Laut tidak peduli pada gelar.
Itu pelajaran pertama yang diterima Laras Wibisana, dua belas jam setelah kapal kayu Berkah Samudra meninggalkan dermaga kabupaten. Sepanjang malam ia memeluk koper di geladak yang berbau solar dan ikan asin, mual sampai ke ubun-ubun, sementara ombak menampar lambung kapal seperti hendak mengingatkannya bahwa ijazah dokter dengan predikat cumlaude tidak berlaku di tengah Laut Banda. Ia muntah dua kali. Yang kedua, ia tidak sempat mencapai pinggir kapal, dan seorang nelayan tua menyodorkan ember tanpa sepatah kata, lalu kembali mengisap rokoknya menghadap kegelapan.
Menjelang subuh, langit pecah menjadi jingga yang kelewat indah untuk hati yang sepahit dirinya. Garis pulau muncul perlahan di kejauhan—segaris hijau pepohonan kelapa, atap-atap seng yang berkilat tertimpa matahari pertama, dan dermaga kayu yang tampak rapuh dari jarak ini. Pulau Sebaru. Tempat yang sebulan lalu tidak ia ketahui keberadaannya, kini akan menjadi seluruh dunianya untuk dua tahun ke depan.
Ia mengeluarkan lipatan surat keputusan dari saku jaket. Kertasnya sudah lembap oleh udara laut. Dokter PTT, Puskesmas Sebaru. Penempatan terpencil. Di bawahnya, dengan tinta yang mulai luntur, tertera angka masa bakti yang akan menghapus utang beasiswanya pada negara. Dua tahun. Dua tahun yang seharusnya ia habiskan di ruang operasi rumah sakit pendidikan, memegang skalpel, belajar mengikat pembuluh darah dari tangan-tangan terbaik. Bukan di sini. Bukan di pulau yang namanya pun salah dieja petugas dinas.
Ia melipat surat itu kembali. Tidak ada gunanya marah pada kertas.
Kapal merapat dengan benturan keras yang membuat penumpang berpegangan. Begitu papan disandarkan, anak-anak kecil berhamburan menyongsong, berebut menawarkan diri mengangkat barang. Laras menggeleng pada mereka, menjinjing kopernya sendiri menuruni papan yang melengkung di bawah bobotnya. Kakinya menapak tanah—pasir bercampur kerikil karang—dan untuk sesaat tubuhnya masih bergoyang, mengira dunia ini ikut terombang seperti kapal.
Seorang perempuan separuh baya menunggunya di ujung dermaga. Bertubuh kokoh, berkulit gelap matang oleh matahari, mengenakan kerudung sederhana dan tas selempang yang sudah usang. Wajahnya tidak ramah, tidak pula dingin—ia memandang Laras dengan mata yang menilai, mata seseorang yang sudah terlalu sering menyaksikan dokter datang dan pergi.
"Dokter Laras?" Suaranya tenang. "Saya Surti. Bidan di sini."
Laras menjabat tangan yang terulur. Telapak itu kasar, kuat. "Iya, Bu. Maaf saya—" ia menelan ludah, masih merasa mual, "—belum terlalu sehat."
Bu Surti mengangguk seakan itu hal paling wajar di dunia. "Semua dokter baru begitu. Laut Sebaru tidak pernah ramah sama orang kota. Nanti juga terbiasa." Ia mengambil salah satu tas kecil dari tangan Laras tanpa bertanya, lalu berbalik. "Ayo. Puskesmas dekat. Sebelum matahari tinggi, lebih enak jalan."
Mereka menyusuri jalan setapak yang membelah kampung. Rumah-rumah panggung berdinding papan berderet di kiri kanan, dengan jemuran ikan di halaman dan aroma asin yang melekat di mana-mana. Beberapa warga mengangguk pada Bu Surti, melirik Laras dengan penasaran yang tidak disembunyikan. Seorang nenek menyapa dalam bahasa daerah, dan Bu Surti menyahut akrab, tertawa kecil. Laras tidak mengerti sepatah kata pun, dan untuk pertama kalinya ia merasakan betapa asingnya dirinya di sini—bukan sekadar pendatang, melainkan orang yang bahkan tidak punya bahasa untuk meminta tolong.
"Pulau ini berapa penduduknya, Bu?" tanya Laras, sekadar mengisi sepi.
"Sebaru sendiri sekitar tiga ribu. Tapi kita juga melayani tiga pulau kecil di sekitarnya. Pulau Kambing, Pulau Pasir, sama satu lagi yang cuma ada tujuh kepala keluarga." Bu Surti menyeka keringat di dahinya. "Dulu ada dua bidan sama dua perawat. Sekarang Bidan Mira lagi cuti melahirkan di kampung halamannya, belum balik. Perawat Yanto pindah ikut istrinya. Jadi tinggal saya, sama Andi—perawat. Dan sekarang, Dokter."
Laras menghitung dalam hati. Satu dokter, satu bidan, satu perawat. Untuk ribuan jiwa yang tersebar di laut. Ada sesuatu yang membuat tengkuknya dingin, dan ia memilih tidak memikirkannya dulu.
Puskesmas Sebaru muncul di ujung jalan: bangunan beton satu lantai bercat hijau pudar, dengan papan nama yang catnya mengelupas. Atap sengnya berkarat di beberapa tempat. Di samping bangunan, sebuah generator tua terlindung dalam gubuk kayu, diam membisu. Tidak ada deru kompresor pendingin, tidak ada bip monitor, tidak ada lampu neon yang menyala di siang bolong sekalipun. Hanya sunyi—sunyi yang asing bagi telinga yang terbiasa pada riuh instalasi gawat darurat kota. Laras berdiri di depan pintu dan merasakan kekosongan itu menelannya.
Di dalam, lantainya bersih meski retak di sana-sini. Satu ruang periksa, satu ruang tindakan, dan tiga ranjang rawat inap berderet di ruangan terpisah dengan kelambu yang menguning. Lemari obat di sudut, kaca mukanya berdebu. Bu Surti membuka lemari itu dan Laras melihat barisan kotak obat yang jauh lebih sedikit dari yang ia bayangkan.
"Ini semua?" tanya Laras, tidak sanggup menyembunyikan nada terkejutnya.
"Ini semua," jawab Bu Surti tenang. "Kapal logistik datang seminggu sekali. Kalau cuaca bagus."
Laras belum sempat menjawab ketika suara teriakan memecah pagi. Seorang lelaki muda berlari masuk, kaus basah oleh keringat dan air laut, menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun yang tubuhnya kaku menegang. Mata anak itu mendelik ke atas, kedua tangannya menghentak-hentak tak terkendali, dan dari bibirnya keluar buih keputihan.
"Dokter! Tolong anak saya, Dokter! Dari semalam panasnya tidak turun, terus tadi begini, kaku, matanya—"
Naluri Laras bergerak lebih cepat dari pikirannya. Tubuhnya yang lelah dan mual seketika terlupakan. "Bawa ke ruang tindakan, sekarang. Bu Surti, bantu saya. Miringkan dia." Ia sudah berlari mendahului, jemarinya mencari nadi di leher kecil itu, telapaknya menyentuh dahi yang menyala bak bara.
Di luar, generator tua tiba-tiba menggerung hidup—lalu tersendat, mati, hidup lagi, lampu di langit-langit berkedip dua kali sebelum padam total dan menyala kembali dengan cahaya redup yang gemetar.
Laras menatap lampu yang berkedip itu, lalu menatap anak yang kejang di tangannya, dan ia tahu—dengan kepastian yang dingin—bahwa kerajaannya yang baru baru saja menunjukkan wajah aslinya.