"Siapa?" tanya Alea sedikit keras dan berbalik.
"Sean?" panggil Alea yang sebenarnya ia yakin itu bukanlah suara Sean.
Pak .. pak .. pak
Suara langkah kaki menggema di gang gelap yang berukuran kecil itu.
Alea memundurkan langkahnya, kini tangannya mengepal dengan kuat. Ia mencoba mengatur nafasnya untuk tetap tenang. Meski perlahan suara itu semakin dekat.
"Owh ternyata jika dilihat dengan baik wajah cantiknya terlihat sangat jelas" ucap salah satu lelaki yang muncul dari arah yang gelap.
"Benar sekali bos" timpal lelaki yang berada di belakangnya.
"Siapa kalian?" tanya Alea melihat lima orang berpakaian seperti preman.
"Tenang cantik, mari kita bermain-main lebih dulu" ucap ketua dari sekawanan orang itu.
Tidak ada cara lain, dengan cepat Alea memilih untuk berlari sejauh mungkin dan secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
"Kejar dia, jangan sampai lolos"
Mereka segera mengejar Alea dengan langkah yang lebih cepat.
Alea yang menyadari bahwa mereka mengejarnya semakin mempercepat langkahnya hingga nafas Alea mulai tersenggal-senggal, dirinya sudah cukup lelah berlari. Langkahnya semakin lama semakin melambat. Namun ketakutannya semakin kuat begitu juga keringat yang ia keluarkan semakin banyak.
Bruk!
Alea menabrak seseorang yang ada dihadapannya. Ia menghentikan langkahnya melihat siapa orang yang menghalangi jalannya.
"Sean" lirih Alea.
Entah kenapa ada rasa bahagia di dalam hatinya kala melihat sosok lelaki itu.
Sean menunduk, ia menatap dalam pada gadis yang ada dihadapannya. Terlihat sepasang bola mata yang berbinar pada gadis itu. Apalagi ketika melihat kedua bola mata dengan warna berbeda membuat siapapun yang melihatnya akan terhipnotis.
"Wahhh, ada pahlawan kemaleman nih" ucap salah satu kawanan pria bertato dan bertubuh besar.
Sean mengalihkan pandangannya, ia melihat ke arah asal suara.
Tangannya mulai bergerak meraih tangan Alea. Ia menarik gadis itu dan menyembunyikannya di belakang tubuh gagahnya membuat Alea terus menatap lelaki yang kini sudah ada dihadapnnya.
"Jangan ganggu, pergi kalian semua" tegas Sean masih memasang ekspresi tenangnya.
Nyali sang lawan sedikit menciut kala mendengar kalimat yang dilontarkan Sean dengan begitu tegas dan tenang.
"Ti-tidak bisa. Serahkan gadis itu pada kami"
"Dia milikku, kalian tidak bisa menyentuhnya" balas Sean.
Deg!
Entah apa yang terjadi, seperti ada suara dentuman keras di hati Alea. Dentuman itu semakin jelas dan semakin cepat.
Perlahan tanpa ia sadari, bibirnya mulai melengkungkan sebuah senyuman manis. Hatinya merasa senang kala mendengar kalimat yang dikatakan oleh Sean. Padahal mereka belum lama bertemu, namun sepertinya Alea mulai menyukai lelaki yang ada dihadapannya.
"Cih, membuatku kesal saja. Serang" ucap ketua geng tersebut.
Mendengar perintah tersebut, empat anak buahnya mulai berlari menyerang Sean.
Perkelahian terjadi cukup sengit, satu lawan empat sekaligus. Membuat Alea sedikit khawatir.
Bug ... bug ... bug
Sean berhasil mengalahkan tiga preman itu, sekarang tersisa satu preman lagi yang harus ia bereskan.
"Ini waktu yang tepat" ucap ketua geng lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil.
"Pisau" gumam Alea yang melihat ketua geng berjalan dari arah belakang tubuh Sean.
"Awas!!"
Ssseeetttt....
Alea menahan pisau tersebut dengan kedua tangannya sekuat mungkin yang sedikit lagi akan menusuk punggung belakang tubuh lelaki itu
Sean berbalik, ia segera menendang lelaki itu hingga terpental cukup keras. Tak lupa ia juga membereskan satu orang lainnya.
