman. " ucap indi dengan terkejut.
yeji mengerti, apapun yang dilakukan anak itu sungguh yeji tidak peduli.
" Ini, aku melewati kantin dan ingat pada mu jadi aku membeli ini. " ucap yeji memajukan makanan dan jus yang dia beli.
" Untuk aku?, yeji kamu baik sekali. " puji indi dengan senyum manisnya.
" indi. "ucap yeji.
" Ya? "
dia gelisah, diam-diam yeji meremas roknya. apa dia harus dia harus membahas tentang kak tyuzu, ah tidak tidak! jika kasus ini memudar maka hidupnya kan jadi tenang bukan.
" Ah tidak jadi. " ucap yeji tersenyum.
yeji sangat aneh sekali menurut indi, apa dia memiliki masalah.
" Kamu mengambil kelas tambahan apa? "
" Aku mengambil bahasa japan. "
" Owh ya, kalau begitu hari ini kamu harus lembur. karena bahasa jepan dijadwalkan hari ini. "
" Owh ya? aku tidak tahu itu, makasih yeji atas infonya. "
kalau hari ini dia ada kelas tambahan itu berarti, janjinya bertemu dengan jaemin tidak bisa dilakukan. padahal indi sudah senang sekali karena cowok itu mau ditraktir ditempat yang indi mau. tapi yah dia harus fokus sekolah, karena agar bertahan disekolah ini pun memerlukan nilai yang besar, apa lagi indi hanya anak beasiswa.
" Wajah mu itu kenapa indi? apa ada masalah. " tanya yeji, dia sedari tadi melihat raut tidak senang dari wajah cewek ini.
" Ah tidak, aku hanya sedikit sedih. sepertinya waktu main ku akan berkurang sekarang. " ucap indi berusaha terlihat baik-baik saja.
" Jangan sedih seperti itu, semua anak disini juga melakukan itu kok. bahkan sampai jam tiga pagi pun mungkin masih ada yang belajar. " hibur yeji. dia tahu perasaan indi itu, dulu yeji juga merasakannya. indi pasti terkejut karena dulu kan dia hanya siswa disekolah biasa.
-O0O-
setelah sekolah selesai, seperti yang dikatakan yeji tadi ditaman. dia memang harus lembur dan mengikuti kelas bahasa japan dengan perasaan berat hati.
Ini adalah hal pertama kalinya dia mengikuti kelas bahasa asing selain bahasa inggris. biasanya dia hanya belajar secara otodidak saja, indi menatap kertas yang diberikan guru kelas sebelas 3 bahasa japannya. karena indi murid baru dan pengetahaun tentang bahasa jepang masih minim dia harus dia terpaksa harus belajar dikelas sepuluh satu, dimana katanya akan ada senior yang sedang bertugas.
jadi disinilah indi, dia gedung khusus anak kelas sepuluh dan mencari kelas bahasa yang harus dia datangi. menurut peta yang diberikan gurunya sudah benar dilantai satu, tapi dimana kelasnya?
" Eh maaf, kelas bahasa japan satu dimana yah? " tanya indi menghentikan siswi yang akan melewatinya. siswi itu menatap indi dari atas sampai bawah.
" Kamu tahu dimana kelasnya? " tanyanya lagi, lagian indi binggung kenapa sih dia suka sekali dilihat seperti itu. memangnya penampilan indi ini aneh apa, dia kan sudah mandi pagi tadi sebelum kesekolah.
" Owh ya, sorry. Lurus saja lagi kamu akan sampai kok. kelasnya tidak jauh lagi. " balas siswi itu.
" Baiklah, terima kasih ya. " ucap indi, lalu meninggalkan siswi itu yang masih menatapnya. dasar aneh, memangnya tampang dia seperti kriminal apa.
katanya kelasnya tidak jauh lagi, indi membuang napasnya lelah. jalan dari gedung kelas sebelas ke gedung junior itu sangat memelahkan. ternyata sekolah di tempat besar bisa membuatnya kewalahan dan kesal yah kalau seperti ini bisa-bisa betis indi akan menjadi besar.
langkahnya terhenti didepan kelas yang hanya berpintu kaca, indi mengeser pintu itu. lalu semua anak disana menatapnya, ah tidak kenapa indi jadi gugup seperti ini, tidak-tidak ini kamu harus kuat saat ini didepannya hanyalah adik kelas. kamu tidak perlu malu, jadilah diri sendiri.
" Sorry, who are you? "
ucap seorang siswi yang berpenampilan rapih dan anggun itu, cantik sekali wajahnya indi yakin cewek itu anak model.
