Jay Ahito, seorang siswa kelas 2 SMA yang kesehariannya sama seperti murid-murid lainnya. Hari Senin yang cerah dengan murid baru kelas 1 SMA dan upacara penerimaan. Setelah kegiatan upacara penerimaan berakhir hari itu, aku membawa diriku menuju ke ruang klub sastra dan menghabiskan tak kurang dari satu jam untuk mengubur diriku dalam sebuah buku. Setelah itu, aku mengemasi barang-barangku dan keluar dari sekolah. Jika aku terlambat beberapa menit saja, mungkin kami tidak akan bertemu.
Bunuh diri.
Menurut kamus definisi nya adalah “Tindakan sengaja mengakhiri hidup sendiri."
Hari itu.
Langit sangat cerah, bersih dan berwarna biru.
Aku kebetulan melihat ke arah gedung kosong di belakang sekolah dan aku melihat seorang cewe di atap. Seorang cewe yang terlihat mempesona dalam balutan kacamata. Aku menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ketika aku melihat dasi yang dipakainya, aku tahu dari warnanya bahwa dia adalah siswa tahun pertama. Dia sudah berdiri di sana dengan ekspresi kosong di wajahnya. Jika dia mengambil langkah maju, gravitasi akan mengambil alih dan mengirimnya meluncur ke tanah. Dia berada di tempat yang berbahaya.
Seharusnya pemeran utama seperti diriku memilih untuk membiarkan cerita berjalan dengan sendirinya, Meski begitu, entah mengapa di saat itu aku tidak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi. Aku langsung melemparkan tasku dan pergi menuju atap gedung kosong tersebut. Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan kata-kata yang pas untuk situasi seperti ini,
"Ah...hey, melompat dari ketinggian seperti ini bukanlah tindakan yang baik,"
"Semua orang pasti memiliki masalah nya masing-masing, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya!"
"Pokoknya, seseorang sepertimu yang sangat menawan ketika memakai kacamata ... tidak boleh mati konyol!" tapi aku malah melontarkan kata-kata yang berasal dari dorongan hati tulus ku, dan pada akhirnya aku mengatakan satu hal terakhir.
"Dengan kata lain aku sangat menyukai kacamata!"
"Dasar aneh," jawabnya. Itu dengan penolakan
Dia berlari ke arah ku dengan memunculkan sebuah pedang dari udara, karena aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku hanya berdiam diri di sana dan menatapnya. Dia berdiri di hadapan ku sembari memegang pedang berwarna hitam-gelap, lalu dia mengayunkan pedang nya dan menusuk jantungku hingga tembus.
"aaghhhhh..," aku berteriak kesakitan
Darah bercucuran dari jantung ku, hingga melumuri tangan cewe cantik berkacamata itu
"K-kau seharusnya tidak datang kesini!," ucap cewe cantik tersebut
Aku yang menahan rasa sakit itu, memohon untuk melepaskan pedang nya dari jantung ku
"H-hey apakah kau bisa mencabut pedang ini dari jantung ku, aku mohon," ucap diriku yang tak berdaya sambil menahan rasa sakit tersebut.
cewe cantik berkacamata tersebut terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi.
"S-sebenarnya kamu itu mahluk apa?" bertanya sembari berekspresi kebingungan,
" manusia biasa pasti akan langsung mati jika di tusuk titik vital nya!, tapi kenapa kau masih bisa bertahan?!"
"Aku pun punya banyak pertanyaan untukmu"
Dan begitulah awal pertemuanku dengan Muthia Akira, jika hubungan kami hanya sampai disini, maka tak akan ada cerita yang mengisahkan kami berdua di dunia ini.
"Bisakah mahluk sepertiku mencintaimu?"