Alea dan Maxi saling menatap mengatakan nama itu secara bersamaan. Mereka baru menyadari bahwa selama ini hanya Felix yang selalu menempel pada keluarga mereka.
"Apa kakak memikirkan hal yang sama?" tanya Alea.
"Benar Le, kakak selalu merasa ada yang aneh dengannya" balas Maxi.
"Bagaimana kalau kita ajak Sean untuk kembali bertemu"
"Untuk apa"
"Untuk membicarakan semuanya, jadi keluarga kita akan membaik seperti dulu" jelas Alea.
"Kakak tidak mau"
"Kenapa ka"
"Dia penyebab-"
"Dia bukan penyebab orang tua kita meninggal ka, kita harus konfirmasi dengan Sean, agar semuanya jelas. Selain itu"
"Apa?"
"Aku mulai menyukainya ka" ucap Alea dengan memasang wajah malunya.
"Lalu Felix? dia tunangan mu"
"Tapi kan ka, kita tidak tahu apa yang terjadi"
"Yasudah terserah kamu saja"
"Kalau begitu aku akan pergi menemui Sean"
"Kamu itu baru saja kakak bebaskan dari penculikkan, kenapa malah mau kesana" kesal Maxi.
"Hmm" cemberut Alea.
Maxi memanggil pelayan disana, ia memesan makanan karena belum memakan apapun dari pagi.
Sementara disisi lain, ada seseorang yang sudah memperhatikan mereka saat Sean datang.
Benar sekali, kini Felix sedang berada disana. Tangannya mengepal mendengar apa yang mereka perbincangan.
"Hallo" ucap Felix meletakkan ponsel miliknya pada telinga kanannya.
"Kita mulai saja sekarang" sambungnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
...
Hari sudah menunjukan waktunya makan siang.
Felix yang merupakan tangan kanan Maxi terus berada di sampingnya. Kali ini Maxi selalu memperhatikan pergerakkan Felix. Ia benar-benar curiga pada Felix.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Felix.
"Tidak papa"
"Bagaimana dengan Alea?" tanya Felix.
"Dia sudah di rumah, dia baik-baik saja"
"Baguslah"
"Hm"
"Kau boleh makan siang lebih dulu, aku akan menyusul" jelas Maxi.
"Baik" balas Felix.
Tak lama dari itu, ponsel Felix berdering, ia berjalan keluar dari ruangan Maxi.
Maxi yang melihat Felix sedikit merasa aneh, ia mulai beranjak dari duduknya untuk mengikuti Felix.
"Lakukan sekarang, dia berada di dalam kamarnya" ucap Felix membuat Maxi langsung terpikirkan sang adik.
Maxi segera berbalik untuk pergi dari perusahan, namun sayang sekali ia menabrak tempat sampah membuat Felix menoleh ke arahnya.
"Maxi?" pekik Felix.
"Apa yang kau lakukan" tanya Maxi.
Wajah Felix yang awalnya terkejut, kini ia menyunggingkan senyumnya.
Hari ini Maxi benar-benar melihat dua sisi yang berbeda dari Felix.
"Aku sudah mendengar semua percakapan antara kau dan Le" jelas Felix.
Mendengar kalimat itu Maxi segera berbalik untuk pulang dan melihat keadaan Alea.
"Jika kau berani melangkah lagi, maka Le akan berada dalam bahaya" ucap Felix menghentikan langkah Maxi.
Bug!
Maxi kembali dan memukul Felix, saat ini dirinya sangat marah.
"Apa yang akan kau lakukan padanya!" teriak Maxi meraih kerah kemeja Felix.
"Tenang saja, selama kau menuruti semua permintaan ku, maka dia akan baik-baik saja" balas Felix menghempaskan tangan Maxi.
"Apa maumu"
"Adakan rapat seluruh departemen"
"Tidak bisa"
"Baiklah" ucap Felix merogoh ponsel miliknya.
"Ok. Kita akan mengadakan rapat" potong Maxi.
Maxi berjalan menuju meja sekretarisnya, ia meminta agar memberitahukan bahwa hari ini akan diadakan rapat.
Felix tersenyum puas melihat Maxi melakukan apa yang ia inginkan.
Maxi yang melihat Felix tersenyum hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan" pikir Maxi.
Ia benar-benar bingung harus memberitahu siapa tentang Alea, karena selama ini orang yang selalu membantunya hanyalah Felix.