" Maaf menggangu waktu belajar kalian, aku hanya mengikuti apa yang disuruh guru disini. " ucap indi memberikan kertas itu pada anak yang bertanya tadi.
seulgi menerima kertas indi dan membacanya, kemudian menatap indi dengan malas.
" Lucas, ini untuk kamu. " dia mendekati meja dan memberian kertas itu pada orang yang dia panggil lucas.
cowok itu menatap kertas yang diterimanya, lalu menatap siapa anak yang tidak sopan memasuki kelasnya tanpa mengetuk dulu. badan indi menjadi kaku bahkan binggung harus melakukan apa, karena cowok yang sedang duduk dikursi yang sudah tahu itu adalah kursi guru, memandangnya dengan tatapan tenang namun tajam. tunggu sepetinya dia tidak asing dengan wajah tampan cowok ini. indi menyipitkan matanya menatap cowok itu, membuat lucas mendengus kesal karena anak itu tidak sadar akan sikap tidak sopannya itu.
seulgi berdehem, sudah dia duga lucas pasti sedang kesal, terbukti cowok itu langsung membuang pandangan. seulgi berjalan mendekati indi dengan malas.
" Sepertinya, mood lucas sedang tidak bagus, lebih baik kamu keluar saja. " ucap seulgi dengan nada pelan.
indi melototkan matanya, apa katanya tadi dia keluar saja? apa-apan itu. dia sudah lelah berjalan mencari kelas ini dan indi malah disuruh keluar. memangnya apa hubungan dia dengan cowok ini, kenapa dia tidak bisa belajar sekarang.
" Tunggu, kenapa aku harus keluar. bukankah kelas japan hari ini, aku sudah berusaha loh cari kelas ini. " ucap indi dengan nada sedikit keatas.
" Aku bilang keluar saja, dari pada kamu mendapatkan masalah nanti. " ucap seulgi sedikit kasar.
indi mengembungkan pipinya, baiklah kalau dia harus keluar sekarang. lagian siapa yang berniat belajar keras hari ini, lebih baik dia pergi saja dan bermain dengan jaemin. kalau tahu seperti ini lebih baik ini langsung pulang saja jadi tidak perlu membuang tenaga dengan percuma.
" Baiklah. " ucap indi berusaha tenang lalu keluar dari kelas ini.
indi berjalan dengan cepat, dasar kakak kelas mentang-mentang jadi pengajar, sesukanya ngusir orang yang sudah berniat masuk kelas yah walaupun setengah hati sih. tapi kan seharusnya mereka tahu kalau berjalan dari gedung kelasnya sampai sana sangat jauh dan melelahkan. Argg! kenapa sih parkirannya juga jauh, tambah kesal saja.
langkah indi berhenti dia menatap binggung disebuah lorong yang tidak begitu terang, entah lorong yang akan menghubungkan kemana. tapi dia bisa melihat beberapa anak mengelilingi seorang siswi, apa yang sedang mereka lakukan.
" kamu merekam kami kan?! "
" Aku tidak merekamnya. "
" Tunggu, itu benar kamu? woahh berani sekali. "
" Hoy, seharusnya kamu sadar. berani sekali kamu merekam kami. "
indi memajukan langkahnya, dia bersandar di sebuah dinding untuk bersembunyi. apa yang mereka katakan tadi, nada suaranya juga sedikit keras dan menekan. apa siswi yang di gerumbuli itu sedang dibully, tapi apa tadi mereka membahas rekam, rekaman apa?. indi terdiam dan semakin menajamkan telinganya, jujur saja dia memang ingin tahu.
" Ambil ponselnya. " ucap satu siswi, membuat cowok yang disebelahnya langsung menggambil tas anak itu dan mencari barang yang harus ditemukan.
" Biar aku saja yang cek. " ucap si cowok mengotak atik isi ponsel.
" Dengarkan aku! jangan berani lagi kamu mencampuri urusan kami!. "
" Benar! kamu ingin sok jadi super hero seperti itu?!. " bentak cewek satunya dengan mengampar pelan wajah siswi itu.
" Ketemu, dia merekamnya." ucap si cowok.
cewek itu mengertakan giginya, anak didepannya ini benar-benar si sialan b******n. dia menarik rambut siswi itu dengan kuat membuat anak yang dijambak hanya meringis kesakitan.
" Katakan, apa kamu sudah melaporkannya!!" ucapnya dengan nada membentak.
" Tidak akh!, aku tidak melaporkannya. " balas anak itu kesakitan.
" Bawa dia ketoilet, kita harus memberinnya hukuman karena sudah berani mencampuri urusan kita. " ucapnya dan mereka mulai menyeret siswi yang sudah memberontak itu. dia tahu bahwa nasibnya sangat sial hari ini, dia juga takut hukuman apa yang akan diberikan mereka padanya.
badan indi reflek maju, apa-apan itu. apa yang terjadi dan apa yang akan mereka lakukan pada anak itu.