"Alea" panggil Sean.
"Sean apa kamu tidak apa-apa?" tanya Alea tanpa memperdulikan tangannya yang terus mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan" ucap Sean memegang pundak Alea.
"Awass!!"
Lagi-lagi Alea mengorbankan dirinya dengan memutar tubuhnya dengan tubuh Sean.
Besi yang entah datangnya dari mana berhasil menghantam dengan keras punggung Alea.
Bug!
Hening....
Sean sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alea. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu akan melakukan hal seperti ini.
"Sean, aku senang kamu tidak terluka" ucap Alea sangat pelan, hingga tak lama kuntup matanya perlahan mulai menutup dan tak sadarkan diri.
"Lea, Alea" panggil Sean menahan tubuh gadis itu yang sudah tak sadarkan diri.
"Kau harus baik-baik saja" ucap Sean lalu menggendong Alea membawanya ke dalam mobil.
Sebelum melajukan mobilnya, Sean memanggil Jamshon dan memintanya untuk mencari orang yang telah melakukan aksi malam ini.
Sedangkan orang yang telah memukul Alea, segera berlari untuk bersembunyi. Karena ia tahu, bahwa Sean tidak akan tinggal diam atas apa yang telah dilakukannya malam ini.
Sean melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ia melihat Alea yang terbaring lemah dengan wajah yang semakin pucat dan darah yang terus mengalir.
"Bertahanlah" gumam Sean semakin menambah kecepatan laju mobilnya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Sean mengangkat tubuh Alea dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Leo cepat tolong dia" pinta Sean dengan membaringkan tubuh Alea pada ranjang.
"Tunggulah sebentar diluar, aku akan memeriksanya" balas Leo mendapat anggukan Sean.
Sean berjalan keluar ruangan meninggalkan Leo bersama beberapa suster lainnya.
...
Perkenalan seulas.
Leo, atau nama lengkapnya Leonard Horowitz Deacon. Dia adalah adik laki-laki Sean dengan profesi sebagai dokter.
Benar sekali, rumah sakit ini adalah rumah sakit keluarga Deacon yang dipimpin oleh Leo. Awalnya rumah sakit ini tidak begitu besar. Namun setelah bergabungnya Leo, rumah sakit ini menjadi lebih besar dan selalu menjadi rujukan bagi rumah sakit manapun karena medisnya yang lengkap juga selalu memberikan yang terbaik.
Bahkan, sekarang Leo juga tengah mendirikan sebuah rumah sakit baru di wilayah lain yang sebentar lagi selesai.
Leo mengikuti jejak ibunya, yaitu ahli dalam pengobatan atau medis. Berbeda dengan Sean, ia lebih unggul dalam mengurus perusahaan mengikuti jejak ayahnya.
Ibu mereka bernama Irene Yovanca, sedangkan ayah mereka bernama Hansson Bratanica Deacon.
Sean mengurus perusahaan Deacon, ia meneruskan perusahaan keluarga mereka. Dibawah pimpinannya, perusahaan Deacon.group telah menjulang tinggi dan banyak di segani oleh perusahaan lainnya. Bahkan, para investor sangat tertarik dan ingin bekerja sama dengan perusahaan Deacon.group yang selalu memberikan keuntungan dan kesuksesan yang memuaskan.
Tak hanya itu, Sean juga mempunyai beberapa anak perusahaan kecil lainnya yang ia dirikan sendiri namun hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.
Kedua orang tua mereka sudah meninggal, terkadang ia tinggal di kediaman Deacon bersama adiknya dan neneknya atau tinggal sendirian di apartemen miliknya.
Sedangkan Leon, ia selalu menginap di kediaman menemani sang nenek.
...
Kembali ke rumah sakit....
Leo memeriksa keadaan Alea dengan dibantu oleh beberapa suster lainnya.
Darah yang ada di tangannya mulai di bersihkan dan di balut dengan rapih. Tak lupa mereka juga memasang infusan untuk membantu pemulihan Alea.
Beberapa menit sudah berlalu, Leon dan yang lainnya sudah selesai mengobati Alea.
"Sudah selesai semuanya dok" ucap salah satu suster.
"Baik" ucap Leon yang hendak pergi.
"Jangan pergi" lirih Alea membuat Leon menghentikan langkahnya.
"Suara itu...."