Tiba-tiba saja dipikiran Maxi terlintas wajah Sean. Dalam keadaan yang seperti ini entah kenapa hanya dia yang muncul.
Mau tak mau Maxi mengirim pesan pada Sean, ia melupakan rasa gengsinya demi keselamatan Alea.
Sementara itu, Alea yang masih memainkan laptopnya mendengar ketukan pintu.
"Ada apa bi" teriak Alea.
Tidak ada jawaban, dan suara ketukan itu terdengar lagi.
(Ada apa, kenapa bibi tidak membuka pintunya) pikir Alea.
"Bi?" panggil Alea mendekat ke arah pintu.
Klek
Alea membuka pintunya, lalu tak lama sebuah lipatan kain kecil mendarat dihidungnya. Alea sedikit memberontak lalu tak lama Alea pura-pura pingsan agar kain itu segera terlepas.
(Siapa mereka, untunglah dengan cepat aku menahan nafasku) gumam hati Alea.
Ia merasa curiga saat tidak mendengar jawaban bibi, oleh karena itu Alea membuka pintu dengan menahan nafasnya.
Benar saja, ada seseorang yang langsung membekap dirinya. Alea berusaha untuk tidak menarik nafas agar bius itu tidak terhisap.
(Ahh, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang ingin menculikku) pikir Alea.
Disisi lain Sean membuka layar ponselnya, ia melihat sebuah pesan masuk.
"Sean, untuk kali ini tolong selamatkan Le"
Kalimat itulah yang tertulis dalam pesan tersebut.
Hal itu sontak membuat Sean segera berdiri dari duduknya.
Tanpa berlama-lama, ia mulai berjalan keluar memasuki mobil miliknya. Sean menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan terbilang tinggi. Saat ini hatinya benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Alea.
Hanya membutuhkan beberapa menit Sean sudah sampai di rumah Alea. Tanpa mengetuk pintu Sean langsung memasuki rumah itu.
"Alea" teriak Sean.
Tidak ada jawaban apapun, dan ini membuat Sean semakin khawatir.
Sean hendak menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti kala mendengar sedikit suara dari arah kanan.
Ia menoleh, dan ternyata itu adalah bibi. Keadaannya sudah terikat tali dan mulut yang di lakban. Wajahnya juga terlihat sangat panik.
"Biar saya bantu" ucap Sean melepas tali yang mengikat nya.
"Terimakasih" ucap ibu setelah talinya terlepas.
"Apa yang terjadi? dan dimana Alea?" tanya Sean.
"Alea?" pekik sang bibi yang merasa bahwa di rumah ini tidak ada yang bernama Alea.
"Lesandra, maksud saya Lesandra" jelas Sean.
"Oh iya tolong nona Lesandra di culik oleh tiga orang laki-laki. Pakaiannya berwarna serba hitam" panik bini.
"Sial aku terlambat" ucap Sean.
Sean merogoh saku jas nya ia meminta Jamsh untuk mengirim orang mencari keberadaan Alea.
^Perusahaan Baker (Maxi)
Kini semua departemen sudah berkumpul disana. Termasuk Maxi dan Felix.
Felix tersenyum dengan puas, ia mulai berjalan dan berdiri di depan untuk mengatakan sesuatu.
"Hallo selamat siang semuanya" ucap Felix.
"Cih" dengkus Maxi yang merasa kesal melihat tingkah Felix.
"Dengarkan semuanya, mulai hari ini saham dan perusahaan ini adalah milik saya dan dibawah kepemimpinan saya" jelas Felix membuat heboh satu ruangan termasuk Maxi yang terkejut dengan pernyataan Felix.
"Felix! apa maksudmu" ucap Maxi tidak terima.
Felix masih memasang senyumnya, ia menekan sebuah tombol hingga muncul gambar di depan layar yang terbilang cukup besar.
"Ini adalah bukti bahwa sekarang saya adalah presdir perusahaan ini" ucap Felix.
Lagi-lagi Maxi terkejut. Bagaimana mungkin dokumen itu ada di tangan Felix. Selain itu, tanda tangan dirinya juga ada di dalam sana.
"Apa ini! kau telah merampokku" sanggah Maxi.
"Benar, itu benar" ucap para pemimpin departemen lainnya.
"Jika saya merampok, tidak mungkin ada tanda tangan Maxi. Benar bukan?" balas Felix menggerakkan ponsel yang ada di tangannya seolah memberi kode bahwa jika Maxi terus menyanggahnya Alea yang akan menjadi taruhannya.