" indi. "
indi membalikan badanya, menatap siapa yang mencekal tangannya.
" Sedang apa kamu disini. " tanya yeji dengan wajah binggung.
hossh ternyata yeji, indi menatap lagi kelorong yang sudah sepi itu.
" Tadi aku rasa ada pembullyan disini, mereka menarik anak ke toilet. " jelas indi dengan nada khawatir.
" Sudahlah jangan pikirkan itu, siapa tahu mereka hanya sedang bercanda. lagian kan dari tadi kamu hanya mendengar. " ucap yeji menengangkan si indi ini.
tapi apa ya, mereka itu hanya bercanda saja, indi tidak yakin, mereka justru terdengar sangat serius. yeji berdehem untuk menarik perhatian anak itu lagi.
" Lagian sekarang jamannya main prank, siapa tahu dilorong sana di pasang kamera. sudahlah palingan mereka itu lagi ngeprank kamu. " jelas yeji.
" Oh ya kamu tidak masuk kelas? " sambungnya.
indi mengdengus mendengarnya, kenapa sih si yeji menggingatkan kembali hal yang menjengkelkan itu. padahal kan tadi dia sudah lupa.
" Aku disuruh keluar. "
" Woah! bagaimana bisa, apa kamu membuat kesalahan. " ucap yeji terkejut.
" Entahlah, aku disuruh keluar karena anak yang bernama lucas moodnya sedang buruk. " jelas indi dengan ekspresi kesal, menggingat bagaimana seulgi menyuruhnya keluar.
" Kalau begitu, kamu akan kemana sekarang? "
" Aku mau pulang saja, kalau begitu aku pergi dulu yah yeji. " ucap indi berjalan pergi menjauh dari yeji. dia sudah kesal dan harus mengistirahatkan badannya.
yeji memandang indi dengan intens, lalu membuang napasnya lega. untung saja anak itu dapat dialihkan, dia menatap lorong yang dimaksud ini. dari awal dia sudah mengawasi si indi, untung saja dia bisa mencekalnya kalau tidak mungkin dia akan kena masalah lagi. lagian kenapa sih anak itu suka sekali ingin mencampuri urusan orang, apa tidak cukup dengan kasus kak tyuzu. entahlah apapun itu pembullyan dan lainnya selagi yeji tidak menyangkut dirinya dia tidak peduli.
indi memasang helmnya, dia sudah lelah dan lapar. kelas tambahan sungguh menjengkelkan untuknya. kesan pertama melihat cowok tampan itu sangat menyebalkan, percuma saja tampan kalau wajahnya saja judes dan berbelas kasih padanya. indi mulai menyalakan motornya, dia akan bersiap pergi.
sedangkan disebrang sana tak jauh dari tempat ini, terlihat lucas yang berlari dengan cepat, wajahnya pun terlihat sangat merah.
" Woah, bukankah itu si lucas? " kaget indi menatap kesepion motornya, dia kemudian memutar badan, benar saja dicowok itu. tunggu kenapa wajahnya memerah dan dia lari seperti itu? apa lucas berlari kearahnya.
indi menahan napasnya, gila kalau sampai cowok itu benar-benar mendatanginnya. dia sudah lelah dan ingin pulang saja. indi mulai mengegas motornya dan pergi begitu saja, membuat lucas yang hampir mencapainya hanya bisa menarik napas dengan cepat, gila saja lucas baru pertama kali mengalami ini.
" Sialan. " kesal lucas menarik napasnya.
lucas menatap tajam tubuh indi yang mulai keluar dari gerbang degan motornya itu, anak ini sepertinya tidak sadar akan kesalahannya. dan seulgi kan menyuruhnya keluar kelas bukan bermasud menyuruhnya pulang, lihat saja dia pikir bisa lari dari kelasnya?
lucas menatap kertas yang diberikan seulgi tadi, nama anak itu indi, baiklah indi kita lihat bagaimana bisa kamu lari lagi dari pelajarannya. lucas meremas kertas itu.
" Kita lihat apa kamu masih berani membolos kelas tambahan. indi? " ucap lucas dengan suara tegasnya.
dia menarik sesuatu di sakunya, menekan sebuah tombol yaitu kunci mobilnya. kemudian berlari kearah gerbang, dimana sebuah mobil tanpa pengendara juga menuju gerbang. yah mobilnya cukup canggih bukan, cukup menekan tombol maka mobilnya akan datang sendiri mengamhampirinya. lupakan itu, sekarang dia harus mengejar anak yang sudah berani membolos kelasnya.
TBC