Anya berteriak dan menangis terisak. Bertanya tanpa henti kenapa mamanya melakukan itu. Pernikahan mereka dua bulan lagi. Evan telah menekan bel berkali-kali di luar apartemen mencari penjelasan. Tapi mama Anya dengan tegas mengusirnya, mengancam hal itu akan membuatnya semakin marah. Evan pulang dengan perasaan tersiksa.
"Kenapa? Jawab kenapa ma?" Anya bertanya sambil terisak.
"Pria tua bangka itu! Rommy Endratma, dia lelaki b******k!" Teriak mama Anya dengan kemarahan. "Tidak ada yang tidak mengetahui tabiatnya, bermain perempuan!"
"T-tapi Evan nggak begitu, ma," sesak hati Anya.
"Sudahlah Anya, kamu terlalu mudah terlena dengan rayuan pria."
"Mama ... Evan mencintai aku."
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Evan anak dari Endratma? Apa dia membohongimu?"
Anya menggeleng, "Aku sudah