"Saat ini… gue sangat takut sekali untuk menyebut nama itu sekarang," kata Ros bergetar. Air matanya masih mengalir. "Tapi satu-satunya yang bisa gue tanya karena sudah bersama gue sejak kecil, ya memang cuma dia." Wajah Ros juga merah sebab ada emosi yang tertahan. Kedua rahangnya mengeras karena menahan perasaannya.
"Saat ini kami aja nggak sanggup bayangin jika itu bener, apalagi lo. Gue tahu lo pasti ketakutan dan bingung banget harus ngapain sekarang." Ayla mencoba memberi dukungan dan menyabarkan sahabatnya. "Tapi lo punya gue, Ros, punya ibu dan ayah. Ada Gagah dan Taji juga yang bakal bantu lo," lanjutnya. "Lo nggak sendirian kok, Ros."
Ros menoleh pada Ayla dan mengangguk. “Untungnya gue punya kalian,” kata gadis itu. Kepalanya tertunduk sesaat dan mendongak kembali. “Oke, ini h