Di sebuah apartemem terlihat wanita cantik yang sedang mondar mandir menata meja agar menyempurnakan kejutan dihari ulang tahunnya ah, iya aneh memang seharusnya tunangannya yang menyiapkan kejutan ini siapa sangka dia yang menyiapkan ulang tahun untuk mengejutan tunangannya.
Dia mutia wijaya, biasa dipanggil tia. Tia tengah asik memikirkan bagaimana ekspresi tunangannya yang terkejut karna dia tiba-tiba ada di apartemennya sedangkan saat di telpon tadi tia sengaja berbohong dan bilang tidak jadi pulang karna harus menemani kakeknya di paris.
"Ah.. aku tidak sabar menunggu rega pulang, aku yakin dia pasti sangat meridukan ku." pikir tia dengan senyum yang selalu menghiasi bibir manisnya sedangkan tangan kecilnya melanjutkan menata wine dan cemilan di meja "dan aku yakin dia akan senang bahwa aku sudah siap menyerahkan perusahan kepadanya toh sebentar lagi kita menikah." Sambung tia dalam hati.
Tiba" terdengar suara langkah kaki dari balik pintu apartemen itu, "ahh itu sepertinya rega." Tebaknya sambil kebingungan haruskah tia bersembunyi atau menyambut langsung rega. "Oke,, baiklah aku akan menyambutnya." Putus tia.
Tapi sudah 10 menit berlalu yang di tunggu tak kunjung membuka pintu akhirnya tia memutuskan untuk membuka pintu "ah,, aku mungkin salah mengira kalau dia rega siapa tau tetangga sebelahkan. Emmm,, baiklah mari ku liat apakah rega atau bukan. Aku takut ada orang iseng." Pikir tia lagi sambil berjalan mendekati pintu.
Dan saat mendekati pintu tia samar" mendengar suara seseorang sedang berbicara dengan manja "sayang,, sampai kapan mau begini aku sudah hamil loh, masa aku harus menunggu sampai anak ini lahir baru kau akan menikahi ku?." Ucap wanita itu dengan sedikit merajuk. "Iya sayang sabar yah toh sebentar lagi kita pasti menikah, kan mama juga sudah memastikan kalau sebelum bayi itu lahir kita sudah menikah." Ucap pria itu menenangkan sambil akan membuka pintu.
Sedangkan tia yang mendengar itu berhenti dan dia sangat mengenali suara itu. Iya itu rega, rega ardian tunangannya yang 5 tahun ini dicintainya sangat dicintainya.
Bagai di sambar petir di siang bolong yang terik ini dia masih memiliki kesadaran untuk tidak melabrak dan meminta penjelasan kepada sepasang kekasih itu dan buru" bersembunyi di lemari dekat pintu yang menghadap ruang tengah apartemen.
Apartemen ini tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil hanya ada 2 kamar yang berdekatan 1 kamar mandi yang dekat dengan dapur dan ruang tengah yang langsung bersebelahan dengan pintu luar.
"Ceklek" suara pintu terbuka terlihat rega sedang mengandeng kekasihnya dengan mesra dan lembut seolah-olah itu barang yang berharga "sabar,, sabar, selalu sabar hanya aku yang harus sabar sedangkan kau selalu asik bermesraan dengan wanita itu dan aku harus selalu bersembunyi." Kata wanita itu. "Hei, tenanglah toh nanti kau tak perlu bersembunyi lagi, ini juga demi dirimu sayang." Jawab rega sambil memeluk pingang ramping wanita itu. "Sampai kapan ga ?"tanya wanita itu. "Kau tau sendiri sayang, sampai tia mau menyerahkan perusahaannya untuk ku, lalu aku janji akan segera meninggalkannya dan menikahimu". Jawab rega.
Dengan sebal si wanita menghentak kakinya dan duduk di sofa sambil membuang muka dia berkata "tak bisakah kau memaksanya saja aku lelah menunggu mu ga ?, atau jangan" kau juga mulai mencintainya dan tidak mau meninggalkannya." Tuduh si wanita itu. "Ahh,, ahh sayang itu tidak mungkin hanya kau yang ku cintai. Aku tak pernah mencintainya sedikitpun." Ucap rega sambil mencium lembut bibir tipis dan merah sang wanita. Dan wanita itu membalasnya dan tersenyum puas.
Sedangkan tia yang mendengar semuanya di balik lemari hanya diam dan tak percaya "apa?, jadi selama ini rega tak pernah mencintai ku ?, tapi mengapa?, bagaimana bisa?," ucapnya sambil menutup mulutnya agar tidak memgeluarkan suara isakan. Sedangkan rega tengah asik mencumbui kekasihnya dan membopongnya masuk ke dalam kamar utama apartemen itu.
"bahkan dia telah tidur dengan wanita itu?. Ah,, iya tentu saja dia menginginkan wanita itu sendangkan diriku dia hanya memanfaatkan ku tega sekali kau rega!" Ucap tia dalam hati sambil menangis melihat adegan tunangannya itu.
Setelah dirasa sepasang kekasih itu tak akan keluar dari kamar lagi tia buru" keluar dari tempat yang menyesakan itu dan segera pergi. Pergi sejauh mungkin dari sana.
Sambil menyeka air matanya dia terus melangkah dengan cepat tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya aneh dan ingin tau. Dan bahkan dia tak memperdulikan hujan yang datang dengan derasnya dia segera berlari tanpa memperdulikan bajunya akan basah yang dia tau hatinya sedang terluka dan kecewa yang sangat amat.
"Bruk" tia terjatuh ke belakang ternyata dia menabrak seseorang yang berjalan kearah berlawanan dengannya "kau tak apa nona ?" Tanya pria itu. "Aku tidak apa-apa, maaf aku buru-buru" jawab tia yang seperti gumaman dan segera pergi menaiki taxi tanpa menunggu seseorang itu menjawabnya atau memastikan apa orang itu mendengar ucapannya atau tidak.